Tuesday, August 20, 2013

Di Meja Cafe....


Meja, aku dan kamu. Sempat kau berpangku tangan diatas meja itu. Segelas es teh manis pesananmu tersisa utuh setengah. Kita telah habiskan waktu berbincang tak tentu arah. Jika kau melihat jalanan di depan sana, seperti itu pembicaraan kita. Ramai, berliku, dan macet merayap. Tapi gerak matamu datar. Hanya sesekali aku lihat dia lincah. Apa engaku malu? Ataukah risih dengan mataku?

Hei, lihatlah meja bundar dihadapan kita. Apa pantas pertemuan kita ini seperti perundingan antar negara yang bertikai? Tapi lengkungan senyummu menjawab itu bukan kita. Ya, ini pertemuan ramah-tamah yang kau pinta lewat sms kemarin. Aku kini sebagai tamu-mu. Kita duduk berdua di sudut dekat jendela yang menghadap jalan di cafe ini. Belum sempat aku menikmati segelas minuman kesukaanku yang berembun dingin, manis dan kecut itu. Disudut lain kau begitu nikmat menyelesaikan tegukkan cairan kecoklatan emas milikmu dengan diselingi senyuman usil menyindirku. "lemon teh, ya mba satu!" itu bahan ejekkanmu berkat logat Sunda yang menempel di lidahku selepas memesan tadi.

Sunday, July 28, 2013

Sebait Tanya Untukmu


Siang itu di Pelataran Masjid Al-Ikhlas cukup ramai tak kalah oleh kesibukkan pasar Ujung Berung. Lalu lalang mobil-mobil besar dan angkot terlihat jelas dari sana. Memang masjid ini berada tepat di depan jalan raya antar kota. Maka tak salah bila pelatarannya menjadi tempat paling favorit bagi para pelancong atau warga sekitar di Bulan Ramadhan untuk sekedar berduduk-duduk dan berselonjoran ria atau berbaring sejenak yang di ujungi dengan bunga tidur. Termasuk Jaman, pemuda kurus berwarna kulit sawo matang itu. 

Jaman memarkirkan sepeda motornya dan memilih beristirahat sambil menunggu waktu Ashar sebelum ia melanjutkan kembali perjalanan pulang kampungnya. Ia memandangi di sekeliling tempat ia terduduk sambil meluruskan kedua kakinya. Rata-rata banyak yang sedang mengobrol dengan tema pembicaraan yang nampak menarik bagi mereka masing-masing. Jaman mengistirahatkan badannya sejenak dengan bersandar ke tembokkan masjid sambil memeriksa HandPhone-nya. Tiba-tiba dua sejoli yang entah siapa nama mereka memilih duduk tepat di depannya. Jaman, pemuda pelancong ini pun tak merasa terusik dengan pemandangan di hadapannya itu.

Jaman sempat sesekali memperhatikan sepasang muda-mudi itu ketika sang wanitanya tertawa kecil manja. Apa sampai ya mereka? pertanyaan muncul dibenak sang pelancong sebatang kara saat itu. Pemuda seperempat abad itu mengusap dahinya yang mulai berair keringat karena panas. Jaket serta rompi anti angin ia buka untuk mendapatkan udara segar. Barang kali masih tersisa udara-udara sejuk pagi tadi khas Bandung.

Ketika angin berhembus, berlalu pula sepasang kekasih anak muda itu. Entahlah, mungkin malu terasa di awasi atau memang tertiup oleh angin. Entahlah.

Tak lama muadzin mengumandangkan tugasnya. Jaman pun bergegas merapihkan barang bawaannya dan bersiap-siap untuk shalat.

***

Thursday, June 20, 2013

Jamal dan Jaman


Gedung berwarna putih berpadu dengan hitam itu masih kokoh bertengger di jalan protokol kota. Gedung yang kembar ini masih nampak ramah meladeni kamera-kamera pengunjung. Dari DSLR, kamera mini poket, sampai kamera HP yang pixcelnya gak seberapa. Tapi mereka senang dengan keberadaan dua gedung ini. Konon namanya Gedung Kembar, maka di depan gedung itu berdiri patung Sakula Nadewa -tokoh pewayangan yang sama kembar-.

Terduduk seorang pemuda di tembok pelataran gedung itu. Pemuda ini berperawakkan kurus dengan potongan rambut belah tengah tak simetris, serta kulitnya yang agak gelap. Ia menenggak setengah isi botol minuman mineral yang baru saja ia beli di warung seberang. 

