Wednesday, January 15, 2014

Telinga Selalu lebih Tahu...



Telinga. Telinga selalu saja lebih tahu apa yang taktahu oleh mata dan hidung. Bahkan anggota tubuh yang lainnya. Telinga selalu lebih tahu apa itu suara burung berkicau, suara deru mesin motor yang sedang dipanaskan, selalu lebih tahu mana suara si bungsu Diki dan sang kakaknya Dika yang mereka keduanya kembar tak-identik. Peran anggota tubuh yang berdaun dan berumah siput itu amatlah penting bagi mereka yang bekerja atau memiliki passion dibidang musik dan sejenisnya.

Telinga kini kau menjadi salah satu target industri. Lihat saja di Mall-mall atau pasar-pasar alat elektronik begitu banyak alat yang dapat memanjakanmu. Dari mulai jaman tahun '90-an saat itu wokmen begitu berjaya dan radio tape. Awal tahun 2000-an mp3 player menggeser kejayaan wokmen dan radio tape. Dan kini makin menggila lagi. Perangkat smart phone berlomba-lomba untuk menyempurnakan kejernihan dan memudahkan semua ini. Atau industri lainnya, hahareosan atau infotaimen. Sudahlah saya tak mau bahas yang satu ini, cukup sekian dan terima kasih.

Baiklah saya coba ceritakan pengalaman sederhana saya ketika tersesat disalah satu hutan di bukit yang takjauh dari kampung saya tinggal. Saat itu saya mencoba untuk mencari jalan pintas menuju kebun salah satu saudara sepupu saya di sana. alhasil saya malah tersesat. Saat itu kondisi awan sedang mendung-mendungnya. Mengandalkan lumut yang ada di batang-batang pohon belum cukup membantu menemukan arah mata angin. Cukup lama saya tersesat hampir setengah jam berjalan mencari celah keluar rimbun hutan. Namun entah bagaimana itu bisa terjadi tiba-tiba saya mendengar gemercik air yang bersumber seperti dari pancuran. Dengan spontan saya coba untuk menghampiri sumber suara dan syukur Alhamdulillah rupanya di sana sepupu saya sedang asik mengambil air, berwudhu. Begitulah pengalaman sederhana saya.

Rasa-rasanya memang telinga memiliki peranan penting bagi sesiapa saja. Baik saya, anda, dan orang-orang di luaran sana.

Namun bila saya boleh berpesan kepada telinga. Bolehlah bila kau tak berberat hati untuk tidak salah mendengar, bila ada suara atau informasi penting. Sebab jika tidak, bisa menimbulkan perpecahan atau permusuhan. Seperti pada saat ini, banyak yang bermusuhan entah itu di rumah tangga, kantor, lembaga-lembaga penting di negara dan atau pemerintahan pusat dan daerah, sekolah, dan di mana saja. Dan kesemuanya itu dilatar belakangi dengan sebutan banyak orang di luar sana, "miskom".

Tapi miskom yang menghibur hanya ada di tayangan lawak acara teve saja. Bang Haji Bolot itu dia orangnya yang saya ketahui perintis aliran lawak yang unik ini.

Sudahlah takut semakin ngaco tulisan saya ini. Selamat mendengar lagu kesayangan anda, tentunya bersihkan pula telingamu, kawan. Sehari sekali bila sempat atau seminggu sekali, itu terserah anda. Dan beraktivitas kembali.[]

Tuesday, January 7, 2014

Masih Ingat Saya?


Alkisah ini berawal dari sebuah pertemuan yang tak-disangka-sangka. Ketika ketidaksengajaan seseorang menabrakku di sebuah stasiun tempat biasa aku memburu kereta listrik pagi buta demi absensi yang takpernah telat. Ya mesin scaner  itu selalu men-scan jemariku demi upah yang tak-terpotong. Pagi itu entah mengapa aku bisa bertabrakkan dengan seorang pemuda seperempat abad. Nampaknya aku tak-terburu-buru karena rutinitas ini membuatku terlatih.

"Maaf Mba, saya buru-buru." Dengan wajah memelas ia pun meminta maaf.

