Tuesday, July 17, 2012

Pulang

Aku berjalan di gelapnya malam di tuntun oleh remang-remangnya lampu jalanan.

Sepasang sepatu yang telah haus alasnya ku paksa meladeni pintaku.

Sebuah amplop coklat besar ku apit di tangan kananku, disitu ku simpan segala harapan.

Angin malam ini begitu menusuk tak karuan ke paru-paru, hingga ku pilih racun nikotin menghangatkannya.

Deru mesin mobil saling bergantian melewati halte yang ku acuhkan.

Ku lihat puluhan poster usang yang telah compang-camping terpasang di langit-langit dan dindingnya, pasrah.

Sampai kapan? kan ku temui berita yang menyedihkan tentang negeri ini dari koran-koran yang sudah tak bertuan, berserakkan di jalan.

Rasa-rasanya otak ini kekurangan O2 di tengah perjalanan yang akan segera berakhir.

"Mama, maafkan ananda yang belum dapat menebus restu mu di pagi tadi", lirih.[]




Kisah dari seseorang yang merindukan "Pulang".

Wednesday, June 27, 2012

Prahara Gang Ujung Kampung dan Ajun Rombeng 1


Gang Haji Sanip, sebuah gang pojokkan ujung jalan di kampung kami. Gang yang nyempil diujung jalan buntu sana tak akan ramai bila tak ada -Ajun Rombeng-, sang pemuda kampung pengangguran tamatan sekolah menengah kejuruan. Ajun di kenal sebagai orang yang periang, supel, dan murah senyum atau lebih tepatnya bisa disebut doyan nyengir. Tak jarang gigi kuning langsat pengaruh kerak tembakau berkilat-kilat hiasi senyum lebarnya. Tapi terkadang Ajun Bengal juga. Bila berjalan, celana jeansnya terseret-seret kedodoran. Maklum celana ini adalah gacoan-nya. "Celana rombeng tapi keren!” tembalnya bila ada yang mengolok-olok celana kesayangannya.

Saking cintanya Ajun dengan celana kumelnya, dia jarang ganti kecuali bila Emaknya yang nyuruh. Pernah tempo hari, itu celana udah terkapar di ember cucian Emak. Ajun dengan diam-diam mengambilnya tanpa ada yang tahu kecuali Tuhannya dan dia. Untung aje keselametin, bisa mati gaye gue klo di cuci, gumamnya sambil meninggalkan kamar mandi belakang. Mending pake sarung dah! dari pada pakai celana yang laen, tambahnya.

Thursday, June 14, 2012

Lagi-lagi soal Cinte: Jalan-Jalan dan Obrolan SMS

"Sob, besok Ahad beres subuh kita jalan nyok?" ajak Eep sesampainya ia di kosan selepas pulang kerja.

"Kagak Dah, Ane mau nyuci dulu besok." jawabku sembari rebahan di atas –humairoh-, kasur terempuk pelepas lelah. 

Tumben Eep tak langsung menembal jawaban ku yang mengecewakannya. “Ayolah, fit!”, “Sok, sibuk bener, luh!”, “Kagak Solder lu!” (maksudnya Eep; solider atau Sohib) biasanya ia mendesak dengan senjatanya itu. Ia malah terheran-heran melihat kamar kosan 2,5 x 3 meter tempatku berada. Matanya terbelalak menyisir kamar dari kanan ke kiri dan ia ulangi hingga beberapa kali, hingga ia yakin ini kamar sobat tempat curhatnya. Tumpukkan buku-buku fiksi tertata rapi di rak-nya, meja rendah menompang PC plus dengan monitor tabung serta keyboard usang berwarna hitam mengkilap, lemari baju berukuran badan Eep yang berpintu dua bertengger dipojokkan kanan dekat meja rendah tadi, humairoh melintang ke Barat dipojokkan kiri ruangan lurus dengan kiblat shalat, dan karpet karet blok warna warni tertata selaras menjadi alas humairoh.

“Wes, tumben rapih bener ni kamar. Kesambet ape Luh, Fit?” komentar Eep menyindir.

