Tuesday, January 29, 2013

Cita-Cita Kecil

Apa cita-cita kecilmu dulu?

Sepertinya pertanyaan ini pernah membuat kita tergelitik untuk membuka memory kecil kita dulu. Kalau saya pasti harus membenturkannya dengan menanyakan kepada anak-anak TK di depan Indekos saya. Nah, dengan begitu saya bisa menyelami dunia masa kecil saya dulu. 

Aneh memang, kawan. Tapi itu cara jitu saya dan mudah-mudahan dapat berefek kepada anda semua yang mau mencoba ide aneh ini. Entah mengapa harus seperti itu. Karena saya selalu memandang mereka begitu bersih dan polos. Pernah suatu ketika saya tanya ke keponakan saya,
 "Akhtar cita-citanya mau jadi apa?"
"Akhtar mau jadi Power Ranger Merah dan Dokter." tegasnya.
"Wah, dua yah cita-citanya?"
"Iya, dong Mang." jawabnya polos.
"Berarti jadi Dokter Power Ranger dong yah?"
"Iya dong." tegasnya sambil tersenyum dengan gigi susunya.

Thursday, January 24, 2013

"Trio Becak" sampai sekarang....

Sejenak melepas lelah di warung pinggiran dekat pohon tua besar di jalan Imam Bonjol, Bandung. "Ibu, saya pesan teh botol satu ya?" pesan saya sambil menahan dahaga yang meradang. Siang itu begitu menyengat, maka tak salah bila kemaja yang saya kenakan pantas disebut kain pel. Bukan karena kemeja itu sudah belel atau sudah banyak fentilasinya (sobek maksudnya disana-sini...) tapi kuyup sudah kemaja ini menyerap keringat saya. Maklumlah pancaroba.

"Ieu A teh botol na.." sahut ibu sambil menyodorkan pesanan saya dengan ramah. Saya pun tersenyum sambil sesekali melirik botol yang berisi teh itu. maklumlah ini bab-nya kehausan stadium 4 (empat). Saya posisikan duduk tubuh saya di bangku jongko sederhana yang telah tersedia di depan warung. Sembari menikmati suasana urban di sepanjang jalan ini. Sungguh begitu menyenangkan bagi saya sang perantau yang pulang dua pekan sekali ini. Aliran cairan keruh kecoklatan itu begitu menghibur kerongkongan saya yang sudah tandus.

Ketika kenikmatan saya tinggal setetes lagi di botol ini, tiba-tiba ada seorang bapak tua menghampiri warung dimana saya terduduk dalam posisi enak dengan memarkirkan kendaraannya berkarir. Sebuah becak terparkir dengan apik. Sang bapak pun tersenyum pada saya sebelum ia menyampaikan maksudnya ke Ibu penjaga warung. Sungguh kawan, becak ini mengingatkan saya akan sebuah kisah di SMA dulu dengan sosok beberapa kawan saya.

Entah bagaimana ini bisa terjadi perkenalan kami begitu cepat sekali. Kami tergabung karena sebuah organisasi. Ya, Organisasi. Organisasi yang saya maksud adalah OSIS di SMA dulu. Walau sebenarnya saya ini bukanlah dari anggota organisasi itu namun sempat menjadi calon kandidat ketua OSIS yang kalau dibilang saat ini "tidak masuk verifikasi atau kurang syarat.", jangan bilang kalau saya kurang ganteng, kurang tinggi, dan kurang pintar!!! Karena memang kurang semuanya. :)

Kami begitu akrab dalam kegiatan, di luar kegiatan, bahkan untuk soal di luar sekolah. Yang menarik bagi saya ada tiga orang kawan yang begitu nampak akrab. Urusan jalan pasti bertiga, di dalam kegiatan pasti bertiga walau sebenarnya mereka berbeda tugas kepanitiaan, pokoknya kemana-mana pasti bertiga. Bahkan pernah saya berpendapat secara pribadi bahwa mereka untuk urusan mempertimbangkan pasangan pun harus di diskusikan bertiga.

Kebiasaan mereka adalah ngerumpi bareng, ngecengin adik-adik kelas yang ganteng-ganteng, terkadang suka ketawa-ketawa bila membahas adik kelas yang baru saja mereka kecengin, melatih baris-berbaris, panas-panasan sambil terik-teriak bila ada kesalahan dari adik kelas, membuat banyolan-banyolan tingkat dewa, eksis foto-foto: di tengah lapangan, perpustakaan, ditangga perpustakaan, kelas, didepan papan tulis, di dekat tiang bendera, di ruangan OSIS. Mungkin yang belum dijadikan tempat pemotretan mereka adalah kantor guru dan gudang sekoah. Maklumlah remaja wanita yang mulai beranjak dewasa.

Namun tetap mereka memang biangnya keramaian di OSIS kita. 

Monday, January 21, 2013

Sekolah Menengah Atas-Ku

Matahari pagi di tahun 2002 masih terkenang begitu nyata dalam benak. Udara pagi yang mengisi rongga-rongga pernafasan begitu menyegarkan, bagi kami yang saat itu baru menginjak ke jenjang pendidikan berikutnya dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu SMA (Sekolah Menengah Atas). Dan kami pilih SMA yang membuat kami terdidik selama tiga tahun kedepan adalah SMA PGRI 1 Purwakarta. Ya, SMA inilah yang menjadi takdir kami untuk menuntut ilmu sebagai jembatan kami ke jenjang berikutnya.

