Wednesday, March 14, 2012

Acil "BBC" Namaku


Tak ada yang berbeda, bahkan tak ada yang istimewa dari sebuah kampung di kilometer sembilan jalan Terusan Kapten Halim itu. Jalan raya melintang di depannya masih tetap sama dengan jalan raya kebanyakan. Hamparan sawah menghijau terhampar luas mengelilingi permukimannya. Riuh redah permukimannya terbelah oleh jalur utama yang tersusun dari batu sungai tanpa aspal hasil kerja bakti penduduknya. Mushola-mushola disana sebagai pusat tempat peribadatan, tak ubahnya  seperti kampung mana pun di tanah Pasundan lainnya. Dua garis sungai yang membentang melewati permukiman masih tetap sama; sebagai tempat mencuci bagi para ibu, tempat berkubangnya kerbau-kerbau peliharaan jika terik mentari tak mau berkompromi dengan kuit hitamnya, dan tempat favorit bagi anak-anak bermain dan guyang (renang) pagi atau sore harinya.

Namun hanya satu yang berbeda. Gapura yang setia dengan atap gentingnnya, yang tetap istimewa penuh keramahan bagi siapa saja yang menyambanginya. Plang gang berwarna dasar biru terpancang kokoh dekat gapura walau tulisannya tak terbaca dengan jelas, cat putih-nya telah rontok oleh karat. Kira-kira terbaca –Gg. Babakan Caringin RW 05- yang bagi rabun jauh pasti akan terkilir membacanya.

Kampung yang disebut ‘gang’ oleh plang depan gapuranya ini, tak ubahnya sebuah kampung kebanyakan. Pepohonan begitu subur tumbuh di setiap halaman rumah penghuninya. Pohon rambutan begitu mendominasi menghiasi halaman-halaman rumah disana. Termasuk disebuah rumah panggung tua berwarna merah lusuh dengan halaman yang cukup luas. 

Di ruang belakang rumah itu terdapat sebuah meja makan yang lengkap dengan kursi buatan tahun 1983-nya. Terlihat seorang anak usia enam tahun duduk di salah satu kursinya, sambil memakan lahap hidangan yang tersaji. Tempe goreng, semur ikan bandeng, sambel goang (Sambel yang terbuat hanya dari cabai rawit, garam, dan kencur), mentimun dan lalaban daun singkong rebus. Em, semuanya nampak menggugah selera.

Rambut yang selalu klimis dengan model belahan kanan menyampingnya telah tersusun rapih menyongsong ahad pagi. Langkah kecilnya selalu tak diketahui perginya kemana oleh sang bunda yang sering di panggil -Emak- olehnya. "Eta geura tos makan teh, teu kanyahoan leos na?" begitu keluh Emak setiap kali mendapati putra bungsunya telah luput dari hadapannya. Bahkan pernah suatu waktu di dapati anak ini sudah berpakaian dengan penuh lumpur di sekujur tubuhnya, hanya lingkaran mata dan senyum cengengesannya yang terlihat oleh Emak. Usut punya usut sang putra bungsu telah bermain di sawah Pak Lurah. “Atuh Emak da hoyong mantuan ngabajak abdi, mah.” Jelas putranya mengutarakan alasan polosnya. Emak hanya bisa mendo’akan putra bungsunya ini agar jadi anak yang shaleh selepas mendengarkan alasannya sambil mengelus dada.

Wednesday, March 7, 2012

Lidah tuh tak bertulang, tapi tajam seperti pedang?


Sahabat-sahabat, terkadang kita agak selalu meremehkan sebelah mata mengenai bab penjagaan lidah. Padahal Rasul kita Nabi Muhammad Saw berpesan, bahwasannya kita selaku muslim orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya di anjurkan menjaga lidah dan akhlak. Karena telah di jelaskan bahwasannya apa yang kita utarakan bila gibah, maka kita selayaknya seperti memakan bangkai saudara kita sendiri (Qs. Al-Hujarrat:12)

Apa yang terjadi sekarang? Fenomena program televisi begitu memfasilitasi kita untuk mengasah kemampuan gibah kita agar 'si gibah' lebih berkualitas, Astagfirullah Aladzim. Perang pemikiran sudah terjadi, sahabat. Walau kita terasa di ninabobokan dengan situasi lingkungan yang ada. Kata mereka, "kan sekarang segala informasi sudah tidak ada batas" tuntutan globalisasi katanya.