Pemuda ini perhatikan disekitarnya tepatnya disekeliling gedung kembar ini. Apa ini? Mereka seperti artis yang sedang berdiri di karpet merah saja. Mana acara penghargaannya? Mana piala penghargaannya? Ah, sudahlah mungkin ini yang dimaksud Jamal banci kamera, gumam pemuda ini. 

Rupanya pemugaran gedung tua ini yang sebenarnya hanya sebuah dan disulap pemerintah daerah menjadi kembar memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hisapan jempol bila seseorang yang mau keluar kota dengan menggunakan kereta pasti akan terpusat pandangannya kepada kedua bangunan itu. Ya, karena stasiun berada tepat di belakang kedua gedung tersebut. Bagi pendatang yang baru keluar dari stasiun pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan langka ini, bertemu dengan si kembar.

Pemuda kurus itu masih terduduk sambil membenarkan gulungan tangan kemeja kotak-kotaknya yang berwarna merah berpadu dengan putih dan hijau. Ia melepas lelahnya seharian setelah melahap abis seperempat dari buku-buku sejarah yang tersedia di salah satu gedung kembar. Ya, gedung ini kini berfungsi menjadi perpustakaan kota. Ia mengucek-ngucek matanya yang sudah mulai agak kabur. Badan kurusnya pun ia rebahkan di tembokkan itu sambil memandangi langit sore kota. Lembayung pun kini mulai menampakkan wajahnya dengan anggun seburat samar kekuningan tua.

Monday, June 17, 2013

Just Say Hello

Lama sudah kiranya jemari ini tak mengetik lagi.

Sekedar kata halo dari saya yang tak lebih hanya seorang pemuda baru saja sembuh dari penyakitnya selama dua pekan lalu.

Tak banyak yang saya tulis kali ini. Karena rasa kaku mengetik kembali menjangkit saya.

Do'akan saja semoga dapat menulis cerita fiksi kembali seperti biasa.

Jujur saya hanya ingin berucap jagalah kesehatanmu, kawan. Sungguh mahal sehat itu dan saya merasakannya dua pekan lalu.

Berdiam diri tak bisa melakukan kebutuhan sendiri secara mandiri. Apa-apa harus minta tolong itu tidak mengenakkan, kawan.

Berdiam diri terbaring membuat saya buntu berimajinasi.

Saya harap kawan-kawan semua dalam keadaan sehat walafiat, aamiin.


>>>Segitu dulu salam saya untuk anda yang sehat<<<

Wednesday, May 29, 2013

Sekolah Menengah Atas-Ku : Badut-Badut Siap Pentas

Hari MOS pun berlanjut menjadi sebuah kisah yang sudah sepantasnya siswa baru melaluinya disebuah  sekolah baru. Kenyataan ini kami telan dengan berbekal segala peralatan dan persyaratan yang membuat kami terlihat seperti orang-orangan sawah. Coba lihat saja penampilan kami ini, sepatu kets bertali rapia dengan warna yang berbeda alias beda toko, merah dan kuning. Name Tag bertengger di leher kami yang terbuat dari karton warna merah putih dan tali kur, serta tersemat dengan apik foto masing-masing. Terselempang tas terbuat dari kantung keresek dan tali rapia merah menyilang di tubuh kami. Ini belum seberapa. Lihatlah tali-tali pita kuncir yang menggantung berbeda warna di rambut teman-teman perempuan kami. Kalau boleh saya umpamakan ini seperti tanaman hias yang sering ibu-ibu PKK buat di Balai Desa. 

Pagi itu saya merasa seperti badut yang siap pentas. Bayangkan setiap pasang bola mata dari dalam sampai depan gang tertuju pada -kami- saya dan Ivan teman sekampung yang bersekolah sama, karena penampilan kami tak lazim. Wajah kami nampak merah padam dan itu bukan mek'up. Itu merupakan rasa malu kami yang telah mendidih sampai ubun-ubun dan sudah tidak dapat dibendung. Sungguh konyol penampilan saya saat ini.

Wednesday, May 8, 2013

Cinta Udin Yang Karam

"Kandas sudah cintaku karam dipelabuhannya." keluh Udin pemuda yang baru saja ditolak cintanya. Wanita yang ia sukai kini telah memiliki pangeran impiannya. Lain kata wanita itu menyukai seseorang yang  itu bukanlah Udin. Pemuda yang baru duduk dibangku SMA kelas dua ini begitu menyukai sosok Amel. Ya, Amel seorang gadis yang berkulit putih langsat bagai nona-nona keturunan bule. Gadis ini begitu memiliki tempat dihati Udin. Kisah cintanya selalu kandas apabila Udin mengutarakan maksudnya, lebih dari teman.