MOS (Masa Orientasi Siswa) pun tak terelakkan bagi kami. Masa dimana kami mengenal sekolah kami ini. Terutama mengenal teman sekelas dan teman semeja kami. Saat itu saya duduk di bangku ke-tiga dari depan baris ke-dua dekat meja guru dan papan tulis kapur hitam. Saya pemuda bertubuh kecil dengan belahan pinggir rambut yang selalu terminyaki ini, duduk terdiam sambil menunggu teman yang akan duduk disamping saya. Dan saat tepat jam dinding menunjukkan pukul 07.00 (tujuh) pagi, rupanya saya kedatangan teman sebangku yang saat itu begitu asing bagi pemuda kampung seperti saya. Dan kami pun berkenalan.

Monday, January 14, 2013

Ngudak Mudik vs Bulak-Balik

"Bandung....., Bandung....., Bandung......." ajakkan kondektur ditepian bahu jalan per-empatan combro atau sering disebut oleh penduduk lokal -Parcom-. Untuk silsilah penamaan per-empatan ini menggunakan unsur oncom di jero memang cukup fenomenal bagi sebagian orang asal Purwakarta dan sekitarnya. Saya sekaliber penduduk lokal yang jaraknya kurang lebih 25 Km-an, memang tidak terlalu tahu atau bisa di kategorikan tidak tahu, suwerrrrr. (Padahal fenomenal tapi gak tahu. Gimana sih?)

Parcom sore itu begitu ramai, maklum arus balik mudik menjadi kondisi per-empatan ini begitu penuh sesak karena liburan akhir tahun. Jangan heran urusan kondektur bus antar kota baru sedikit mengeluarkan suara merdunya, calon penumpang sudah penuh sesak menjejali pintu-pintu Bus. Sampai-sampai ada yang mengangkat-angkat tas gendongnya biar lebih kelihatan perjuangannya, ada yang bawa termos panas sembari berteriak-teriak, "AWAS AIR PANAS, AIR PANAS....", ada yang minta tanda tangan sang kondektur biar sang kondektur merasa tersanjung dan memprioritaskan fans-fansnya (Ya, nggak gitu juga kali....).

Wednesday, January 2, 2013

Renungan Akhir Tahun

"Akhir Tahun", kata-kata ini begitu banyak dijadikan bahan pembicaraan di setiap gang, jalan raya, perkantoran, media massa, televisi, negara, bahkan seantero dunia ini. kemarin masih ingat dengan tanggal 12-12-2012 sebuah isu ramalan kepercayaan suku Maya yang menghebohkan sampai dibuatkan sebuah Film untuk mengilustrasikan kejadian itu, yang sebenarnya mendahului takdir Allah SWT.

Sebenarnya apa ini semua? 12-12-2012 itu telah berakhir dan ramalan itu sekali lagi meleset 100 %, entah ini hanyalah sebuah ucapan racauan seorang tokoh agama yang terkantuk-kantuk sambil memberikan wejangan bagi para pengikutnya. Entahlah?

Bila kita kembalikan lagi kesebuah kalimat "Akhir Tahun" masehi, maka seorang accounting sedang on-nya banyak laporan yang harus segera disiapkan, seorang artis sedang panen order tampil di penghujung akhir tahun, supir angkot sedang terjebak macet lalu kehilangan penumpang yang lebih memilih untuk berjalan -Car Free Night-, pelayanan restoran cepat saji begitu sibuk dengan banyaknya pelanggan dan itu nampak dari bobot tubuh konsumennya yang gemuk, seorang guru yang sedang menikmati akhir tahun dengan "Long Holiday" pasca pembagian rapot anak. 

Kira-kira kurang lebih seperti itu aktivitas mereka yang saya temui.

Tuesday, December 18, 2012

Itu Dia?

Sore itu lembayung senja tak nampak seperti biasanya. Awan mendung bergumpal-gumpal seperti membentuk pola lukisan yang sesekali diselinggi oleh rintikkan hujan dari atas sana. Fadillah begitu paham dengan gejala siklus alam ini. Maklum saja saat ini telah memasuki bulan-bulan penghujan, November. Selepas Fadillah pulang dari aktivitas di hari Jum'at berkah ini, maka hanya sebuah kalimat yang bergelayutan dinalar Fadillah. Ya, “Pulang Kampung!” itu dia kalimat yang begitu setia men-sugesti Fadillah selama empat bulan terakhir ini di ibu kota Periyangan tempat Fadillah mengadu nasib.

Sepeda motor bebek andalan Fadillah, -Joni-. Telah siap menghantar pemuda asal Subang ke ujung dari kota ini hingga sampai ke kota asal. Tikungan demi tikungan, lampu merah, penjual koran, manusia platinum relawan sumbangan panitia asuhan, genangan, tikungan lagi, SPBU milik pemerintah, plang kereta api, Kereta api lewat, lampu hijau, tugu tunas kelapa, lampu merah, lampu hijau, tikungan jalan Istoqomah, Masjid Istiqomah, andong, komplek masjid PUSDAI, tikungan, lapangan Gasibu, gedung Sate, jembatan layang Pasupati, jalan Dago, taman Telekom, gedung Telekom Indonesia, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, gang-gang panyingkiran, gerobak mie ayam Janda (Jawa Sunda), hingga sampai di gedung berupa rumah yang tersekat tiga dipojokkan daerah Panyingkiran.

“Assalamualaikum…” salam Fadillah. Rupanya kontrakkan yang kami sewa sedang tak berpenghuni. Tanpa basa-basi pintu pun Fadillah buka dengan kunci yang setiap kami pegang tiap masing-masing. Sesegera mungkin Fadillah raih ransel yang telah disiapkan sedari pagi tadi. Jaket kain pun Fadillah ganti dengan jaket kulit yang lebih aman untuk perjalanan jauh. Jam saat itu telah menunjukkan setengah lima sore. Langkah pun Fadillah perlebar menuju Joni. Dan setarter pun Fadillah nyalakan.