Apa jadinya bila kita menjadi seperti lupa akan mana yang hak untuk di bicarakan dengan mana yang gibah atau gosip bahasa keren sekarang. amnesiakah kita??? Artis-artis sekarang merubah trend dengan pembahasan barunya, "perceraian jadi musiman???" Sungguh aneh saat ini! Pada hal salah satu urusan yang di benci Alloh adalah ini.

Ada sebuah ungkapan "lidah tak bertulang namun tajamnya seperti pedang". Menurut saya itu benar adanya bila penjagaan tak dilakukan, salah satunya dengan sahum atau puasa. tapi lidah pun bisa menjadi lembut dan bermanfaat. Misalnya menghalalkan yang tadinya haram, contoh kongkretnya; ijab qabul suatu pernikahan. Dan banyak hal yang lainnya seperti menasehati dan lainnya.

Mungkin ini menjadi sebuah renungan bagi saya khususnya dan bagi pembaca pada umunya.

Wallahualam bisawab.....


Saturday, August 1, 2009 at 12:25pm

Ada Apa Pagi Ini ???

Kini Malam Bercerita tentang tenangnya

Ketika Pagi Buta Semua Sibuk Bangunkan Sang Pengkantuk

Puluhan Benih Bangsa Kehausan Ilmu Pagi ini

Ada Apa Pagi Ini ???

Kemana sang Pengajar ???

Pulang Sajakah Aku Tak Peduli

Seakan Urungkan Niat Tuk Ubah Yang Salah

Tapi Itu Bukan Sebuah Jawaban

Maka Hadapi Saja Semua Dengan Ilmu Yang Ada

Walau Sederhana.


Karya : Fitrah Nurjaman

02 Januari 2002

PUTIH, KELABU, HITAM

Hei...
Putih, Kelabu, Hitam
Apa  dia masih ada?
Akar-akar tersesat itu masih ada kawan
Siapa itu yang menatap teduh di balik embun sisa pagi tadi?

Hei, Awan…
Putih, Kelabu, Hitam
Apa Kabar di Senja ini?
Penat sesak aku di jalan raya yang menua
Siapa itu penyejuk di balik bola mata senja kala ini?

Hei…
Dia tak Putih, Kelabu ,Hitam
Berwarna merona wajahnya, kawan
Lantas siapakah dia?
Pelangi senja selepas hujan itulah dia kawan.

Kostan Istanaku (Sekeloa Timur), 29 Juni 2010, 04.54 pm

KAU TITIPAN SANG MAHA RAHMAN

Raut wajah itu lugu penuh harapan, kawan.

Garis lengkung senyumannya menjadikan langit tersenyum pada dunia.

Bahkan seorang Muhammad bagian darinya, sebelum Ibundanya pergi dari hingar bingar dunia.

Mata bercahaya ingatkan kita akan sebuah kata ketegaran.

Untaian-untaian harapannya dalam lisan do’a mampu membelah atmosfir dunia.

 “Janganlah kau hardik mereka!” Tuhan berkata dalam surat cintanya kepada manusia.

Ku elus lembut rambutnya dengan ikhlas, Malaikat pun tersenyum menatapnya.

Jangan kau ragu, wahai wajah lugu penuh harapan.

Langkah kecilmu adalah sebagian sejarah peradaban,

Orang terdahulu telah berkata itu, kawan.

Hapuslah sudah airmata sisa sedihmu kemarin, kawan.

Ku tahu luasnya kasih Tuhanku dari mu, kawan.

Ku tahu indahnya dunia ini dari senyummu, kawan.

Ku tahu tegarnya menghadapi dunia dari kepalan rapuh tanganmu, kawan.

Ku tahu itu semua, kawan.

Karena kaulah titipan Sang Maha Rahman.

Karya : Fitrah Nurjaman
Puisi ini didedikasikan untuk Anak Yatim seluruh dunia....