Udin begitu menjaga perasaannya dihadapan gadis idamannya. Karena saking seringnya ia menjaga hati dan maksudnya, membuat penantian ini begitu berat. Maklumlah antara Udin, Amel dan seseorang itu saling tak mengetahui perasaan masing-masing. Apa boleh buat cinta segitiga yang saling tak berbalas dan saling tak tahu isi hati  ini begitu terpelihara sejak duduk dikelas satu. 

ATM Dan Tanggal Lahir Yang Terlupa

Malam itu disalah satu bilangan daerah Purwakarta, satu keluarga sedang menikmati liburan. Malam dimana ke-esokkan harinya adalah hari Ahad. Kawasan taman kota menjadi pilihan mereka untuk berjalan-jalan menapaki lingkaran kolam besar bernama Situ Buleut itu. Dengan wajah penuh berbinar memandangi riak air yang memenuhi kolam itu. Sang ayah mengajak keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan seorang putri sedang dalam masa berpertumbuhan. Mereka pun terduduk dengan nyaman dibangku taman yang tersedia sambil menikmati pemandangan yang ada dihadapannya; lampu taman, kilau air, bias-bias pepohonan yang samar terpantul cahaya, serta keramaian car free night.

Keluarga kecil ini begitu menikmati suasana. Mereka menikmati pemandangan ini sambil memakan makanan ringan hasil buah rengekkan putrinya. Sekantung popcorn begitu cukup menemani suasana yang tak didapat dirumah mereka, dipeloksok sana. Sang putri begitu sumringah dengan ajakkan orang tuanya kali ini. Walau hanya sebulan sekali, namun cukup membuatnya senang dan dapat menjadi bahan cerita untuk diceritakan kepada teman sebayanya.

Friday, May 3, 2013

MayDay Sepuluh Menit Lalu



MayDay, hari itu telah berlalu sepuluh menitan yang lalu. Dimana kaki saya menjejakkan lagi di Ibu kota ini. Langit pun telah kembali kelam, malam. Teriakkan mereka tak lagi terdengar bingar. 

Mereka, anda, saya dan kita semua telah terbaring lelap melupakan harapan yang masih menggantung. Bila ada super hero diantara kita saya yakin dia sedang tertidur lelap, kawan. Sudahlah biarkan gulita mendekap kita hingga subuh tiba.

Monday, April 29, 2013

Selokan dan Perahu Kertas

Selokan, Ya sebuah jalur pembuangan yang ada diperumahan atau permukiman. Maksudnya pembuangan limbah air rumah tangga. Pengalaman saya dengan jalur pembuangan yang bernama selokan cukup mempunyai tempat. Masih ingat dengan perahu-perahuan terbuat dari kertas atau bahan material yang lainnya?

Saya selalu terkesan dengan permainan ini. Ya, antara perahu kertas dan selokan depan rumah. Saya dan teman sebaya sewaktu kecil dulu begitu gemar memainkannya selepas pulang sekolah. Riak ombak kecil khas selokan membawa hanyut perahu-perahuan kami menuju hilirnya di ujung gang sana. Tak ayal bila sorak sorai kami merayakan kegembiraan soal perahu-perahu yang melesat lancar terbawa arus menjadi tontonan mengasikkan.

Wednesday, April 24, 2013

Kicauan Tanpa Batas



Twitter, media sosial yang lagi digandrungi. Bukan hanya anak muda-mudi, kakek-nenek juga sekarang sudah memiliki akun pribadi disini. Bisa-bisa para kakek dan nenek sudah siap memberikan warisan dengan berupa akun twitter ber-follower puluhan juta orang. Media sosial yang satu ini bukan hanya dari rentan usia saja bisa dijadikan taraf ukur penggunanya. Ya, profesi pun bisa menjadi bahan pendekatannya. Yang mudah kita mulai dari Mamang-Mamang tukang somay sampai seorang Presiden pun sekarang sudah punya akun dimedia sosial ini.