“Ape sih, ente, Ep? Yah, boleh dong sekali-kali ni kamar rapihan dikit.” Eep hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum bangga padaku.

“Gimane ni soal besok?” Eep memulai genderang perang.

“Waduh sorry dulu, dah. Ane kagak ikut ya?”

“Ayolah, Fit!” Eep sudah mengangkat senjata dengan letusan peluru desakkan pertamanya.

“Beneran dah, klo kagak ada ni cucian seminggu, ane ikut dah.” argumenku bersiaga.

“Sok, Sibuk bener, luh!” Eep menembak peluru desakkan keduanya tepat mengenai dahi.

“Waduh bener dah, Ane kagak ikut yeh?” tanyaku melobinya.

“Wah, kagak solder dah luh!” Doorrrr, letusan ke tiga dinamit desakkannya.

“Ok deh klo ente maksa. Cuman bantu ane ni malem nyuci yeh?”

“Ok dah, siap...” jawabnya lantang menyepakati perundingan damai kita.

Malam itu dua ember penuh dengan rendaman pakaian di hantam habis oleh kita berdua. Hingga air di toren hasil nampung bapak pemilik kosan sedari siang habis tak bersisa. Alhasil jemuran atas depan kamarku penuh dengan pakaian basah hasil kerja bakti kami.

“Mantap dah, sob.” ujar Eep sambil mengusap dahinya dari keringat dengan lengan kanannya. Aku hanya bisa tersenyum dan berterimakasih kepadanya, “Trims, sob.”

Dan kami lepas lelah di kamar masing-masing, aku lelap di manjakkan humairah dan Eep terkapar mendengkur di atas kasur buluknya yang sudah mengkempis, karena hilang elastisitasnya di tiban berat badan sahabatku yang hampir 2 kuintal selama satu tahun ini. Ya, kasur buluknya ini baru berusia 1 tahun dipakai sahabat tambunku ini atau lebih tepatnya di tibannya. Karena ini sudah ke tiga kalinya ia mengganti kasur di tahun ke duanya berkamar di sebelahku. Bisingnya dengkuran Eep kini tak terlalu mengganggu di telingaku, serasa seperti suara dengkuran lembu di tengah sawah tempat bermainku saat kecil dulu.

Thursday, June 7, 2012

Garis Santolo di ujung Garut Selatan....

Subuh itu, kami satu tim survei yang berjumlahkan 5 orang bersiap-siap untuk pergi menuju sebuah pantai yang berada di Garut Selatan. Selepas shalat Subuh kami langsung memanaskan tiga sepeda motor yang kami tunggangi dari Bandung ke Kota Garut malam kemarin. Dan kini mereka menjadi teman setia kami yang akan menghantarkan kami sampai ke tujuan, Pantai Santolo. Ya, Pantai Santolo tujuan kami. Karena telah memikat setiap mata kami sejak di Bandung jauh-jauh hari, hingga mau kami berjauh-jauh menyambanginya.

Dan ini panorama perjalanan kami;
Panorama gunung dari kejauhan


Masih dengan pemandangan gunung dan permukiman di kaki gunungnya

Saturday, May 26, 2012

GEROBAK GORENGAN DAN WAJAH TUANYA...


Depan ujung jalan bergapura itu begitu bersih, sebuah gerobak gorengan bertengger di samping gapura menghadap jalan raya didepannya. Entah mengapa sepeda motor bebek yang saya tunggangi ini tiba-tiba mau merapat kebahu badan jalan dekat gapura dan gerobak.

"Bu, punten gorengan na nyuhun keun tilu rebu eun." pesan saya.

"Mangga, A." jawab sang pedagang dengan senyumnya.

Kursi jongko dekat gerobak menjadi tempat saya menikmati gorengan hangat di pagi dingin itu.  Perjalanan pulang dari kota Bandung ke kota asal terhenti di gang itu. Kepulan asap gorengan begitu bergelora di tangan seperti siap untuk mengganjal saya punya perut di sarapan pagi saat itu. 