Klimaks

Saat-saat itu,
dimana deru mesin sepeda motor bebek ku tersengau.

Roda-roda motor aku pecut dengan tarikan gas yang memaksa tergesa,
roda belakang seakan ingin mengejar sang roda depan.

Lampu lalu lintas sedang memihak pada ku,
terimaksaih kawan; si lampu merah yang tak menghambat.

Jalur alternatif itu mendadak lancar tak dirundung macet kendaraan yang memiliki keperluan yang lain.

Mentari Sumedang menuntun laju motor bebek butut ku di pagi itu.

Dan jam 7.00 pagi sampailah sudah semua harapan yang ku catat dalam buku diary yang ku titipkan dilemari rak buku ku.

Bandung dan Purwakarta,
sore nanti akan ku kabarkan berita bahagia dari ruangan sidang yudisium jurusan Administrasi Negara ini.

"Fitrah Nurjaman lulus dengan sangat memuaskan...... " []


21 Oktober 2011,
Terimakasih Ya Rabb Alloh SWT, Rasul ku Nabi Muhammad Saw, kepada kedua Orang tua ku, Kakak-kakak ku, Guru-guru ku, Sahabat-sahabat ku, dan semua yang mengenal serta mendo'akan aku.

Setitik Surga di Dunia

Purwakarta, 07 Maret 2012

Kawan, saat ini tepat pukul 14.30 WIB. Aku berada di tempat yang begitu nyaman, tenang, asri, dan tentram. Tak kuasa lidah ini menyebutnya "Setitik Surga di dunia". -Situ Wanayasa- yang begitu bersahaja.

Saya tak terlalu pintar berkata-kata menggambarkannya. Namun akan ku coba menceritakannya kepadamu, kawan. Tentang tempat yang indah rupawan ini.

Aku lihat lingkaran situ ini tak sempurna namun berhiaskan udara yang melambai-lambai memanjakan saluran pernafasanku yang telah berkarat. Begitu menenangkan, kawan.

Aku duduk di antara anak tangga pendopo yang teduh. Tatapan kosong itu pun sirna sudah, yang ada hanyalah tak jemunya bola mata ini menyisirnya. Riak ombak air yang begitu ramai namun tenang. Susunan pohon pinus riuh teduh hiasi daratan kecil ditengah permukaannya.

Garis samar wajah Tangkuban Perahu di rundung kabut, hijau pudar warnanya, kawan. Pantulan sewarna terlihat dari riak ombak halusnya. Ah, sungguh begitu selaras, kawan.

Tak jarang pasangan kekasih yang terpesona olehnya. Bisa ku bayangkan bila libur menyambanginya, pantaslah ramai keberadaannya. Kesahajaan yang takkan pernah usang.

pesona ini akan berkepanjangan, kawan. []

Friday, February 24, 2012

Uzlah ku.

Kota pensiun yang ku pijak ini begitu tak wajar. Lihat saja jam digital kubus dekat -CPU- ku itu terpajang menggerutu. "31,5 c ini tak biasa!" ketusnya.


Debu-debu itu berterbangan dengan lenggangnya. Hujan? Itu hanya cerita lalu.

Matahari begitu sakti dengan bulatan sempurnanya. Ah, tak kuasa mata ini memandangnya!

Bulir-bulir keringat bergelayutan di kening, hidung, bahkan ketiak. Lengket sudah sekujur tubuh.

Tapi....

Anak-anak tangga pendopo itu, suguhkan ketentraman. Coba kau perhatikan itu baik-baik!

Ombak-ombak kecil dari kayuhan pendayung -getek- dengan anggun bergemulai menyentuh dinding-dinding batu pondasi situ.

Jemari ini rasa-rasanya ingin menyentuh riakkannya, agar panas ini tak kembali menampar.

Selepas pulang nanti, kau menjadi telaga dalam benakku.

Monday, February 13, 2012

Dua Lima Lebih Tiga Bulan...?