Coba mari kita lihat apa fungsinya dari setiap pendekatan sesuai usia dan profesinya ini. Oh ya, analisis ini seadanya saja atau bisa dibilang penilaian pribadi saya. Dimulai dari yang termuda, Muda-mudi biasanya memanfaatkan twitter sebagai media curhat, numpang eksis, dan sarana pergaulan. Gak perlu contoh ya? Sebab bila dikasih contoh bisa jadi semua tulisannya berbau dengan bahasa baru di Indonesia, 4l4y. Tidak bisa dipungkiri bahasa-bahasa 4l4y sudah memasyarakat dan itu menjadi salah satu muatan lokal dikalangan generasi muda bangsa ini, mungkin?

Monday, April 15, 2013

Biasakan Akrobat Pada Tempatnya.....

Entah mengapa saya selalu menemui hal yang cukup menarik ketika Pagi. Saat dimana awal pemberangkatan saya menuju tempat yang bernama kantor. Kali ini saya tidak akan menceritakan opini saya tentang tembakau atau pun tentang yang namanya lemon tea. Dua hal yang saling berseteru dalam hal selera saya. Sahabat Budiman pun sudah tahu mana yang saya tidak suka dan mana yang saya suka.

Ok, kembali lagi soal perjalanan saya dengan sepeda motor bebek cap sayap angsa sepotong. Kami melewati lampu merah dan itu biasa. Kami melewati rel kereta api setra portalnya itu pun biasa. Kami lewati pusat pertokoan yang gedong itu pun biasa saja. Kami melewati gedung-gedung sejarah itupun sudah  biasa. Kami melewati tukang surabi, kupat tahu, baso urat, kue onde, cakwe, dan tukang-tukang alias Mamang-Mamang lainnya itu pun biasa saja.

Tapi kali ini saya sempat tergiur oleh kepulan bala-bala, gehu, dan tempe tepung goreng. Nyam nyam. Maklum pagi ini saya tak sempat untuk sarapan. Kalau urusan tukang gorengan memang sulit dihindari. Mungkin ini kebiasaan yang terbawa dari rumah. Setiap pagi kalau dirumah pasti saja ada ibi-ibi yang datang menjajakkan jualannya, gorengan. Memang spesial gorengan dimata saya. Ibarat gehu, gorenganlah lauk cemilan yang juara saat-saat pagi menjelang. Maaf kalau gak nyambung perumpaman saya yang satu ini. :)

Thursday, April 11, 2013

No Smoking...!

Rokok sesuatu yang berbahan baku tembakau. Penduduk Indonesia sebagian besar memang perokok. Hingga dijuluki surganya rokok, itu kata peneliti orang luar sana. Tapi saya agak miris juga ngeliat tayangan hasil penelitinya. Sampai-sampai anak kecil dibawah umur menghisap rokok sudah seperti mengenyot permen lolipop saja.

Saya juga sering berpendapat apa enaknya makan asap? Mana mengkonsumsinya saja sudah sulitnya bukan main. Pertama kita harus beli rokok dengan harga yang gak bersahabat, ke-dua kita harus membeli alat bantu lainnya yaitu korek, ke-tiga asapnya itu bikin mata kelilipan dan memerah, ke-empat panasnya bara yang lama-lama makin mendekati apitan jemari tengah dan telunjuk bikin melepuh, ke-lima efek samping yang mengorbankan organ dalam alias bermain dengan maut.

Sudahlah lupakan asap tembakau itu. Walau saya orang sunda yang kata orang Indonesia lainnya terkenal dengan doyan lalab-lalaban, tapi saya gak suka dengan lalab tembakau kering yang dibakar itu. Jujur gak enak menghisapnya. Membuat batuk saya yang sebenarnya sudah gak kambuh bisa jadi kambuh seberat-beratnya.

Kayaknya lebih enak membiasakan hidup tanpa asap rokok. Lebih segar dan menyehatkan. Lebih baik rajin berolahraga dan makan makanan yang bergizi ala tempo 90-an dulu, 4 sehat 5 sempurna. 

>>>Selamat hidup sehat dan hindari asap rokok, sodara-sodara<<<


Tetesan itu...

Hujan. Se-umpama air yang turun dari awan itu kering sebelum sampai ke permukaan bumi karena penguapan ekstrim apa jadinya? Tandus. samudera pun akan hilang dan berganti dengan padang gurun raksasa. Kehidupan?