Friday, May 4, 2012

May Day Yang Merona


Selepas subuh itu, aku telah bergegas menyiapkan apa yang harus disiapkan untuk pagi nanti. Jam dinding nampak congkak tak mau berbagi kemurahan hatinya untuk wajah letih sisa kemarin ini. Pukul 05.00 WIB, semuanya harus sudah rapih masuk kedalam kantung hitam yang selalu aku slempangkan di badan kurus ku ini. Pulpen, handPhone lengkap dengan headset-nya, sekotak obeng beserta kroni-kroninya, dan name tag sang kunci masuk kekawasan itu.

Perlengkapan kerja telah siap! Ok, selanjutnya kita bebenah diri. Kamar mandi dan pakaian seragam sisa kemarin menjadi tujuan. Gayung demi gayung berdayung di bak mandi yang dasarnya tak nampak karena terhalang oleh endapan lumpur sumur akibat mesin penyedot air tak berpenyaring. Maka tak jarang wangi sabun dan lumpur selalu bertempur di sekujur tubuh usai mandi. 
 
Begitu sibuk subuh itu di kamar kontrakan dua kali tiga yang menghabiskan se-per-empat gaji ku.

Friday, April 20, 2012

6 Bulan Yang Menghilang

Wajah lugu, polos, dan periang itu telah lama tak terlihat akhir-akhir ini. Teman kecil sebayanya selalu berkumpul di ujung siang dekat pohon jambu batu depan halaman rumah neneknya. Satu persatu daun telah berguguran jatuh tertebak angin. Kamana Lala teh?, gumam Caca salah satu teman karibnya. 

Pemilik wajah itu kini telah pergi ke kabupaten tetangga sebelah karena pindah kerjaan orang tuanya. Tak ada kabar jenaka tentangnya lagi pasca kepindahannya itu. Jambu buah favoritnya begitu merdeka bergelantungan dimana saja di dahan pohonnya. Maklum saja, itu bisa terjadi lantaran sang penggemar buah telah lama tak menyambanginya. 

Permainan masak-masakkan merupakan permainan yang selalu asik di mainkan olehnya dan kawan-kawan. Tak jarang tanaman tetangga tak pernah utuh berdaun sempurna. Daun mamangkokan, bunga mawar, bunga melati, daun jambu pastilah memenuhi dalam daftar komposisi masak-masakannya. Oh ya, tanah dan sebotol air pun menyertai unsur hidangan bohong-bohongannya itu. Dedaunan biasanya  mereka jadikan masakan kecuali daun jambu. Ya, daun jambu yang cukup lebar seukuran dengan uang kertas itu di jadikan alat tukar tak ubahnya uang yang mereka sebut -duit-. Tanah dan sebotol air biasanya mereka sulap menjadi seonggok "kue ulang tahun" yang begitu sepesial versi mereka. Lagi-lagi dunia anak mereka begitu menyenangkan hari-harinya di penuhi dengan bermain. Cerdas bukan?

Monday, April 16, 2012

Wajah Cinta

Lama rasanya tak menulis lagi. Salam sahabat pembaca yang budiman? Rupa-rupanya masa 'alpa' saya tak menulis di blog ini, menjadikan saya lupa bagaimana menulis dengan lumayan apik seperti dulu. Tapi sekali lagi ini langkah awal yang harus di lalui dan semua orang pasti pernah mengalaminya. Ok, kita awali tulisan ini dengan kata "cinta".

Tepatnya malam kemarin, saya lihat wajah cinta kala itu. Begitu santun, ramah, dan menenangkan. "laaillaaaha ilallahhhh..." adzan maghrib telah terkhatamkan oleh para muadzin kondang di kampung. Saat itu begitu tenang dan tak ada yang membayangkan seisi rumah di ujung senja itu akan kedatangan tamu. 

Saya lihat dari sela-sela jemuran pakaian yang sudah saya susun di jemuran depan rumah, nampak begitu ramai di dapur sana. Ya, dapur. Bagi sebagian tamu yang sudah familiar, itu menjadi tempat yang begitu kental akan kekeluargaan baginya dan penghuni seisi rumah.