Fadillah pandangi sejalur panjang Dipati Ukur begitu ramai ditepi-tepi bahu jalannya. Hingga teringat sesosok pemuda yang lebih gemar berjalan karena tak berkendara Joni, saat kuliah. Dulu kaki ini lebih banyak melangkah dari pada sekarang, sering mengenakan jaket bertuliskan organisasi yang begitu banyak merubah arah hidupku dengan celana bahan yang terkadang bila dipikir-pikir sekarang culun juga gaya ku dulu ya? gumam Fadillah mengenang.

Thursday, November 22, 2012

Pentak Umpet masih Eksis gak yah?

Masih ingat dengan kata-kata ini, "Hompimpa alaium gambreng"? Sebuah kalimat yang sampai saat ini saya tak tahu apa itu artinya (udah tahu, deng artinya. Tadi nge-googling yang artinya, “Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan, Mari Kita Bermain !!!”). Namun begitu sakral untuk dinyanyikan apabila memulai sebuah permainan tradisional yang salah satunya adalah -Pentak Umpet-. Ya, Pentak Umpet merupakan permainan yang cukup mengasyikkan ketika saya kecil dulu. Permainan ini begitu membuat saya dan teman-teman begitu menikmati masa kecil kami. Permainan yang juga biasa di sebut dengan -Ucing Sumput- di tataran Sunda ini juga begitu di gandrungi seantero nusantara pada jamannya. 

Ok, saya coba mendeskripsikan aturan main dari permainan ini terkhusus untuk anak-anak di jaman yang serba digital ini. Yang pertama ada istilah "Kucing". "Kucing" ini adalah anak yang berjaga di sebuah tembok atau pohon dan biasanya di sebut Inglo untuk di daerah Jakarta dan sekitarnya dan ada juga daerah lain yang menyebutnya dengan Hong dan Bon. Ok balik lagi ke si "Kucing" atau anak yang jaga, awalnya bertugas untuk memejamkan mata sambil berhitung 1 sampai 10, tujuannya untuk meng-ikhlas-kan teman-temannya untuk berlari dan bersembunyi. Ya, biasanya sih kurang ikhlas juga karena sang "Kucing" sering kali menghitungnya dengan cepat hingga teman yang lain tak sempat untuk mencari tempat persembunyiannya.

Tuesday, November 13, 2012

Undangan Nikah Seorang Kawan di Kota Angin

Langit pagi saat ini begitu jernih kawan. Ku edarkan pandangan mata ini ke langit, tak ada segumpal pun awan yang berarak. Sesekali ku hirup udara pagi yang begitu bersih di halaman depan indekos sambil merenggangkan tangan dan pinggang yang berusia se-perempat abad ini. Ku dapati beberapa kawan begitu sibuk di pagi ini. Yasir, begitu subuh sekali merelakkan tubuhnya tersentuh air demi sebuah undangan kawan kami. Padahal aku tahu dia begitu menggigil karena ulah udara subuh Bandung yang berkolaborasi dengan air PDAM-nya. Uci sibuk mengayuh pedal mesin sepeda motor bebek biru langsatnya untuk mengantar Yasir mengambil mobil sewa-an kami dengan alih-alih ingin memanaskan jantung sang sepeda yang konon bermesin itu, sambil menunggu Yasir menyudahi pertempurannya di kamar mandi pagi ini.

Husna sang ketua rombongan begitu sibuk dengan batik yang ingin dipakainya siang nanti (menggosok-gosok setrika-an yang panasnya pol banget) hingga kusut hilang dari area batik kebesarannya (besar ukurannya). Ia pun tidak lupa menyiapkan kopiah dan kaca mata berkaca ungu nyentrik. Berbeda cerita dengan Zae, temen ku yang satu ini sedang mengumpulkan kesadarannya pasca shalat subuh berjama'ah tadi, ia langsung menuntaskan jatah tidurnya yang terpotong karena obrolan kami semalam (maklum lama gak jumpa). Matanya terlihat masih sulit untuk di buka dan ia berucap, "Bangunin Ane 10 menit lagi yeh!"

Satria temanku asal Tanggerang ini tak terlihat begitu sibuk, yang ku lihat dia sedikit kesakitan dengan perutnya yang ia bilang, "Radang ane kambuh euy." sambil meringkih kesakitan ia mengusap-usap perutnya sejak semalam. Tapi ia begitu berniat datang. Buktinya ia datang lebih awal ke Bandung di antara kawan lain yang di luar kota. Tapi al-hasil perutnya dapat berkompromi dengan niatnya, hingga ia bersiap-siap mempersiapkan baju kemeja kotak-kotaknya yang lebih dominan biru warnanya selaras dengan celana jins-nya. Dan yang terakhir Asep Supriyadi kawan yang usianya lebih muda diantara kami ini, masih terpejam dengan nyaman dikasur empuknya mengikuti jejak Zae yang terlelap.

***

Satu jam kemudian, Aku sendiri masih menunggu jatah ke kamar mandi yang hanya satu buah di bangunan 10x5 meter ini. Tapi kalau untuk urusan kesiapan pakaian yang akan dikenakan sudah pasti telah siap, kamera poket untuk dokumentasi perjalanan sudah tersiapkan dengan apik di tas gendong kecil, dan tripot ukuran 150 cm telah siap untuk di angkut. Namun rupanya antrian ku setelah Asep. Ya Asep teman ku yang sudah hampir satu jam beraktivitas diruangan yang satu buah itu. Ternyata masih ada dua kawan dibelakang ku; Zae dan Husna masih mengantri.

Tanpa sengaja ku lirik Masjid yang tepat berada di depan indekos kami. Tanpa pikir panjang ku ambil peralatan mandi dan handuk, melesat kesana. 