Hm, benar-benar peristiwa yang begitu dinanti saat kemarau berkepanjangan di negara dua musim ini. Bila melihat hasil kerja dari hujan maka akan banyak yang dibahas, salah satunya lemon tea. Lemon tea menjadi cairan yang menghibur bagi saya ketika sedang buntu dalam berpikir. Atau secangkir teh full cream yang melumerkan bongkahan bingung menjadi inspirasi yang mengalir. Namun tak terasa bobot badan pun semakin deras. Kurang dari setahun sudah menghilangkan otot-otot yang merapihkan bentuk perut, hm.

Friday, April 5, 2013

Kabar Pagi ini

Maaf bila kata pagi saya gunakan kembali. Ya, pagi ini saya mendapatkan sebuah berita yang kurang sedap didengar. Kabar ini tersampaikan melalui HP saya. Rupanya Mama (Sebutan saya kepada Ibu) meminta saya untuk pulang. Ini bukan karena Mama sakit atau kakak sulung saya akan segera melangsungkan pernikahan dengan mendadak. Tapi ini karena ada berita duka. Salah Seorang Eceu (Kakak perempuan dalam sebutan sunda) masuk rumah sakit.

Saya percaya akan kekuatan do'a. Karena manusia mulia seantero dunia -Muhammad Saw- pernah mengutarakan, bahwasannya kekuatan seorang muslim adalah do'a. Saya berharap kepada para pembaca semua dapat mendo'akan Eceu saya agar dapat beraktivitas kembali seperti semula dan tentunya semoga sakitnya ini menjadi penggugur dosa beliau. 

Sungguh saat ini saya tidak dapat menulis dengan banyak. Tulisan ini teruntuk beliau yang sedang sakit disana.[]

>>> Selamat beraktivitas dan jangan lupa berdo'a, Kawan.<<<


Thursday, April 4, 2013

Cinta Ibu Begitu......

Pagi tadi entah apa yang menjadi saya harus menulis tulisan ini. Saat berangkat kerja menjadi hal yang biasa pada hari-hari biasanya. Namun entah kali ini terasa berbeda. Berawal dari lampu merah yang menyetop laju sepeda motor bebek kumal saya akibat sisa hujan kemarin. Tepat disisi sebelah kanan depan ada sebuah motor bebek yang ditunggangi oleh satu keluarga. Sang ayah tentunya yang mengendarai motor tersebut, sang ibu terduduk dengan apik sambil menyusui anak keduanya yang masih batita, dan si kakak dengan anteng didepan sambil terduduk jongkok pegangan tangan pada stang motor dalam dekapan sang ayah.

Potret ini mungkin sudah lumrah bagi saya, dan sahabat sekalian. Ini sebuah pemandangan yang tak asing didalam kondisi kehidupan urban. Namun yang saya takjub hal ini tak mudah untuk dilakukan, mereka melakukannya dengan sebuah kerjasama yang sangat baik. Bukan hanya kerjasama saja yang terjadi disana, namun ada unsur kimiawi hadir disana. Coba kita lihat secara seksama bagaimana sang batita begitu dengan santai dalam dekapan sang ibu. Dia begitu menikmati perjalanan ini, padahal disekelilingnya begitu riskan dan amat berbahaya. Bila kain gendongan sang ibu lepas apa jadinya. Cintalah yang membuat sang batita merasa nyaman. Oh ya, saya bukan menyarankan untuk melakukan hal yang sama. Tapi saya melihat sisi lain dari adegan akrobat ini.

Friday, March 29, 2013

Ban dan Profesi barunya

Hari Sabtu, pukul 16.30 WIB; 

Roda ban sepeda motor bebek merk satu sayap angsa ini berputar melawan arus waktu. Suasana saat itu begitu gelap mencekam. Hutan pinus khas Gunung Tangkuban Perahu begitu membisu ditengah deras hujan yang tumpah. Jas Hujan yang dikenakkan sudah tak sanggup menahan benturan air dari langit sana. Samar-samar lampu sorot seadanya dari pabrikkan si motor ini pun tak sanggup membelah kegelapan.

Tiba-tiba terasa ada yang berbeda dari laju kendaran tua ini. Kali ini terasa tak selincah biasa, sedikit ada gerakkan lain dari putaran ban belakang. Sempat saya berpikir, apa karena stamina ban belakang yang sudah tak semuda dulu? Ataukah ada ulah tangan jail yang menyebar paku-paku berkarat dijalanan? Tapi itu saya belotkan saja pada terkaan yang pertama. Sambil mengusap lampu sorot terhalang dedaunan yang menempel tertebak angin saya bergumam, terimakasih Sobat, kiranya kau telah lelah biarkan aku yang sekarang menuntunmu.