Tapi dari depan rumah, saya lihat banyak orang lalu lalang di salah satu tetangga. Tanpa ada bahasa sapa terucap yang terlihat hanyalah wajah mereka yang begitu cemas dan langkah kakinya yang begitu terburu-buru seperti ada peristiwa yang akan menggemparkan kampung ini seperti 3 bulan yang lalu, salah satu tetangga yang juga saudara saya tersambar petir saat menjelang isya yang hujan. Lampu bohlam serumahnya mati alias putus karena sengatan petir yang mengancam. Tapi sekali lagi saat ini bukan karena kejadian 3 bulan tempo lalu. Saat ini berbeda, tak ada tetesan hujan yang mengguyur halaman, tak ada petir yang menyalak-nyalak, dan tak ada yang tersambar petir. Namun kekhawatiran mereka hampir sama dengan peristiwa petir itu.

Wednesday, March 14, 2012

Acil "BBC" Namaku


Tak ada yang berbeda, bahkan tak ada yang istimewa dari sebuah kampung di kilometer sembilan jalan Terusan Kapten Halim itu. Jalan raya melintang di depannya masih tetap sama dengan jalan raya kebanyakan. Hamparan sawah menghijau terhampar luas mengelilingi permukimannya. Riuh redah permukimannya terbelah oleh jalur utama yang tersusun dari batu sungai tanpa aspal hasil kerja bakti penduduknya. Mushola-mushola disana sebagai pusat tempat peribadatan, tak ubahnya  seperti kampung mana pun di tanah Pasundan lainnya. Dua garis sungai yang membentang melewati permukiman masih tetap sama; sebagai tempat mencuci bagi para ibu, tempat berkubangnya kerbau-kerbau peliharaan jika terik mentari tak mau berkompromi dengan kuit hitamnya, dan tempat favorit bagi anak-anak bermain dan guyang (renang) pagi atau sore harinya.

Namun hanya satu yang berbeda. Gapura yang setia dengan atap gentingnnya, yang tetap istimewa penuh keramahan bagi siapa saja yang menyambanginya. Plang gang berwarna dasar biru terpancang kokoh dekat gapura walau tulisannya tak terbaca dengan jelas, cat putih-nya telah rontok oleh karat. Kira-kira terbaca –Gg. Babakan Caringin RW 05- yang bagi rabun jauh pasti akan terkilir membacanya.

Kampung yang disebut ‘gang’ oleh plang depan gapuranya ini, tak ubahnya sebuah kampung kebanyakan. Pepohonan begitu subur tumbuh di setiap halaman rumah penghuninya. Pohon rambutan begitu mendominasi menghiasi halaman-halaman rumah disana. Termasuk disebuah rumah panggung tua berwarna merah lusuh dengan halaman yang cukup luas. 

Di ruang belakang rumah itu terdapat sebuah meja makan yang lengkap dengan kursi buatan tahun 1983-nya. Terlihat seorang anak usia enam tahun duduk di salah satu kursinya, sambil memakan lahap hidangan yang tersaji. Tempe goreng, semur ikan bandeng, sambel goang (Sambel yang terbuat hanya dari cabai rawit, garam, dan kencur), mentimun dan lalaban daun singkong rebus. Em, semuanya nampak menggugah selera.

Rambut yang selalu klimis dengan model belahan kanan menyampingnya telah tersusun rapih menyongsong ahad pagi. Langkah kecilnya selalu tak diketahui perginya kemana oleh sang bunda yang sering di panggil -Emak- olehnya. "Eta geura tos makan teh, teu kanyahoan leos na?" begitu keluh Emak setiap kali mendapati putra bungsunya telah luput dari hadapannya. Bahkan pernah suatu waktu di dapati anak ini sudah berpakaian dengan penuh lumpur di sekujur tubuhnya, hanya lingkaran mata dan senyum cengengesannya yang terlihat oleh Emak. Usut punya usut sang putra bungsu telah bermain di sawah Pak Lurah. “Atuh Emak da hoyong mantuan ngabajak abdi, mah.” Jelas putranya mengutarakan alasan polosnya. Emak hanya bisa mendo’akan putra bungsunya ini agar jadi anak yang shaleh selepas mendengarkan alasannya sambil mengelus dada.