Sunday, October 28, 2012

Sebungkus Kacang Kulit Mengupas Sejarah

Di Hari Tasyrik ini, saya sedang berduduk-duduk santai di Warung Mas Dedi sambil berbincang-bincang ringan dengan beberapa kawan sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan satu bungkus kacang kulit. Tepat didepan warung melintang jalan raya yang bernama jalan Terusan Kapten Halim - Pondoksalam. Jalan yang kami pikir tak ada kisah penting di dalamnya. Jalan yang menghubungkan 3 (tiga) kecamatan ini begitu biasa pada umumnya. "Tapi ieu jalan teh boga andil euy dina jaman perjuangan baheula!" ujar Biho seorang kawan.

Saya terasa tergelitik ingin mengetahui sejarah lebih jauh tentang jalan yang ada di depan kami ini. Bila berdiskusi dengan kawan-kawan di hadapan saya seperti Biho, Urip, Daday mereka mempunyai argumentasi sejarah versi masing-masing. Ada yang bilang soal penamaan ini berasal karena untuk mengenang perjuangan Kapten Halim pada masanya, ada juga yang bilang biar match dengan tugu yang terpancang kokoh di daerah Lanca Darah. Apapun opini mereka mungkin secara rangakaian ini ada hubungannya; nama jalan, tugu, dan pejuang yang bernama Kapten Halim.

Pernah saya coba untuk mencari tahu dengan bertanya ke Mbah Google, dan hasilnya nihil sudah. Untuk mengetahui sosok sang kapten yang berjasa ini dijawabnya hanyalah sekedar nama jalan saja. Rupa-rupanya Mbah Google kehilangan kesaktiannya kali ini. Saya putuskan menemui salah satu sesepuh di daerah Pondoksalam, KH. Mahfudin. Beliau mengutarakan Jalan Kapten Halim ini merupakan cara untuk mengenang jasa sang Kapten dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan. Sebab perjuangan beliau dan pasukan menghalau penjajah Belanda yang luar biasa pada masanya itu pada tahun 1920-an, yaitu bagaimana Sang Kapten berhasil meledakkan tiga truk yang sedang mengangkut bala tentara kolonial di daerah Lanca Darah yang merupakan tempat terakhirnya berjuang. Beliau menjegal para bala pasukan kolonial dengan menggunakan kabel listrik yang di pancangkan di kedua sisinya ke pohon sebagai perangkap. kemudian menyergapnya dari sisi-sisi jurang dan tebing.

Tuesday, October 9, 2012

Prahara Gang Ujung Kampung dan Ajun Rombeng 3

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh, Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh." ucap Haji Sanip yang di ikuti koor para jama'ah dibelakangnya termasuk Ajun.

Semiliri angin subuh sesekali menggoyangkan dedaunan pohon pisang yang tumbuh liar disamping mushola. "Al-Ikhlas" nama dari sebuah mushola yang kini mulai ramai didatangi warga sekitar dan itu termasuk Ajun pemuda urakkan yang semaunya bila berpenampilan. Di Subuh itu Mushola ini seolah tersenyum pada Ajun. Ajun pun dengan hati yang sedikit tenang merasakan keramahan ruangan kubus 4x4 ini.

"Jun, rajin lu sekarang?" tanya salah seorang jama'ah yang juga sepantaran dengannya, Sahili. Ajun menjawabnya dengan anggukkan dan senyumannya yang khas. Jama'ah yang lain pun bergegas pulang ke rumah masing-masing selepas shalat berjama'ah.

"Nah, Jun gimane sekarang perasaan lu?" Haji Sarip bertanya sambil duduk bersila dihadapan  Ajun.
"Iye, Ji. Ane tenangan gak kayak malem tadi, ni ati kayeknye panas bener semalem...." jawab Ajun sambil membenarkan duduk dan tentunya senyuman gigi kuning langsatnya menghiasi wajahnya yang kurus.

Tuesday, September 25, 2012

Mona Lisa Suka Padanya....

Siang ini begitu teduh diguyur hujan sedang, dimana saat aku membuka lembar demi lembar buku bacaan yang sedang inginku khatamkan ini. Berteduhkan atap dari anyaman tanaman padi yang telah menguning terpanen, disaung dekat pohon mangga depan halaman rumah. Aku meneguk kisah dari setiap paragraf sang penulis ceritakan. Dalam sunyi dan belaian halus angin yang berhembus di antara sela air hujan, aku begitu khusyuk menikmati suasana ini, tiba-tiba terkoyak-koyak suasana nyaman itu setelah seorang pria dari ujung gang menghampiriku, “Woi, Pit ieu kuring………….[0]”

Suara nyaring itu begitu tak asing bagi ku namun sedikit me’dok aksen jawa. Ya, dialah Suryana, atau sering dipanggil orang sekampung -Yana Bageur-. Ia merupakan pemuda yang baik dan sopan. Pendidikannya memang tak tinggi, hanya tamatan SMP saja, tapi dengan sederet talenta alaminya, dia menjadi sesosok pemuda yang cukup berhasil mengarungi kerasnya kehidupan ini. Dan aku sebagai sobat sedari orok begitu bangga dengannya.

“Woi, Yan……?” sahutku sambil melambaikan tangan menyambutnya.