Semilir udara pagi senin ini masih sama dengan hari sabtu kemarin. 04 Februari 2012, tanggal bersejarah bagi salah satu kakak yang juga sahabat kami. Sabtu pagi itu yang teduh dan penuh kebahagian bagi kami selaku adik-adik kelasnya, menghadiri undangan darinya. Kami tahu kau begitu bahagia, kang. Setiap kami di rangkulnya erat dengan pelukan hangatnya. “Terimakasih, akhi.” Itulah kata-kata yang terlontar darinya dengan senyuman yang tak luntur-luntur setiap kali kami bertutur, “Barakallah, ya Akhi.”

Sahabat yang juga kakak kami ini begitu bahagia di hari itu. Senyum yang sumringah terpajang indah di wajahnya sebagai tanda kebahagiannya yang tak bisa di tutupinya. Dan tak ada salahnya bila sebuah peribahasa -raja sehari- tersandang di pundaknya saat itu.

Kebayoran baru kala itu begitu lapang, tak ada sesak-sesak kendaraan bermotor berjubal sepanjang jalan. Yang kali ini bisa ku bilang seperti jalan terminal simpang di kabupaten asal ku. Sekali lagi kami begitu ikut berbahagia. Lihat saja persiapan kami untuk menghadiri undanganmu, seperti; aku yang telah datang ke Jakarta sehari sebelum acara selepas test lamaran kerja di sebuah bank yang tak jelas kapan akan di panggil lagi, seperti salah satu sahabatku yang datang jauh-jauh dari solo dengan bus antar kotanya yang ngepot, seperti sahabat-sahabat lain dari Bandung dan Majalengka yang berdesak-desakkan memadati satu unit mini bus sewaan yang berkapasitas 10 orang. Terlihat nampak lelah mini bus itu bertengger diparkiran masjid depan gang tempat resepsi. Apalah ini kalau bukan tali ajaib yang telah mengikat kita semua dalam bingkai kekeluargaan.

Saat-saat itu dimana kau menjadi pusat perhatian orang banyak karena begitu menentukan, saat-saat itu jabat tangan mu begitu bergetar terlihat dari sisi mana pun, saat-saat itu kau sempurnakan agama, saat-saat itu begitu menegangkan bagi pria mana pun yang baru melakukannya. -Ijab Qobul- terucap dengan lancar di yang kedua kalinya, Alhamdulilah. Semua yang menyaksikan ada yang menangis terisak-isak karena terharu bahagia, ada yang tersenyum-senyum karena tak sanggup menumpahkan air matanya, dan ada yang meninju-ninju udara di bangku tamu luar tenda dengan berucap tegas tapi pelan, “Allahhu...akbar.”

Sunday, February 12, 2012

SEA Games I comming...!


Animasi by: Fitrah Nurjaman
Berawal dari niat lari-lari kecil di sekeliling bundaran situ buleut, nampak ramai jalur  lingkaran itu. Ahad tepatnya; dimana rasa malas bisa aku bunuh selepas mata ini terobati rasa kantuknya karena secangkir kopi manis kental. 

****

Hop-hop, hop-hop begitu caraku mengatur langkah lari kecil ku agar hemat tenaga tapi tetap eksis berlari. Namun sebelum berlari, ku parkirkan motor bebek andalanku di salah satu rumah saudara. Lengkap dengan; helm kesayangan, dompetku si brangkas buluk, dan SIM serta lengkap dengan STNK (jaga-jaga kalau pak polisi pengen kenalan).  Ku simpan mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi berlari (yah, paling 200 meter-lah).

Putaran pertama masih dengan konsistensi kefokusan yang tinggi dan akselerasi yang cukup pasca pemanasan peregangan otot yang kaku. Rampung sudah ku selesaikan dengan catatan waktu kurang lebih 1 menit 13 detik. Celoteh ku dalam pikir, "wah klo gini bisa ikutan seleksi SEA Games nih tahun depan".

Thursday, February 9, 2012

SENJA ITU.... HUFH, HANYA MIMPI!