Wednesday, March 7, 2012

Lidah tuh tak bertulang, tapi tajam seperti pedang?


Sahabat-sahabat, terkadang kita agak selalu meremehkan sebelah mata mengenai bab penjagaan lidah. Padahal Rasul kita Nabi Muhammad Saw berpesan, bahwasannya kita selaku muslim orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya di anjurkan menjaga lidah dan akhlak. Karena telah di jelaskan bahwasannya apa yang kita utarakan bila gibah, maka kita selayaknya seperti memakan bangkai saudara kita sendiri (Qs. Al-Hujarrat:12)

Apa yang terjadi sekarang? Fenomena program televisi begitu memfasilitasi kita untuk mengasah kemampuan gibah kita agar 'si gibah' lebih berkualitas, Astagfirullah Aladzim. Perang pemikiran sudah terjadi, sahabat. Walau kita terasa di ninabobokan dengan situasi lingkungan yang ada. Kata mereka, "kan sekarang segala informasi sudah tidak ada batas" tuntutan globalisasi katanya.

Apa jadinya bila kita menjadi seperti lupa akan mana yang hak untuk di bicarakan dengan mana yang gibah atau gosip bahasa keren sekarang. amnesiakah kita??? Artis-artis sekarang merubah trend dengan pembahasan barunya, "perceraian jadi musiman???" Sungguh aneh saat ini! Pada hal salah satu urusan yang di benci Alloh adalah ini.

Ada sebuah ungkapan "lidah tak bertulang namun tajamnya seperti pedang". Menurut saya itu benar adanya bila penjagaan tak dilakukan, salah satunya dengan sahum atau puasa. tapi lidah pun bisa menjadi lembut dan bermanfaat. Misalnya menghalalkan yang tadinya haram, contoh kongkretnya; ijab qabul suatu pernikahan. Dan banyak hal yang lainnya seperti menasehati dan lainnya.

Mungkin ini menjadi sebuah renungan bagi saya khususnya dan bagi pembaca pada umunya.

Wallahualam bisawab.....


Saturday, August 1, 2009 at 12:25pm

Ada Apa Pagi Ini ???

Kini Malam Bercerita tentang tenangnya

Ketika Pagi Buta Semua Sibuk Bangunkan Sang Pengkantuk

Puluhan Benih Bangsa Kehausan Ilmu Pagi ini

Ada Apa Pagi Ini ???

Kemana sang Pengajar ???

Pulang Sajakah Aku Tak Peduli

Seakan Urungkan Niat Tuk Ubah Yang Salah

Tapi Itu Bukan Sebuah Jawaban

Maka Hadapi Saja Semua Dengan Ilmu Yang Ada

Walau Sederhana.


Karya : Fitrah Nurjaman

02 Januari 2002

PUTIH, KELABU, HITAM

Hei...
Putih, Kelabu, Hitam
Apa  dia masih ada?
Akar-akar tersesat itu masih ada kawan
Siapa itu yang menatap teduh di balik embun sisa pagi tadi?

Hei, Awan…
Putih, Kelabu, Hitam
Apa Kabar di Senja ini?
Penat sesak aku di jalan raya yang menua
Siapa itu penyejuk di balik bola mata senja kala ini?

Hei…
Dia tak Putih, Kelabu ,Hitam
Berwarna merona wajahnya, kawan
Lantas siapakah dia?
Pelangi senja selepas hujan itulah dia kawan.

Kostan Istanaku (Sekeloa Timur), 29 Juni 2010, 04.54 pm

KAU TITIPAN SANG MAHA RAHMAN

Raut wajah itu lugu penuh harapan, kawan.

Garis lengkung senyumannya menjadikan langit tersenyum pada dunia.

Bahkan seorang Muhammad bagian darinya, sebelum Ibundanya pergi dari hingar bingar dunia.

Mata bercahaya ingatkan kita akan sebuah kata ketegaran.

Untaian-untaian harapannya dalam lisan do’a mampu membelah atmosfir dunia.

 “Janganlah kau hardik mereka!” Tuhan berkata dalam surat cintanya kepada manusia.

