"Cinta kepada hidup.... memberikan... senyuman abadi,
walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita....... ho....
wo......................" sambil terpejam Eep meresapi lagu yang ia nyanyikan sembari
dituntun penyanyi aslinya dari headphone MP3-nya yang terpasang rapat di
kedua telinganya malam itu dan tumben syair yang ia nyanyikan benar apa adanya
tanpa di rubah tatanan bahasanya ke betawi.
"Woi....
berisik....!!!" koor penghuni kost termasuk aku. Dan Eep pun berbisik
sambil meneruskan hobinya yang ia asah diam-diam itu. Aku dekati dia yang masih
asik dengan aktivitasnya.
"Ep...,
ep.....?" tak di gubris sapa ku olehnya. Ku coba lagi menyapanya dan kali
ini dengan volume level 10, "E..ep......"
"Eh.....
Iye ade ape?" terpanjat ia sambil membuka headphone-nya.
"Ckckckckck,
bener-bener dah ente. Tuh musik ampe bikin telinga ente budek, apa?" Ia
pun hanya bisa menjawab dengan senyuman kecil kecutnya.
"Iye,
ade ape si? ganggu bener, gak tau kite lagi seneng kali ye?"
"Iiiiidih,
die bawaannye jadi sewot...."
tiba-tiba
suara keras menyambar di tengah obrolan kami bak petir, "woi
berisik...!!!" koor protes penghuni kost yang lain.
Kami
berdua hanya bisa saling menatap dengan wajah 'melongo'. "Hihihihi."
dan kami susul dengan tawa kecil yang cukup menggelitik ketiak kami.
"Ep,
pindah tempat nyok?" ajakku dengan muka geliku.
“Ayo
dah. Di mari kurang kondusip." jawabnya dengan logat aslinya.
Teras depan menjadi pilihan paling nyaman buat
perbincangan kami yang strata negarawan, klaim kami. Maklumlah Eep adalah
seorang pegawai di sebuah perkantoran yang memiliki cita-cita sebagai kepala
negara di republik ini. Bahkan saking hebatnya, dia sudah memikirkan strategi
politiknya untuk 2 tahun menjelang perhelatan akbar yang akan diselenggarakan
dan amat di nanti-nantikan oleh bangsa ini setiap 5 tahun sekali itu. Sedangkan
aku adalah si bujang yang berprofesi sebagai mahasiswa semester akhir dengan
impian-impian yang masih mengendap dalam benak, namun salah satunya yang telah
mencuat adalah menjadi pesaing berat bagi Eep untuk berlaga di pemilu
berikutnya. Ya, ini-lah dunia politik kami yang cukup harmonis dan saling
menghargai. Aneh memang.