Senja kala itu mendung; tak nampak seperti biasanya, namun tak nampak juga datang hujan memenuhi undangannya. Ah,gak bakal hujan. Acil menerka-nerka dalam pikirnya sambil memandang langit senja kala itu. Matanya agak sayup karena lelah yang mendahaga dikerongkongannya serta disibukkan bunyi-bunyian yang berasal dari dalam perutnya; mungkin cacing dalam perut berdemo menumpahkan aspirasinya. "Kapan yah suara itu terdengar lagi?", "Sabar Cil, bentaran juga bakal Adzan Maghrib." Emak mencoba menenangkan  gemuruh perut Acil yang meletup-letup. Memang berat ibadah yang ia kerjakan itu, walau masih dalam taraf pembelajaran di se-usia Acil yang baru beranjak enam tahun.

****

15.19 WIB; "Allahu Akbar, Alla.................hu Akbar." Muadzin bersahutan dari mushola-mushola kampung. Kampung yang mempunyai nama singkatan BBC itu. Awal sore itu, tak jarang penghuni kampung yang tersentak bangun mendengar suara adzan Ashar yang merdu tapi tegas, termasuk Acil yang tertidur di dipan ruang tengah rumah. Mereka duga adzan itu sudah masuk waktu maghrib. "Alhamdulillah, Akhirnya Adzan juga." sahut Acil dengan keadaan setengah sadar sambil merapihkan wajah yang agak kacau setiap kali dia bangun dari tidur. Ia bergegas ke meja makan, tempat paling favorit dari bagian rumahnya saat-saat waktu berbuka puasa. "Loh kok belum ada apa-apa, Mak?", "Ya, belum Cil. Kan ini masih Ashar." Emak mengingatkan. "Wah, masih lama dong ya?", "Udah sana pergi Shalat aja, Cil!", bergegaslah Acil mengambil Wudhu selepas Emak mengajaknya Shalat Ashar.

Monday, January 30, 2012

JKT di 18.30-22.0 PM


“Terminal Kampung Rambutan”, begitulah nama tempat tujuan saya tersemat dengan apik di salah satu papan penunjuk arah berwarna dasar hijau itu. Saya rasa inilah Jakarta di 18.30 Pm. Papan itu semakin menghilang dari pelupuk mata ditikungan tajam arah terminal yang dimaksud. Bus antar kota yang saya naiki ini semakin menurunkan kecepatannya disekitar 20 km/jam. Saya yakinkan lagi keberadaan saya ini dalam hati, kini saya disini. Benar kawan saya disini, Jakarta yang amat kalut.
 
Perlahan saya coba turun dari bus dan menginjakkan kaki di kota ini. Sungguh amat tinggi intensitas mobilisasi mereka. Lihat saja di sekeliling saya, kawan. Mereka gemar sekali mengenakan masker yang melekat rapat menutupi setengah wajahnya, membuat sulit untuk menebak ekspresi saat diajak berbicara. Mereka terbiasa dengan antrian panjang saat sore hari di halte busway. Mereka rela menghibur dirinya dengan membenamkan kedua daun telinganya di head phone mereka. Mereka terbiasa berbicara dengan suara yang harus di lantangkan dan itu lumrah kata mereka karena setiap hari disuguhkan oleh; deru mesin mobil, kelakson kendaran, teriakan penjajak koran dan belum lagi nyanyian pengamen yang silih berganti seperti sudah di jadwal dengan rapih penampilan mereka. Ini sungguh tak biasa bagi seorang pemuda kampung yang mengadu nasib di kota sebesar ini.

Saturday, January 21, 2012

2K5 Langkah Awal Yang Bermakna


Saat ini saya masih berada di Bandung dengan segala memorial yang sulit dilupakan. Dimana dulu, awal perintisan jalur-jalur akademik mulai terukir di Ibu kota provinsi ini. Tapi saya tersadarkan dengan selang waktu yang menghentakkan diri ini dan disaat ini, kawan. Mengingatkan akan segala hal yang sudah kita lalui di “kota perjuangan”. Begitulah para aktivis mahasiswa menyebutnya pada lagu “halo-halo bandung” yang diplesetkan itu. 

Begitu haru suasana saat ini sahabat, bahkan langit di Bandung pun mendung dan meneduhkan semua yang ada di dalamnya. Termasuk para supir angkot yang terus bekerja memenuhi setoran pada majikannya, para satpam yang sedang bertugas di Universitas tempatku menempa ilmu, para tukang parkir sepanjang garis bahu jalan di Dipati Ukur yang sibuk meniupkan periwitan dan melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan para supir, dan para muadzin yang mengumandangkan adzannya di masjid-masjid dekat tempat saya indekos.