Pilihan untuk berjalan kaki bukan sesuatu hal yang saya pilih saat itu. Perjalanan pun saya teruskan hingga titik habis udara ban belakang. Kali ini tanjakkan terakhir harus bisa ditaklukkan, karena ini bukan pilihan demi memenuhi ketergesah-gesahan saya. Hingga titik dimana turunan itu telah terlihat,walau sesekali kabut dan deras hujan menghalangi. Plang berwarna hijau dan bertulisan putih sudah cukup membuat saya merasa manusia yang paling beruntung saat itu. Artinya, plang penunjuk arah itu telah memberi berita turunan akan segera menghibur ketergesahan ini.

Tikungan-tikungan curam saya lewati dengan ban belakang yang mulai mengempis dan disertai bunyi klakson kencang, padahal sebenarnya itu adalah rem belakang haus. Kira-kira bunyinya seperti rem pada sepeda gunung. Mungkin karena saya termasuk orang yang menganut pribahasa, "Sambil menyelam minum air sampai kembung." 

Memang kawan, tikungan-tikungan curam dan licin itu dapat saya lalui. Namun perjalanan menjadi lebih sedikit gaduh dan tensi horor berkurang. 

Putaran roda belakang sekarang sudah mulai sempoyongan tak karuan. Untung saja permukiman sudah saya sambangi. Tepatnya dibilangan Ciater. Perlahan jalan motor bebek ini. Sembari mengedarkan pandangan kiranya ada tabung gas yang mirip Black Box tergeletak dibahu jalan. Syukur Alhamdulillah, yang dicari ketemu. Letaknya satu atap dengan pangkalan ojek depan sebuah Spa yang tenar. "Mang, ini ban bocor euy." curhat saya. Dengan sigap sang Mamang tambal ban merawat ban yang cedera.

Hampir 15 menit sudah menunggu rupanya perawatan sang ahli ban belum kunjung kelar. "Allahu Akbar......" Suara adzan  Maghrib berkumandang. 

Saya kira ini ibarat terhimpit waktu. Akhirnya saya putuskan dengan kondisi yang darurat ini shalat dalam posisi terduduk sembari menunggu ban belakang tertambal. Setelah khatam menunaikan kewajiban nampaknya belum juga ada gelagat akan beres operasi ban ini. Disaat itu saya coba cairkan suasana seperti cairnya hujan. "Mang, bocornya banyak yah?"

"Iya A. Lumayan ada dua. Tapi gak ada pakunya, A." jelasnya. Kemudian saya terangguk dan kemudian diam kembali.

Tuesday, March 19, 2013

Soto Ayam Untuk Sarapan Pagi Kali ini

Dua pekan sudah saya bergelut di ibu kota Jawa Barat, Bandung. Maka kepulangan saya untuk saat ini tiada lain untuk melarutkan rindu yang sudah mulai menggumpal didada. Rindu kepada keluarga disana itu sudah pasti, rindu dengan suasana rumah dan makanannya itu hal yang sulit dilupakan. Tapi untuk saat ini saya pulang ada misi lain. Ya, misi lain. Mungkin ini tanpa mengurangi rindu-rindu sebelumnya. 

Menikmati suasana dibilangan jalan R.E. Martadinata yang teduh rindang pohon-pohon besar sepanjang trotoar dekat kampus SMA saya dulu. Lantas Situ Bulet menjadi kunjungan selanjutnya. Nampak beda kolam ikan raksasa ini. Taman-taman kota begitu asri dan ada puluhan burung dipenjara disana demi menghibur warga disekitar.

Ah, memang Situ ini begitu menghibur. Sejauh mata memandang kursi-kursi taman penuh oleh pengunjung yang berbagai status. Ya, berbagai status; pacar, suami, istri, anak, teman, paman, bibi, kakek, nenek, tukang dagang gulali, tukang baso, tukang warung rokok, tukang balon gas, penjual lumpia basah. Kompleks juga ternyata status mereka, kawan. :)

Tuesday, March 12, 2013

Kelas 3A Dan Piagam Penghargaan

Saat itu Acil yang mulai menginjak ABG menyusuri jalur selokkan yang sudah lama mengering dan tak berfungsi sebagaimana mestinya. Jalan raya seadanya alias aspalan yang sudah memborok lubang kronis ia jalani dengan riang. Sesekali suara khas sungai yang mulai mengering mengiringi perjalanannya dari sebelah kiri sudut matanya sana. Bahkan burung -kapinis- sebutan orang lokal untuk burung yang masih sanak famili dengan walet ini, meliuk-liuk pagi buta di udara.