Ku elus lembut rambutnya dengan ikhlas, Malaikat pun tersenyum menatapnya.

Jangan kau ragu, wahai wajah lugu penuh harapan.

Langkah kecilmu adalah sebagian sejarah peradaban,

Orang terdahulu telah berkata itu, kawan.

Hapuslah sudah airmata sisa sedihmu kemarin, kawan.

Ku tahu luasnya kasih Tuhanku dari mu, kawan.

Ku tahu indahnya dunia ini dari senyummu, kawan.

Ku tahu tegarnya menghadapi dunia dari kepalan rapuh tanganmu, kawan.

Ku tahu itu semua, kawan.

Karena kaulah titipan Sang Maha Rahman.

Karya : Fitrah Nurjaman
Puisi ini didedikasikan untuk Anak Yatim seluruh dunia....

Klimaks

Saat-saat itu,
dimana deru mesin sepeda motor bebek ku tersengau.

Roda-roda motor aku pecut dengan tarikan gas yang memaksa tergesa,
roda belakang seakan ingin mengejar sang roda depan.

Lampu lalu lintas sedang memihak pada ku,
terimaksaih kawan; si lampu merah yang tak menghambat.

Jalur alternatif itu mendadak lancar tak dirundung macet kendaraan yang memiliki keperluan yang lain.

Mentari Sumedang menuntun laju motor bebek butut ku di pagi itu.

Dan jam 7.00 pagi sampailah sudah semua harapan yang ku catat dalam buku diary yang ku titipkan dilemari rak buku ku.

Bandung dan Purwakarta,
sore nanti akan ku kabarkan berita bahagia dari ruangan sidang yudisium jurusan Administrasi Negara ini.

"Fitrah Nurjaman lulus dengan sangat memuaskan...... " []


21 Oktober 2011,
Terimakasih Ya Rabb Alloh SWT, Rasul ku Nabi Muhammad Saw, kepada kedua Orang tua ku, Kakak-kakak ku, Guru-guru ku, Sahabat-sahabat ku, dan semua yang mengenal serta mendo'akan aku.

Setitik Surga di Dunia

Purwakarta, 07 Maret 2012

Kawan, saat ini tepat pukul 14.30 WIB. Aku berada di tempat yang begitu nyaman, tenang, asri, dan tentram. Tak kuasa lidah ini menyebutnya "Setitik Surga di dunia". -Situ Wanayasa- yang begitu bersahaja.

Saya tak terlalu pintar berkata-kata menggambarkannya. Namun akan ku coba menceritakannya kepadamu, kawan. Tentang tempat yang indah rupawan ini.

Aku lihat lingkaran situ ini tak sempurna namun berhiaskan udara yang melambai-lambai memanjakan saluran pernafasanku yang telah berkarat. Begitu menenangkan, kawan.

Aku duduk di antara anak tangga pendopo yang teduh. Tatapan kosong itu pun sirna sudah, yang ada hanyalah tak jemunya bola mata ini menyisirnya. Riak ombak air yang begitu ramai namun tenang. Susunan pohon pinus riuh teduh hiasi daratan kecil ditengah permukaannya.

Garis samar wajah Tangkuban Perahu di rundung kabut, hijau pudar warnanya, kawan. Pantulan sewarna terlihat dari riak ombak halusnya. Ah, sungguh begitu selaras, kawan.

Tak jarang pasangan kekasih yang terpesona olehnya. Bisa ku bayangkan bila libur menyambanginya, pantaslah ramai keberadaannya. Kesahajaan yang takkan pernah usang.

pesona ini akan berkepanjangan, kawan. []

Friday, February 24, 2012

Uzlah ku.

Kota pensiun yang ku pijak ini begitu tak wajar. Lihat saja jam digital kubus dekat -CPU- ku itu terpajang menggerutu. "31,5 c ini tak biasa!" ketusnya.


Debu-debu itu berterbangan dengan lenggangnya. Hujan? Itu hanya cerita lalu.

Matahari begitu sakti dengan bulatan sempurnanya. Ah, tak kuasa mata ini memandangnya!