Hati ini serasa sudah terikat dengan kekeluargaan yang kita bangun. Sejak awal mengenal laga lingkaran mentoring yang menggairahkan sel-sel otak di kepala dan kelapangan hati yang terukir dengan apik di dada ini. Kenangan ini sungguh sulit saya lupakan, kawan.

Monday, January 2, 2012

Perayaan Tahun Baru, "Setan"

31 Desember 2011,

"Salam kesenangan, buat semua yang diperbudak-nya.", sapa setan di penghujung akhir tahun.

Kawanku, malam ini persis dengan malam dimana puasaku dan puasamu berakhir beberapa bulan yang lalu. Namun gema takbir, tahmid, tahlil tak terdengar kali ini. Bahkan mushola-mushola tak seramai malam itu. Kini semua telah tumpah ruah di jalanan. Dimana saat itu hari perayaan kebebasan aku untuk menggoda mu wahai manusia. kembang api saat ini lebih meriah dibanding -malam takbiran- yang katamu itu hari kemenanganmu, kawan. Sebenarnya kau merayakan hari kebebasanku yang aku biaskan menjadi berbeda ceritanya, yaitu hari kemenangan kau berpuasa sebulan penuh. Sekali lagi ini banyak yang tertipu mungkin juga kau. kawan, ujarnya.

Lihat saja bagaimana antusiasnya mereka mempersiapkan untuk menjelang alih tahun ini. 2012 telah datang kawan dan 2011 hanyalah kenangan, maka lupakan saja semua kenangan itu dan kita berpesta semalam suntuk ini untuk kesenangan yang berikutnya. Akan kita penuhi di tahun berikutnya dengan happy, tak usah kau hiraukan urusanmu dengan Tuhan kita, rayunya.

Lagi-Lagi Soal Cinte...: Politik Emang Butuh Cinte...!!!

"Cinta kepada hidup.... memberikan... senyuman abadi, walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita....... ho.... wo......................" sambil terpejam Eep meresapi lagu yang ia nyanyikan sembari dituntun penyanyi aslinya dari headphone MP3-nya yang terpasang rapat di kedua telinganya malam itu dan tumben syair yang ia nyanyikan benar apa adanya tanpa di rubah tatanan bahasanya ke betawi.

"Woi.... berisik....!!!" koor penghuni kost termasuk aku. Dan Eep pun berbisik sambil meneruskan hobinya yang ia asah diam-diam itu. Aku dekati dia yang masih asik dengan aktivitasnya.

"Ep..., ep.....?" tak di gubris sapa ku olehnya. Ku coba lagi menyapanya dan kali ini dengan volume level 10, "E..ep......"

"Eh..... Iye ade ape?" terpanjat ia sambil membuka headphone-nya.

"Ckckckckck, bener-bener dah ente. Tuh musik ampe bikin telinga ente budek, apa?" Ia pun hanya bisa menjawab dengan senyuman kecil kecutnya.

"Iye, ade ape si? ganggu bener, gak tau kite lagi seneng kali ye?"

"Iiiiidih, die bawaannye jadi sewot...."

tiba-tiba suara keras menyambar di tengah obrolan kami bak petir, "woi berisik...!!!" koor protes penghuni kost yang lain.

Kami berdua hanya bisa saling menatap dengan wajah 'melongo'. "Hihihihi." dan kami susul dengan tawa kecil yang cukup menggelitik ketiak kami.

"Ep, pindah tempat nyok?" ajakku dengan muka geliku.

“Ayo dah. Di mari kurang kondusip." jawabnya dengan logat aslinya.

Teras depan menjadi pilihan paling nyaman buat perbincangan kami yang strata negarawan, klaim kami. Maklumlah Eep adalah seorang pegawai di sebuah perkantoran yang memiliki cita-cita sebagai kepala negara di republik ini. Bahkan saking hebatnya, dia sudah memikirkan strategi politiknya untuk 2 tahun menjelang perhelatan akbar yang akan diselenggarakan dan amat di nanti-nantikan oleh bangsa ini setiap 5 tahun sekali itu. Sedangkan aku adalah si bujang yang berprofesi sebagai mahasiswa semester akhir dengan impian-impian yang masih mengendap dalam benak, namun salah satunya yang telah mencuat adalah menjadi pesaing berat bagi Eep untuk berlaga di pemilu berikutnya. Ya, ini-lah dunia politik kami yang cukup harmonis dan saling menghargai. Aneh memang.