“Ti mana Euy….?[1]” Tambahku sambil berteriak. Sesampainya sosok yang begitu bersemangat ini di hadapanku, ia pun tersenyum dan menjawab pertanyaanku tadi, “Alhamdulillah, Pit. Kuring teh ayeuna tos damel.[2]” 

Yana begitu bersemangat menceritakan pengalamannya merantau selama satu tahun tujuh bulan ini. Begitu sepi kampung ini, karena kebanyakan dari pemudanya merantau, termasuk aku. Inilah pertemuan pertama kami untuk satu tahun tujuh bulan tak saling bersapa. Yana pun bercerita bahwa ia diterima kerja disalah satu perusahaan terkemuka di Semarang, sebagai seorang tenaga administrasi. Ia pun menceritakan kelancaran kerjanya, karena tak perlu waktu lama baginya untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai orang yang berkompeten diperusahaan, hanya dalam tempo satu tahun ia sudah dipromosikan menjadi Assisten Manager.

“Wah hebat euy di dinya, Yan.”

“Ya, Alhamdulillah, Pit.” begitulah Yana dari dulu selalu rendah hati.

“Seneng atuh nyak damel teh?[3]”

“Ya, kitu weh Pit ari ngaran na damel mah.[4]” lihat dia menjawab kembali dengan santun.

“Tapi Pit, saya mah asa cangkeul di ditu teh.[5]”

“Naha make cangkeul, Yan? Ongkoh seneng.[6]” Aku telah berpikir ini pasti soal kerjaannya di ibukota provinsi tetangga yang ia ceritakan.

“Nyak euy, cangkeul teu bisa make bahasa sunda![7]” Aku terlihat bodoh di hadapanya setelah mendengar candaannya. Kontan kami berdua larut dalam gelak tawa, “hahahahahaha…..”

Ia pun menceritakan soal pengalamannya di awal tahun kedua ini, bahwa ia bertemu seorang gadis ayu asli produk lokal yang cukup mencuri perhatiannya selama perkenalan hingga saat ini (Suweeer deh, Yana bilang gitu).

Gadis ayu yang telah memborgol hatinya Yana ini bernama Wening. Bagaimana Yana tidak terpincut oleh gadis ini? Setelah aku melihat wajahnya di-wallpaper HP Yana yang sepertinya hasil jepretan curian ini begitu terlihat seperti lukisan ‘Mona Lisa’ yang terkenal karena senyumannya yang begitu anggun, tapi kalau aku bilang ini versi Wong Jowo-nya[8]. Kemudian Yana mempertegas  sosok anggun yang ada di HP-nya ini, “Wening teh sifat na lembut, terlihat pintar, mudah bergaul dan memiliki wajah yang khas alias geulis.[9]”

Namun sayang Yana merasa bahwa Wening terlalu "tinggi" buat dia, Yana pun urung mengutarakan rasa yang bergelayutan dihatinya pada Wening.

Enam bulan sekantor dengan Wening, membuat Yana cukup menyiksa perasaannya yang kian kuat, tapi apa daya untuk menyampaikannya malah menjadi salah tingkah. Saking salah tingkahnya Yana pernah terpegoki oleh Wening pada saat Yana curi-curi pandang ke wening dari meja kerjanya  sambil membaca Koran. Dan saat itu juga Wening menghapiri Yana dan berucap sambil membenarkan posisi koran, “Mas Yana hebat yah, baca koran kok bisa terbalik gitu yah?” Alhasil wajah Yana merah padam.

Disaat Yana sudah mulai terbiasa untuk menyembunyikan perasaanya dengan kehadiran Wening di hari-hari kerjanya, terdengar kabar bahwa Wening akan keluar dari kantor untuk melanjutkan study-nya keluar negeri. Kabar ini membuat Yana begitu sedih karena tak ada kesempatan lagi untuk melihat Wening dan merasakan degup jantung yang begitu bergelora disetiap harinya.

Singkat cerita, satu bulan setelah kepergian Wening, Yana mulai resah akan cinta senyap-nya takkan tersampaikan, karena tengah menuntut ilmu dinegeri orang sana. Ditengah kegalauannya tiba-tiba ada angin segar menghapiri berupa tawaran dari seorang senior untuk dikenalkan dengan seorang gadis kenalannya. Tapi dengan hormat, Yana langsung menampik tawaran dari seniornya itu. Tanpa basa basi Yana mengutarakan alasannya, bahwa dia agak sedikit kaku dengan cara perjodohan seperti ini.

Yana pun akhirnya memilih untuk mencari cintanya sendiri. Takdir mempertemukan Yana dengan Tiwi. seorang wanita karir yang dikenali Yana via Facebook. Setelah sekitar 2 bulan, berkomunikasi akhirnya Yana dan Tiwi sepakat untuk "kopi darat" atau ketemuan. Dari pertemuan itu, kemudian Yana yang berambisi untuk mengakhiri masa lajangnya lebih cepat, tanpa basa basi langsung melamar Tiwi, dan Tiwi pun tak kuasa untuk menolak lamaran Yana. Mereka pun bersepakat untuk meresmikan hubungan ini dihadapan kedua orang tuanya masing-masing, dan dicarikan hari baik untuk pernikahan. (Ckckckck, sedih bener ente Yan.)

Begitulah Yana menceritakan kisahnya selama perantauannya ini. Ia pun setelah panjang lebar bercerita memohon pamit langsung pulang, untuk mengutarakan maksudnya pulang kampung, yaitu meminta restu kedua orang tuanya atas hubungannya dengan Tiwi gadis ayu lokal lain yang membuat ia sedikit melupakan –Mona Lisa Wong Jowo- di negeri seberang sana.

Friday, September 21, 2012

Prahara Gang Ujung Kampung dan Ajun Rombeng 2

“Maafin Ajun yah, Ji?” mohon ajun sambil mencium tangan Haji Sarip. 
“Udeh-udeh jangan minta maaf ke gue. Noh, minta maaf ke lu punya Tuhan –Alloh Azawajala- ame lu punya orang tue!” terang Haji Sarip.
Subuh itu setengah sadar Ajun mengutarakan yang begitu sentimentil bagi nuraninya dan Haji Sarip yang mendengarnya, "Maafin Ajun yah, Ji?" 