Bulir-bulir keringat bergelayutan di kening, hidung, bahkan ketiak. Lengket sudah sekujur tubuh.

Tapi....

Anak-anak tangga pendopo itu, suguhkan ketentraman. Coba kau perhatikan itu baik-baik!

Ombak-ombak kecil dari kayuhan pendayung -getek- dengan anggun bergemulai menyentuh dinding-dinding batu pondasi situ.

Jemari ini rasa-rasanya ingin menyentuh riakkannya, agar panas ini tak kembali menampar.

Selepas pulang nanti, kau menjadi telaga dalam benakku.

Monday, February 13, 2012

Dua Lima Lebih Tiga Bulan...?

Semilir udara pagi senin ini masih sama dengan hari sabtu kemarin. 04 Februari 2012, tanggal bersejarah bagi salah satu kakak yang juga sahabat kami. Sabtu pagi itu yang teduh dan penuh kebahagian bagi kami selaku adik-adik kelasnya, menghadiri undangan darinya. Kami tahu kau begitu bahagia, kang. Setiap kami di rangkulnya erat dengan pelukan hangatnya. “Terimakasih, akhi.” Itulah kata-kata yang terlontar darinya dengan senyuman yang tak luntur-luntur setiap kali kami bertutur, “Barakallah, ya Akhi.”

Sahabat yang juga kakak kami ini begitu bahagia di hari itu. Senyum yang sumringah terpajang indah di wajahnya sebagai tanda kebahagiannya yang tak bisa di tutupinya. Dan tak ada salahnya bila sebuah peribahasa -raja sehari- tersandang di pundaknya saat itu.

Kebayoran baru kala itu begitu lapang, tak ada sesak-sesak kendaraan bermotor berjubal sepanjang jalan. Yang kali ini bisa ku bilang seperti jalan terminal simpang di kabupaten asal ku. Sekali lagi kami begitu ikut berbahagia. Lihat saja persiapan kami untuk menghadiri undanganmu, seperti; aku yang telah datang ke Jakarta sehari sebelum acara selepas test lamaran kerja di sebuah bank yang tak jelas kapan akan di panggil lagi, seperti salah satu sahabatku yang datang jauh-jauh dari solo dengan bus antar kotanya yang ngepot, seperti sahabat-sahabat lain dari Bandung dan Majalengka yang berdesak-desakkan memadati satu unit mini bus sewaan yang berkapasitas 10 orang. Terlihat nampak lelah mini bus itu bertengger diparkiran masjid depan gang tempat resepsi. Apalah ini kalau bukan tali ajaib yang telah mengikat kita semua dalam bingkai kekeluargaan.

Saat-saat itu dimana kau menjadi pusat perhatian orang banyak karena begitu menentukan, saat-saat itu jabat tangan mu begitu bergetar terlihat dari sisi mana pun, saat-saat itu kau sempurnakan agama, saat-saat itu begitu menegangkan bagi pria mana pun yang baru melakukannya. -Ijab Qobul- terucap dengan lancar di yang kedua kalinya, Alhamdulilah. Semua yang menyaksikan ada yang menangis terisak-isak karena terharu bahagia, ada yang tersenyum-senyum karena tak sanggup menumpahkan air matanya, dan ada yang meninju-ninju udara di bangku tamu luar tenda dengan berucap tegas tapi pelan, “Allahhu...akbar.”

Sunday, February 12, 2012

SEA Games I comming...!


Animasi by: Fitrah Nurjaman
Berawal dari niat lari-lari kecil di sekeliling bundaran situ buleut, nampak ramai jalur  lingkaran itu. Ahad tepatnya; dimana rasa malas bisa aku bunuh selepas mata ini terobati rasa kantuknya karena secangkir kopi manis kental. 

****

Hop-hop, hop-hop begitu caraku mengatur langkah lari kecil ku agar hemat tenaga tapi tetap eksis berlari. Namun sebelum berlari, ku parkirkan motor bebek andalanku di salah satu rumah saudara. Lengkap dengan; helm kesayangan, dompetku si brangkas buluk, dan SIM serta lengkap dengan STNK (jaga-jaga kalau pak polisi pengen kenalan).  Ku simpan mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi berlari (yah, paling 200 meter-lah).