Tuesday, December 20, 2011

"Sepasang Malaikat Menamparku....!!!"


Pagi itu pukul 08.00, ponsel genggamku berdering dengan nyaring dan pada layarnya tertera salah seorang nama teman SMA dulu yang cukup lama kita tak saling menyapa. Tanpa berlama-lama membuatnya menunggu, maka aku jawab silaturahim hangatnya.
"Assalamualaikum, Fit?" sapa ia dengan hangat.

"Wa'alaikummussalam, Sehat Na?" Jawabku sambil menanyakan kabarnya.

"Alhamdulillah sehat. Fit gimana?"

"Alhamdulillah bae juga. Ada ape nih tumben nelpon?"

"Ah, Silaturahim aja."

"Ow, gitu." jawabku

"Gimana nih, Pak panitia. Kapan kita reunian SMA?"

"Iya, masih sibuk nentuin hari nih. Sabar ya, semoga sudah dapat di publish bulan-bulan ini. Na."

Dan kami pun larut dalam obrolan nostalgia SMA. Ia bercerita dan aku mendengarkan sambil menyeduh -tea full cream-, minuman favoritku ketika pagi menyongsong. Ketika ku menikmati minuman yang juaranya setingkat lemon tea. Ya, -lemon tea- minuman dari bahan teh kesukaanku yang lainnya, dimana teh yang di tambahkan sari pati jeruk lemon, emmm... mantap. Ternyata teman lama ku ini membicarakan hal cukup serius yang berawal dari obrolan basa-basi kita di awal telpon tadi. 

Tuesday, December 13, 2011

Pulang Kota

Pagi buta itu, disaat semua tertidur lelap. Sesosok pria seperempat abad sudah melangkahkan kakinya menuju stasiun antar kota untuk tujuan yang hanya ia dan Tuhan tau. Selepas shalat Subuh ia sudah bersolek dan membopong tas ransel andalannya, berisikan; pakaian serta oleh-oleh yang sudah ia siapkan sejak kemarin sore saat pulang kerja. Ia menyundutkan sebatang kretek kesukaannya ke kriket miliknya sambil duduk di bangku calon penumpang yang sudah nampak reyot dengan warna biru pudar kusam. Ia menyasap batang demi batang kreteknya sambil berharap kereta antar kota yang hadir dua kali distasiun tempat ia menunggu datang dengan semua harapannya. Dua kali dalam sehari saja kedatangannya, kawan. -Sang Kereta harapan-; dengan jadwal pemberangkatan pagi dan sore hari; alias pagi buta pukul 05.00 WIB dan sore petang pukul 20.00 WIB. Hanya gerbong-gerbong tua setia itu yang sudi menampung kaum sudra sepertinya. Tragis memang.

Saking jarangnnya, enam bulan yang lalu pria ini memutuskan untuk hal yang sama. Selepas shalat Subuh ia sudah bersiap diri berdiri di stasiun menanti sang kereta harapan, namun karena oleh-oleh tertinggal di indekosnya maka ia pun kembali. Sesampainya di stasiun itu, ia telat 5 menit dan kereta harapan itu telah pergi meninggalkannya, yang terlihat hanyalah pintu belakang gerbong yang terbuka seolah-olah berkata, "selamat tinggal, bye-bye." lenyaplah sudah harapannya di pagi itu dan menunggu kembali sampai sore petang.