Dengan berjalan sempoyongan ia perlakukan celana jins kesayangannya seperti biasa, menyeretnya. Wajah tua Haji Sarip begitu tersenyum melihat anak muda yang sedang ia tuntun ke Mushola hasil wakaf peninggalan Almarhum Sobatnya, Sahili (Babeh Ajun) dan ia. Sesekali Ajun hampir menjatuhkan badannya yang kurus karena pengaruh alkohol murahan yang masih merasuk. "Astagfirullah, Jun lu pasti bisa! Nyok, baca Basmallah. jalannye pelan-pelan, aje!" Haji Sarip menuntun dengan perlahan dan sabar.

"Iye, Ji. Makasih.", sahut Ajun yang kehilangan keseimbangannya.

"Udeh lu nanti ambil wudhu, biar segeran gitu!"

"Iye, Ji" jawab Ajun sambil tersenyum di selingi bau alkohol murahan yang masih meradang.

Selangkah demi selangkah ke dua manusia ini menyambangi tempat wudhu yang tak jauh dari mushola yang dimaksud. Tepatnya disamping kiri mushola dekat sumur galian yang alhamdulillah belum pernah kering walau musim kemarau panjang.

"Ya, udeh lu wudhu dulu sono, biar segeran!" saran Haji Sarip sambil masuk ke mushola meninggalkan Ajun. 

Ajun hanya menjawab dengan senyumnya yang khas. Ajun memulai dengan menggulung baju kaos lengan panjangnya, kemudian ia membuka keran memulai ber-wudhu. Ia mulai mengusap-ngusap tangannya hingga bersih tak berbau cairan yang memabukkan tempo dipos ronda tadi. Berlanjut ke rukun wudhu yang lainnya hingga sampailah ia membasuh kedua kakinya. Dalam hati Ajun bergumam, Waduh -Si Rombeng- bisa kebasahan nih? Ntar gue disuruh ngelepas nih celana di ganti make sarung lagi sama Ji Sarip. Wah kagak dah, gue bisa mati gaye di depan Alloh. Mending gue rela -Si Rombeng- basah, asal gue keliatan keren di hadapan Alloh.

Tanpa berpikir panjang Ajun pun meneruskan wudhu-nya yang terpotong tadi. Ia dengan santai membersihkan kaki dan sekaligus -Si Rombeng-. Sesekali ia usap dengan semangat untuk menghilangkan tanah yang terjaring di sisi-sisi celana menggunakan serabut kelapa yang biasanya orang kampung sini di pake buat nyuci piring.
***

Tuesday, September 4, 2012

Lagi-Lagi soal Cinte: Kisah Yang Terlupa


Selepas jogging yang berakhir dengan kejar-kejaran itu, Eep menghampiri kamar kostan-ku dengan wajah yang sudah tidak menyeramkan seperti pagi tadi. Aku yang sedang santai didepan CPU meng-edit foto-foto disela jogging tadi, tersenyum padanya. “Kenapa ente Fit?” tanyanya heran.

“Ah, kagak ape-ape. Pengen senyum aje.”

“Waduh Ente kagak sakit kan?” tanyanya khawatir plus dengan wajah paniknya.

“Ape sih? Ade-ade aje. Ane kagak ape-ape, yang ade luh kali? Tumben nongol nyelonong aje ke kamar ane.”

“Lah, biasanye juga gitu kan?”

“Salamnye mane?” jawabku sambil melanjutkan kesibukan.

“Oh iye-iye. Assalamualaikum?”

“WaĆ”laikummussalam wr. Wb.”

”Alhamdulillah dijawabnye lengkap.” tembal Eep, dan disusul gelak tawa kami berdua.

Entah ada angin apa siang itu, Eep tiba-tiba merebahkan badan tambunnya di atas –Humairah-. Kemudian Ia memulai pembicaraan di ruangan 4x3 meter tempat aku bermukim di kota ini. “Sob, gimane menurut Ente soal Santi?”

“Klo menurut Ane sih, si Doi emang cocok buat Ente, Ep.” Tiba-tiba mata Eep begitu berbinar-binar mendengar pendapatku yang sebenarnya termasuk pendapat yang standar.

“Terus-terus?” selanya.

“Ya, klo kata banyak orang yang ane sendiri gak percaya soal gituan, mereka bilang kalo wajahnya sama itu jodoh namanye.” Semakin menjadi-jadi saja Eep dalam diam dan aku rasa dia telah memasuki dunia khayalannya.

“Tapi sayangnya Ente sama Santi gak ade mirip-miripnye tuh.” lanjut argument-ku dan disusul puas tawa ku sendiri dan Eep yang terlihat cemberut.

Saturday, September 1, 2012

Sepatuku dan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Degup nadi terus berdenyut menyalurkan oksigen di setiap hela napas udara yang ku hirup. Kaos kaki hitam yang sudah mulai menipis, ku pakai di kedua kaki mengalaskannya sebelum bersepatu. Sepatu kets yang selalu ku jadikan andalan untuk meregangkan otot-otot kaki telah terpasang dengan apik.

06:00 WIB, langkah pertamaku menuju tempat favoritku melepaskan bulir-bulir keringat yang mandeg sepekan karena tak berolahraga kini akan deras mengalir. ku pandangi taman-taman tengah kota itu; Kursi taman yang berjajar masih setia walau telah bekarat, bunga-bunga merekah dan berwarna yang tak ku kenalai satu persatu namanya, monumen yang kokoh menjulang tandakan kemerdekaan provinsi ini. Yah, ini dia Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat tempat yang selalu mempunyai nilai khusus bagi sang perantau namun masih seprovinsi seperti ku ini.