Acil pagi itu begitu memburu kepagian. Langkahnya yang riang namun lebar-lebar membuat tukang bubur ayam kalah cepat bersama gerobaknya. Tas slempang yang ia kenakkan terjedut-jedut di belakang langkahnya. Sisiran rambutnya masih tetap menyamping kanan klimis mengandung minyak rambut urang-aring pemberian sang Emak. Matanya terus saja tertuju pada jalur selokkan yang tak bersari pati itu kecuali kalau sedang hujan. 

Pemuda ABG ini masih terus menjaga nafas dan langkahnya yang panjang itu. Pakaian seragam putih dan bercelana biru pendek yang kalau kebanyakkan temannya bilang, "Celana Sontog Akherat". Ya, penjulukkan ini karena panjang celana tak melebihi lutut kakinya. Sebab celana yang sedang musim atau bisa dikatakan sedang trend-nya saat itu, celana yang panjangnya melewati lutut para siswa putra. Tapi trend itu tak berpengaruh bagi sosok pemuda ABG bungsu ini, Acil.

Sesampai digedung kampus sekolah menengah pertamanya yang bercatkan selaras dengan warna seragamnya, ia bergegas memasuki ruangan kelas yang bertuliskan "3 A" di plang depan pintunya. Ia taruh tas slempang dan topi upacaranya disorog kolong meja duduknya. Lantas ia pandangi seksama cat ruangan kelasnya yang sudah berganti warna biru langit hasil kerja bakti teman sekelas, Ahad kemarin. Pot-pot bunga berjajar dengan rapih di kusen-kusen jendela, foto-foto pejuang terpampang dengan apik didinding-dinding kelas, dan tentunya meja guru yang telah terbalut oleh taplak bermotif kembang merah menyala tepat didepan meja duduknya.

"Semoga jadi juaralah!" gumamnya dalam hening. 

Monday, March 4, 2013

Ikus dan Ketupat sayur Padangnya

Berawal kisah dari sebuah mobil bus dalam kota, Damri. Pemuda asal Jawa Timur ini meniti pendidikan kejenajang yang lebih tinggi. Saat itu tepat pukul 06.00 am atau jam pagi maksud saya jam enam pagi. Laju jalan bus yang sudah sepuh ini begitu nampak ramah dengan santainya membuat pemuda ini takjub dengan situasi urban dikota yang sedang ia susuri ini.

Entah bagaimana ceritanya pemuda ini berpikiran bahwasannya Bandung menjadi pilihannya untuk menuntut ilmu di jenjangnya pasca SMA. Selepas jam di HandPhone-nya sudah menunjukkan pukul 07 pagi ia telah sampai di pull bus ringkih ini. Ya, tepat di depan Universitas yang dia maksud, sebuah kampus negeri di Kawasan Dipati ukur. Berbekal tas gendong yang berisikan berkas-berkas untuk daftar ulang, dia penuh optimis. "Aku neng kene, bakal sukses." ujarnya dalam hati. Namun semangatnya tak dibarengi dengan isi perutnya yang sudah mulai keroncongan, maklumlah perjalanan jauh dari karawang menuju kampus ini cukup membuat sarapan subuh tadi cepat punah. Ia putuskan untuk membeli sepiring porsi kupat sayur padang yang tak jauh dari pemberhentiannya. Pemuda ini pun memesan apa yang ia lihat itu, demi mendiamkan sejenak organ isi perutnya yang bernama lambung. "Mas, saya pesen satu porsi yo?" pesannya.

Baru beberapa detik ia rebahkan pinggangnya sejenak, pesanan pun sudah didepan mata terhidang. Kontan saja ia begitu lahap menyantap kupat sayur khas Padang itu. Kenikmatan pun di bayar dengan teriakan alaram jam yang di tunjuk-tunjuk oleh handphone-nya sudah tidak dapat berkompromi, sebab batas pengumpulan berkas itu tepat jam 7.30 WIB. Langkahnya bergegas berlari meninggalkan piring bekasnya, kursi duduknya, dan uang ribuan yang berjumlah lima lembar serta bertutur, "Terima kasih Mas..."