Tuesday, November 29, 2011

Lagi-Lagi Soal Cinte... : Dilema


Malam itu semuanya terasa hening dan terlihat nampak cerah-cerah saja, bahkan bintang nampak bergelayutan di langit malam saat ku berbaring di atas kasur ternyaman sedunia, pengklaiman sepihak dari ku. -Humairah- itu dia tempat yang ternyaman di sudut indekos kamarku; untuk saat-saat melepas lelah level sepuluh, mengerjakan tugas-tugas kuliah, berbincang dan menjamu kawan atau tamu yang berkunjung. Karena tak ada sofa seperti di ruangan tamu depan rumahku dikampung. Hanya humairah-lah yang empuknya seperti sofa diruangan 2,5 x 3 meter ini.  Selepas ba'da Isya, sepeti biasa aku berbaring sambil memegang mini pocket diary yang kumal dan sebatang pulpen hitam merk pilot yang tutupnya telah hilang sepekan yang lalu, ku coba gores-goreskan  semua imajinasi dan impianku untuk di catat sambil menengadahkan wajah ke langit malam.

“Nah beres.” lembar demi lembar telah penuh ku tuliskan untuk cerita di Ahad tadi. “Lumayanlah dapet segini.” komentar ku sambil membaca kembali tulisanku dalam hati. Tiba-tiba dikeheningan itu terdengar suara samar-samar dan timbul tenggelam, “Hihihi....... hihihi..... hihihi.....”. waduh... apa lagi nih, gumamku dengan bulu kuduk yang push up naik-turun. Rasa penasaran yang mendera dan rasa ingin tahu sudah meninju-niju didalam benakku. Inginku bangkitkan tubuh ini yang telah merebah dengan nyaman namun terasa sulit sekali untuk dilakukan, seperti tiba-tiba badan ini tertiban dua karung gabah kering atau lebih tepatnya tertiban –Eep- teman ku yang tambun itu, huft beratnya.

“Hop......” ku paksakan saja untuk menegakkan badan ini yang sebenarnya tak terlalu gemuk. Ku pancangkan telingaku untuk mencari sumber suara yang horor dan misterius itu. Setelah ku baik-baik mendengarkannya dan sudah dapat dipastikan sumbernya dari luar ruangan ini. “Cklek” ku intip dari balik gordeng jendela kamarku dengan rasa takut yang merongrong seruangan tempatku berdiri.

“Astagfirullah...” teriakku kaget setelah melihat sesosok hitam besar duduk di depan kursi teras  yang kondisinya remang-remang, maklum lampu lima watt-lah yang bercahaya kuning menggantung di luar sana. 

Saturday, November 26, 2011

SMS Dari Sahabat....

Kemarin aku mendapatkan HP-ku dalam keadaan bergetar dan musiknya terlantunkan dengan kencang. Rupanya aku mendapat sms kiriman sahabat lama dari jakarta, yang berisi seperti ini:

“Aku minta pd Allah swt setangkai bunga besar, dia beri aku kaktus besar berduri.
Aku minta pd Allah swt hewan mungil nan cantik, dia beri aku ulat berbulu.
Aku sempat sedih, kecewa dan protes betapa tdk adilnya ini.
Namun kemudian kaktus berbunga sangat indah sekali dan ulat pun berubah menjadi kupu2 yg cantik.
Itulah jln Allah swt, indah pda waktunya.
Allah tdk memberi  apa yg kita harapkan, tetapi dia memberi apa yg kita perlukan walau kadang SEDIH, KECEWA, dan TERLUKA.”

Jempol Yang Berkata....

Jempol melayang ke-udara dan terpantulkan satelit kembali masuk kelayar monitor CPU ku dan tersangkut distatus ku, sepertinya kali ini si jempol bertebaran dimana-mana dan eksis, gak cuman di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Kalau kita makan pasti si jempol di gunakan, kalau lagi nulis si jempol menuntun jari yang lain didekapannya, kalau mau 'nyiuk' Nasi dari dandang si jempol mengomandoi para pengikutnya, dan bila si jempol teracungkan ke atas maka dia mewakili isi hati yang suka dan ramah.

"Jempol.... jempol emang jempolan", menandakan dia si juaranya. Kawan, menimba si jempol pun memainkan peranannya mengacungkan sang ember yang telah lelah menyingkuk air sebanyak-banyaknya dari dalam sumur. Orang bernyanyi ber-akapela SI JEMPOL yang tak di undang pun datang memeriahkan suara lantunan sang penyanyi dengan menjentikan pasukannya.