"Iya, gak apa-apa." Jawabku tersenyum sambil mengambil tas jinjingku yang sempat terjatuh. Pertemuan itu begitu singkat sekali. Hanya sesederhana itu saja. Tak-ada tanya nama atau alamat, bahkan nomor telepon. Ah, hal seperti itu hanya ada dalam sinetron saja.

Kami pun bergegas menuju gerbong kereta masing-masing. Jalur Jakarta yang aku tunggangi. Pemuda itu telah lenyap dikeramaian gerbong lainnya.

Pekerjaanku sebagai karyawati di sebuah bank terkemuka di negeri ini menuntutku harus tetap gesit dan cekatan. Teller, itu dia profesiku kini. Pekerjaan yang aku lamar tiga bulan yang lalu. Tentunya penampilan yang anggun dan elegan menjadi standarku saat ini. Tapi itu berlaku ketika sudah sampai di kantor. Kalau untuk sekedar menyeberangi satu gerbong ke gerbong yang lain rasa-rasanya takperlu berpenampilan berlebihan. Cukup saja dengan berpakaian santai tapi sopan. Bagiku cukup.

***

Sesampainya di kantor,

"Pagi Mba Ratna." Tegur ramah Pak Nurdin, salah-satu security yang cukup senior di kantor. Sambil membukakan pintu

"Pagi Pak. Bagaimana kabarnya, Pak Nur?" 

"Baik Mba. Kalau Mba sendiri bagaimana?" Masih dengan keramahannya Pak Nur kembali bertanya.

"Oh, baik sekali Pak. Selamat bertugas Pak."

"Sama-sama Mba. Semoga betah ya Mba."

Aku pun berlalu dengan riang meninggalkan Pak Nurdin yang ramah itu di tempatnya ia bertugas. Tentunya aku bergegas membereskan meja kerjaku yang lebih tepatnya meja stand kami. Meja kami. Meja kerja Lona dan aku.

"Pagi Say." Lona dengan senyum lesung pipitnya itu menyapa.

"Pagi Cantik." 

"Terima kasih, Cantik." Begitu Lona, selalu saja bisa membalas pujianku dengan pujiannya.

Hari ini nasabah kami begitu padat. Maklum di tanggal tua banyak sekali transaksi. Setoran atau pun tarik setoran. Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu mau diapakan semua uang mereka. Uang mereka hak mereka tentunya. Kami hanya sekedar melayani dengan se-prima mungkin. Walau aku dan Lona masih dalam tahap masa percobaan. Tapi bagiku dan Lona ini sudah bukan perkara yang sulit. Kami terbilang karyawati yang cepat belajar.

Tiga bulan terakhir ini kami sudah seperti sahabat yang lama kenal. Lona kini menjadi sahabatku yang baik dan cantik. Kami selalu menghabiskan waktu kami dengan bersama-sama. Seperti makan siang, belanja jika kami mampu, dan berangkat liburan akhir pekan sekaligus akhir bulan ketempat-tempat wisata di Jakarta. Bulan kemarin kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. 

"Sudah puas kan ngejenguk paman kamu, Na?" 

"Paman apa?" Tanyaku heran.

"Itu tuh, Orang Utan." Lona memasang wajah menyeringainya yang menyebalkan, bikin hati dongkol. Tapi ia pandai mengambil hati orang. Lihat saja selepas keusilannya itu ia tawarkan suasana dengan mentraktir semangkuk makanan favoritku, baso.

Begitu kebersamaan kami selama tiga bulan terakhir. Menyenangkan, saling mengakrabkan, dan tentunya selalu hangat dengan candaan kami.

Terkhusus hari ini, Lona dan aku begitu sibuk. Tak-ada senyuman pagi tadi. Kini yang ada hanya wajah-wajah serius terpasang di kami. Walau sekali lagi aku bilang, kami terbilang yang cepat dalam menyesuaikan diri soal pekerjaan.

Saat jam istirahat tiba di kantin belakang lona pun berujar, "Lumayan juga hari ini." Sambil mengusap-usap keningnya yang berkeringat.

 "Bukan lumayan lagi Lon. Ini seperti artis kebanjiran penggemar yang memburu tanda tangan kita." Aku pun duduk di sampingnya sambil membawa pesanan kami berdua.

"Hahaha, artis. Boleh juga perumpamaannya." Terkekeh-kekeh Lona menyambut guyonanku.