Sesampainya di depan registrasi tepatnya di Aula serba guna milik universitas itu. Dia di pandu oleh kakak-kakak kelasnya. Hingga tibalah ia di sebuah pendopo dekat masjid Kampus.
 "Namanya siapa?" tanya seorang kakak kelas yang aktif di masjid.
 "Nama ku Ikus, Mas."
 "Ikus?"
 "Ngge, Mas." tembalnya.
 "Waduh nama kamu kok asing yah, kamu asal flores yah?" tanya sang kakak kelas.
"Bukan, Mas. -Ikus-, Ika Kusuma. Saya asli dari Banjar Negara. Produk Lokal, Mas." tegasnya.
"Ow, maaf ya saya baru dengar nama kamu tuh ternyata punya orang jawa juga yah."

Kemudian mereka pun meneruskan interview itu dan dipenghujung pembicaraan tiba-tiba pemuda ini memberikan surat yang dititipkan dari seorang guru dari SMA-nya. Ya, guru yang telah memberikan mandat melalui surat itu. Dalam amplop itu terlihat samar kalimat-kalimat serius untuk menitipkan pemuda ini.
"Mas ini, saya disuruh menyampaikan surat ini dari guru saya waktu di SMA. Kata beliau, tolong disampaikan ke kakak kelas yang mengurusi masjid." ujarnya sambil menyerahkan surat wasiat itu dengan polosnya. Tanpa ada kata sang senior menerimanya.

Hari-hari pun ia jalani dikampus barunya. Semakin lama lingkup pergaulannya berkembang hingga ke kampus negeri seberang. Jadwalnya pun kian lama kian padat di kota ini. Bukan melulu urusan perkuliahan saja, namun hingga kegiatan kemahasiswaan pun ia cantumkan pada jadwal hariannya. Entah itu rapat, penyiapan acara, promosi kegiatan, hingga menjadi bagian panitia.

Hingga tercetus dalam pikirannya, "Aku sing bisa hafal khatamin Mushaf iki." Disela-sela kesibukkannya ia sempatkan untuk membaca dan mengulang mengingatnya.

Tiga tahun tak terasa masa menimba ilmu di kampus perjuangan ini. Sahabat dekat pun satu persatu telah mendahuluinya lulus dan kebanyakan memilih untuk kembali ke daerah masing-masing. Dengan tekad kuat ia pun berusaha menyelesaikan program diploma-nya dengan nilai yang cukup memuaskan. Alhasil pemuda ini lulus dan mengikuti jejak kawan-kawannya yang lain yaitu, kembali kedaerah asal.

Thursday, February 21, 2013

Jalan Cahaya

Jadwal kuliah, baru saja saya menerimanya. Lantas sekonyong-konyong beberapa kakak kelas dari pengurus lembaga ke-Islaman di kampus masuk ke dalam kelas dengan ucapan salam mereka yang khas, "Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh." selepas dosen wali selesai mengisi kelas. Mana penampilan mereka yang saya anggap saat itu sangat nggak modis. Cuaca siang bolong gini mereka dengan wajah adem-nya kuat banget mengenakan jaket-jaket tebal ala mahasiswa yang selalu aktif di organisasi, seperti yang lainnya.

Dengan wajah tanpa dosa mereka mengumumkan informasi terkait kegiatan wajib bagi mahasiswa baru yaitu -kami-, saya dan kawan se-isi kelas ini. Sebenarnya kami terasa terganggu dengan kehadiran mereka karena jam pulang kami tersendat beberapa puluh menit. Ya, puluhan menit. Pada intinya kami yang muslim diwajibkan mengikuti mentoring selama satu semseter. Dan ini yang membuat kami kompak mengernyitkan dahi kita, tak setuju. Walau beberapa dari kami menyambutnya dengan biasa saja atau ada yang begitu antusias.

Lihat saja bagaimana kami melakukan protes terutama barisan duduk yang paling mojok dan paling akhir. Kami sudah berdiri dan sedikit mengutarakan ketidak nyamanan kami, "uuuuuuuu!", "Heuhhhhhh!", "Woi, buruan jam balik nih!" kurang lebih begitulah kelakuan transisi kami dari kebiasaan seragam putih abu-abu, labil. Saya kebetulan duduk paling belakang bersama kawan-kawan yang besar ego anak mudanya. Saya hanya bisa duduk saja terdiam dan sedikit terperangah dengan situasi ini. Walau jujur hak kemerdekaan saya pun sebenarnya ter-rampas.