Saturday, August 4, 2012

Bersama di Punclut

Tepatnya sepekan sebelum bulan Ramadhan, saya mendapatkan dua buah SMS yang isinya tak jauh berbeda dan jaraknya tak terlalu jauh, hanya hitungan menit saja.

Salam, Fit gimana kabarnya?............. Kira2 kpn kita bukber nih?

Kurang lebih pertanyaannya seperti itu. Sekali lagi, saya memandang pertanyaan ini bukan pertanyaan yang biasa-biasa saja. Seperti setitik embun di hamparan padang pasir tandus saya mengibaratkannya. Jika harus menerawang jauh semasa di kampus, sungguh tak sanggup untuk membayangkannya. Karena rasa rindu itu sangat cepat menyelimuti dunia batin saya.

Bila harus membayangkannya sekuat tenaga, maka yang terbayang, bagaimana kita dulu begitu polosnya menyandang sebagai seorang mahasiswa baru, berkumpulnya kita dalam kekompakkan disebuah organisasi yang luar biasa, serta cerita-cerita lucu yang selalu menjadi bahan ceritaan paling favorit untuk kita bahas hingga bahu kita terguncang tak terkontrol karena geli tertawa.

Kenangan dulu begitu indah, kawan.

Tanpa berpikir panjang untuk menjawab SMS dari teman saya dari luar kota sana, maka SMS balasan yang berjumlah massal saya kirimkan ke ke-dua sahabat saya yang menanyakan dan sahabat yang lainnya.

Salam, Sahabat Super............ Insya Allah kita angkatan 2005 adakan buka bersama. Untuk kehadiran dan ketidak hadirannya tolong konfirmasi ke No ini 085xxxxxxxxx. Trims Atas perhatiannya. (PanitiaTembusan dari Ketua Ika xxx. :)

***

Menjelang H (-1) saya mencoba untuk mengabarkan lokasi kita akan berkumpul dan tentunya melepas rindu yang telah tertahan hampir setahun yang lalu. Saya coba diskusikan dengan sahabat saya yang masih menetap di kota perjuangan ini. "Ci, Us, gimana nih? kira-kira kita milih tempat yang asik dimana yah?" tanya saya membuka pembicaraan.

"Udah di dalam kota aja, klo-klo nanti ada yang bawa keluarga. gimana?" usul Uci brilian, karena dia bisa di bilang pakar kuliner termansyur di kostan atau base camp kami. :)

"Iya di kota aja Fit biar mudah aksesnya." Uus berpendapat.

"Tapi klo gak ada yang bawa keluarga, gimana?" saya lemparkan kembali pertanyaan tambahan.

"Nah klo itu gampang." Uci menjawab dengan santai, "Kita dah lama tuh gak ke Punclut lagi? Gimana Klo kesana?" usulnya yang kedua kalinya dan semuanya memang T.O.P (Top banget dah). Saya dan Uus saling menatap dan tersenyum, kami pun meng-Aamiin-kan usulan pakar kuliner kita.

Tak selang beberapa menit jari saya begitu memerankan dengan apik lakonnya. HP, saya otak atik dengan sedemikian rupa hingga muncul-lah berita yang menggembirakan untuk kami semua. Ya, berita lokasi kita berbuka bersama.

......Kita kumpul besok di Masjid Al-Jihad jam 15.00 WIB sekalian shalat Ashar berjama'ah. Lokasi BukBer di Punclut rumah makan xxx. Trims....

***

Tuesday, July 17, 2012

Pulang

Aku berjalan di gelapnya malam di tuntun oleh remang-remangnya lampu jalanan.

Sepasang sepatu yang telah haus alasnya ku paksa meladeni pintaku.

Sebuah amplop coklat besar ku apit di tangan kananku, disitu ku simpan segala harapan.

Angin malam ini begitu menusuk tak karuan ke paru-paru, hingga ku pilih racun nikotin menghangatkannya.

Deru mesin mobil saling bergantian melewati halte yang ku acuhkan.

Ku lihat puluhan poster usang yang telah compang-camping terpasang di langit-langit dan dindingnya, pasrah.

Sampai kapan? kan ku temui berita yang menyedihkan tentang negeri ini dari koran-koran yang sudah tak bertuan, berserakkan di jalan.

Rasa-rasanya otak ini kekurangan O2 di tengah perjalanan yang akan segera berakhir.

"Mama, maafkan ananda yang belum dapat menebus restu mu di pagi tadi", lirih.[]




Kisah dari seseorang yang merindukan "Pulang".

Wednesday, June 27, 2012

Prahara Gang Ujung Kampung dan Ajun Rombeng 1


Gang Haji Sanip, sebuah gang pojokkan ujung jalan di kampung kami. Gang yang nyempil diujung jalan buntu sana tak akan ramai bila tak ada -Ajun Rombeng-, sang pemuda kampung pengangguran tamatan sekolah menengah kejuruan. Ajun di kenal sebagai orang yang periang, supel, dan murah senyum atau lebih tepatnya bisa disebut doyan nyengir. Tak jarang gigi kuning langsat pengaruh kerak tembakau berkilat-kilat hiasi senyum lebarnya. Tapi terkadang Ajun Bengal juga. Bila berjalan, celana jeansnya terseret-seret kedodoran. Maklum celana ini adalah gacoan-nya. "Celana rombeng tapi keren!” tembalnya bila ada yang mengolok-olok celana kesayangannya.

Saking cintanya Ajun dengan celana kumelnya, dia jarang ganti kecuali bila Emaknya yang nyuruh. Pernah tempo hari, itu celana udah terkapar di ember cucian Emak. Ajun dengan diam-diam mengambilnya tanpa ada yang tahu kecuali Tuhannya dan dia. Untung aje keselametin, bisa mati gaye gue klo di cuci, gumamnya sambil meninggalkan kamar mandi belakang. Mending pake sarung dah! dari pada pakai celana yang laen, tambahnya.