Habis sudah pesanan makan siang kami. Tandas sudah piring-piring kami tak-bersisa, kecuali tulang-belulang ayam goreng nasi timbel yang mudah-mudahan sejuta tahun lagi akan menjadi fosil berharga. Lona selepas makan izin sebentar ke toilet sambil membawa smart phone-nya yang berdering. Aku masih terduduk di meja favorit makan siang kami, pojokkan sebelah kanan dekat jendela berpemandangan Jakarta. Sungguh sibuk kota ini. Aku pun terkadang sempat berpikir, sungguh beruntungnya aku dapat mencicipi kehidupan di kota sebesar ini dan sudah memiliki status kerja yang jelas.

Selang lima menit Lona pun menghampiriku dengan wajah sedikit murung. "Kenapa kamu cantik?" Empatiku mencoba menghiburnya.

"Nggak pa-pa, yuk." Ajaknya dengan lemas.

Aku pun menghampirinya dengan rasa yang tak tentu. Sebagai teman dan patner kerja aku harus dapat menjadi teman berbagi baginya. "Ada yang mau diceritakan. Lon?"

"Nanti saja selepas kita pulang." Jawabnya singkat.

Suasana kerja kami pun tak seperti biasanya. Walau senyum Lona mengembang setiap kali melayani nasabah, aku yakin hatinya masih sedih. Biarlah, nanti sepulang kerja saja aku membahasnya.

Tepat pukul 19.00, kami pun bergegas siap-siap untuk pulang. Aku pun menghampiri Lona yang masih termenung, "Cantik kenapa?"

Lona pun membenamkan wajahnya di pundakku sambil menumpahkan butir-butir kesedihan dari sudut matanya.

"Kenapa Cantik? Ada apa?" Tanyaku mencoba menenangkannya.

"Brian, Na. Dia ja-hat." Ujarnya dengan tercekat ingus dan tangisannya.

"Siapa Brian? Pacarmu, Cantik?"

Ia pun mengangguk pelan. Kemudian mengelapi hidungnya yang basah dengan tisu pemberianku.

"Oh, kenapa dengan dia?"

"Aku minta putus lewat telepon siang tadi di kantin."

"Loh, kamu yang minta putus, kok, kamu yang nangis?"

"Abis dia bikin sebel."

"Sebel gimana?"

"Sebel soal beberapa hari terakhir ini dia susah sekali dihubungi. Setiap janjian selalu dibatalkan mendadak. Makanya tadi dia nelpon mau ngejelasin semuanya. Alasannya kantor tempat dia kerja menugaskannya untuk lembur. Tapi aku gak terima kalau urusan kerjaan dijadikan alasannya. Kan, dia bisa bilang dari jauh-jauh hari, terkesan dibuat-buatnya. Aku pokoknya sebel banget, Na.

"Apa memang semua cowok seperti itu ya, Na? Aku dengan Brian sudah jalan lima tahun, semenjak kuliah dulu sampai sekarang. Bahkan dia membatalkan pertemuan hari jadi kita dengan mendadak. Siapa yang gak sebel coba? Kamu kalau diposisi aku harus ngapain, Na?"

Aku sempat kaget dengan kondisi sahabatku ini. Dia begitu lain, meledak-ledak takseceria bisanya. Tukang usil dan pengambil hati orang yang ulung. "Ya, yang sabar Cantik. Aku kalau diposisi kamu ya akan sama sepertimu. Curhat dengan kamu, menangis, dan mungkin mengambil keputusan yang terburu-buru seperti kamu tadi siang, putus.

"Tapi bukankah kamu sudah menjalani ini cukup lama. Lima tahun itu bukan waktu yang singkat, loh. Coba kamu pikirkan kembali masak-masak. Apa lagi cincin yang melingkar di jari manismu itu sudah menjadi komitmen dia ke kamu kan?"

Dengan sedikit sesenggukkan Lona mengangguk, "Terima Kasih, Cantik. Kamu sahabat yang baik. Aku mau pertimbangkan dulu. Apa lagi keluarga besar aku dengan dia sudah saling ketemu dan merestui hubungan kami. Terima kasih ya." Dia pun memelukku dengan senyuman dan lesung pipitnya.