Putaran pertama masih dengan konsistensi kefokusan yang tinggi dan akselerasi yang cukup pasca pemanasan peregangan otot yang kaku. Rampung sudah ku selesaikan dengan catatan waktu kurang lebih 1 menit 13 detik. Celoteh ku dalam pikir, "wah klo gini bisa ikutan seleksi SEA Games nih tahun depan".

Thursday, February 9, 2012

SENJA ITU.... HUFH, HANYA MIMPI!


Senja kala itu mendung; tak nampak seperti biasanya, namun tak nampak juga datang hujan memenuhi undangannya. Ah,gak bakal hujan. Acil menerka-nerka dalam pikirnya sambil memandang langit senja kala itu. Matanya agak sayup karena lelah yang mendahaga dikerongkongannya serta disibukkan bunyi-bunyian yang berasal dari dalam perutnya; mungkin cacing dalam perut berdemo menumpahkan aspirasinya. "Kapan yah suara itu terdengar lagi?", "Sabar Cil, bentaran juga bakal Adzan Maghrib." Emak mencoba menenangkan  gemuruh perut Acil yang meletup-letup. Memang berat ibadah yang ia kerjakan itu, walau masih dalam taraf pembelajaran di se-usia Acil yang baru beranjak enam tahun.

****

15.19 WIB; "Allahu Akbar, Alla.................hu Akbar." Muadzin bersahutan dari mushola-mushola kampung. Kampung yang mempunyai nama singkatan BBC itu. Awal sore itu, tak jarang penghuni kampung yang tersentak bangun mendengar suara adzan Ashar yang merdu tapi tegas, termasuk Acil yang tertidur di dipan ruang tengah rumah. Mereka duga adzan itu sudah masuk waktu maghrib. "Alhamdulillah, Akhirnya Adzan juga." sahut Acil dengan keadaan setengah sadar sambil merapihkan wajah yang agak kacau setiap kali dia bangun dari tidur. Ia bergegas ke meja makan, tempat paling favorit dari bagian rumahnya saat-saat waktu berbuka puasa. "Loh kok belum ada apa-apa, Mak?", "Ya, belum Cil. Kan ini masih Ashar." Emak mengingatkan. "Wah, masih lama dong ya?", "Udah sana pergi Shalat aja, Cil!", bergegaslah Acil mengambil Wudhu selepas Emak mengajaknya Shalat Ashar.

Monday, January 30, 2012

JKT di 18.30-22.0 PM


“Terminal Kampung Rambutan”, begitulah nama tempat tujuan saya tersemat dengan apik di salah satu papan penunjuk arah berwarna dasar hijau itu. Saya rasa inilah Jakarta di 18.30 Pm. Papan itu semakin menghilang dari pelupuk mata ditikungan tajam arah terminal yang dimaksud. Bus antar kota yang saya naiki ini semakin menurunkan kecepatannya disekitar 20 km/jam. Saya yakinkan lagi keberadaan saya ini dalam hati, kini saya disini. Benar kawan saya disini, Jakarta yang amat kalut.
 
Perlahan saya coba turun dari bus dan menginjakkan kaki di kota ini. Sungguh amat tinggi intensitas mobilisasi mereka. Lihat saja di sekeliling saya, kawan. Mereka gemar sekali mengenakan masker yang melekat rapat menutupi setengah wajahnya, membuat sulit untuk menebak ekspresi saat diajak berbicara. Mereka terbiasa dengan antrian panjang saat sore hari di halte busway. Mereka rela menghibur dirinya dengan membenamkan kedua daun telinganya di head phone mereka. Mereka terbiasa berbicara dengan suara yang harus di lantangkan dan itu lumrah kata mereka karena setiap hari disuguhkan oleh; deru mesin mobil, kelakson kendaran, teriakan penjajak koran dan belum lagi nyanyian pengamen yang silih berganti seperti sudah di jadwal dengan rapih penampilan mereka. Ini sungguh tak biasa bagi seorang pemuda kampung yang mengadu nasib di kota sebesar ini.