Thursday, June 14, 2012

Lagi-lagi soal Cinte: Jalan-Jalan dan Obrolan SMS

"Sob, besok Ahad beres subuh kita jalan nyok?" ajak Eep sesampainya ia di kosan selepas pulang kerja.

"Kagak Dah, Ane mau nyuci dulu besok." jawabku sembari rebahan di atas –humairoh-, kasur terempuk pelepas lelah. 

Tumben Eep tak langsung menembal jawaban ku yang mengecewakannya. “Ayolah, fit!”, “Sok, sibuk bener, luh!”, “Kagak Solder lu!” (maksudnya Eep; solider atau Sohib) biasanya ia mendesak dengan senjatanya itu. Ia malah terheran-heran melihat kamar kosan 2,5 x 3 meter tempatku berada. Matanya terbelalak menyisir kamar dari kanan ke kiri dan ia ulangi hingga beberapa kali, hingga ia yakin ini kamar sobat tempat curhatnya. Tumpukkan buku-buku fiksi tertata rapi di rak-nya, meja rendah menompang PC plus dengan monitor tabung serta keyboard usang berwarna hitam mengkilap, lemari baju berukuran badan Eep yang berpintu dua bertengger dipojokkan kanan dekat meja rendah tadi, humairoh melintang ke Barat dipojokkan kiri ruangan lurus dengan kiblat shalat, dan karpet karet blok warna warni tertata selaras menjadi alas humairoh.

“Wes, tumben rapih bener ni kamar. Kesambet ape Luh, Fit?” komentar Eep menyindir.

“Ape sih, ente, Ep? Yah, boleh dong sekali-kali ni kamar rapihan dikit.” Eep hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum bangga padaku.

“Gimane ni soal besok?” Eep memulai genderang perang.

“Waduh sorry dulu, dah. Ane kagak ikut ya?”

“Ayolah, Fit!” Eep sudah mengangkat senjata dengan letusan peluru desakkan pertamanya.

“Beneran dah, klo kagak ada ni cucian seminggu, ane ikut dah.” argumenku bersiaga.

“Sok, Sibuk bener, luh!” Eep menembak peluru desakkan keduanya tepat mengenai dahi.

“Waduh bener dah, Ane kagak ikut yeh?” tanyaku melobinya.

“Wah, kagak solder dah luh!” Doorrrr, letusan ke tiga dinamit desakkannya.

“Ok deh klo ente maksa. Cuman bantu ane ni malem nyuci yeh?”

“Ok dah, siap...” jawabnya lantang menyepakati perundingan damai kita.

Malam itu dua ember penuh dengan rendaman pakaian di hantam habis oleh kita berdua. Hingga air di toren hasil nampung bapak pemilik kosan sedari siang habis tak bersisa. Alhasil jemuran atas depan kamarku penuh dengan pakaian basah hasil kerja bakti kami.

“Mantap dah, sob.” ujar Eep sambil mengusap dahinya dari keringat dengan lengan kanannya. Aku hanya bisa tersenyum dan berterimakasih kepadanya, “Trims, sob.”

Dan kami lepas lelah di kamar masing-masing, aku lelap di manjakkan humairah dan Eep terkapar mendengkur di atas kasur buluknya yang sudah mengkempis, karena hilang elastisitasnya di tiban berat badan sahabatku yang hampir 2 kuintal selama satu tahun ini. Ya, kasur buluknya ini baru berusia 1 tahun dipakai sahabat tambunku ini atau lebih tepatnya di tibannya. Karena ini sudah ke tiga kalinya ia mengganti kasur di tahun ke duanya berkamar di sebelahku. Bisingnya dengkuran Eep kini tak terlalu mengganggu di telingaku, serasa seperti suara dengkuran lembu di tengah sawah tempat bermainku saat kecil dulu.

Thursday, June 7, 2012

Garis Santolo di ujung Garut Selatan....

Subuh itu, kami satu tim survei yang berjumlahkan 5 orang bersiap-siap untuk pergi menuju sebuah pantai yang berada di Garut Selatan. Selepas shalat Subuh kami langsung memanaskan tiga sepeda motor yang kami tunggangi dari Bandung ke Kota Garut malam kemarin. Dan kini mereka menjadi teman setia kami yang akan menghantarkan kami sampai ke tujuan, Pantai Santolo. Ya, Pantai Santolo tujuan kami. Karena telah memikat setiap mata kami sejak di Bandung jauh-jauh hari, hingga mau kami berjauh-jauh menyambanginya.

Dan ini panorama perjalanan kami;
Panorama gunung dari kejauhan


Masih dengan pemandangan gunung dan permukiman di kaki gunungnya

Saturday, May 26, 2012

GEROBAK GORENGAN DAN WAJAH TUANYA...


Depan ujung jalan bergapura itu begitu bersih, sebuah gerobak gorengan bertengger di samping gapura menghadap jalan raya didepannya. Entah mengapa sepeda motor bebek yang saya tunggangi ini tiba-tiba mau merapat kebahu badan jalan dekat gapura dan gerobak.

"Bu, punten gorengan na nyuhun keun tilu rebu eun." pesan saya.

"Mangga, A." jawab sang pedagang dengan senyumnya.

Kursi jongko dekat gerobak menjadi tempat saya menikmati gorengan hangat di pagi dingin itu.  Perjalanan pulang dari kota Bandung ke kota asal terhenti di gang itu. Kepulan asap gorengan begitu bergelora di tangan seperti siap untuk mengganjal saya punya perut di sarapan pagi saat itu.