***

Perkara semalam sudah membuat Lona lega sepertinya. Dan pagi ini aku menjalani kembali peranku seperti biasa. Stasiun menjadi tempatku memburu waktu. Lagi-lagi pria seperempat abad itu kembali menabrakku.

"Aduh, maaf Mba. Saya buru-buru." Wajah itu kembali terekam dan memelas.

"Oh, iya gak apa-apa." Jawabku singkat.

"Oh ya, Mba yang kemarin ya? Masih ingat Saya?" Tanyanya mengenaliku.

"Ya. Mas yang tempo hari menabrak saya juga." Sebenarnya ini hanya basa-basi saja, tentunya aku hafal betul dia yang menabrak dan menjatuhkan tas jinjingku.

"Iya Mba. Kenalkan nama saya Brian."

Ya Tuhan, adegan sinetron ini terjadi juga dalam kehidupan nyataku. "Oh ya, saya Ratna."

"Mba Ratna mau kemana?"

"Oh, saya kerja Mas Brian."

"Oh, dikirain saya mau jalan-jalan. Maaf soalnya taknampak seperti yang lainnya. Terlihat santai."

"Iya, saya selalu ganti seragam nanti di kantor."

"Oh begitu. Kalau boleh tahu Mba kerja dimana?"

"Saya kerja disalah satu bank di bilangan Jati Negara."

"Oh gitu, tunangan saya juga kerja disana Mba. Lona namanya."

Ya Tuhan, dunia ini begitu sempit. Aku baru sadar pria inilah yang aku bicarakan dengan Lona semalam. Benar namanya "Brian" aku lupa. Dari perangainya dia sopan. Sepertinya hanya miskomunikasi saja Lona.

"Mba... Mba....?" Tanyanya memecahkan lamunanku.

"Oh ya. Lona Ayunda Putri bukan?" Tanyaku penasaran.

"Iya betul, yang kerja dibagian teller."

"Kalau Lona yang itu sahabat saya. Tepatnya teman semeja kerja dengan saya." Benar sudah ini benar orangnya.

"Wah, gak nyangka ya. Bisa ketemuan di sini. Kalau begitu salam ke Lona ya." Senyumnya sambil berpamitan.

Aku pun hanya bisa melambaikan tangan perkenalan singkat itu sambil memegang smart phone-ku yang  telah merekam nomor hand phone-nya. Sungguh takpercaya semua ini bisa terjadi bagai sinetron. Perkenalan nama dan diakhiri saling tukar nomor telepon.

Sesampainya di kantor aku pun mendapati sahabatku Lona sudah berseri kembali. Sudah tentu aku ceritakan perkenalan kami ke Lona. Dan pada akhirnya aku menjadi mediator atau tepatnya juru damai bagi mereka berdua di ujung smart phone-ku. Aku kini menikmati peran baru itu dengan enjoy, demi sahabat dan si pemuda penabrak, Brian.[]

Saturday, December 7, 2013

AKU SUNGAI



Malam ini takseperti malam-malam biasanya. Entah mengapa bisa terjadi? Seorang pemuda seperempat abad bergumam duduk termenung di atas bantaran sungai dekat tempat ia mengais rezeki. Bintang-gemintang takramah menampakkan wajahnya beberapa malam ini. Hanya riak arus sungai yang masih setia menemani lamunan sang pemuda sebagai ujung penghibur dikala letih. Walau sesekali buntalan-buntalan plastik sampah hanyut di sana. "Uh, muak aku melihat semua ini. Ibu kota macam apa ini? Tak-ada yang bisa dibanggakan sungainya." 

Sebotol minuman soda ia tenggakkan kembali untuk yang ke-tiga kalinya, hingga setengah botol yang bersisa. Sambil sesekali ia menendang-nendang batu kerikil ke tengah sungai, bak pemain bola yang sedang berlatih tendangan jarak jauh. "Kenapa dengan semua ini?" Tanyanya resah sambil menarik napas dan menghembuskannya kembali.

Gedung-gedung bertingkat masih berdiri angkuh berjajar di hadapannya. Lampu-lampu itu begitu mewah terpandang dari sudut mata pemuda ini. Kemudian menenggak kembali botol digenggamannya dan menghabiskannya. Meremasnya. Berteriak dalam batin, "Ya, Tuhan ada apa denganku?"

Adib. Ya, pemuda seperempat abad ini bernama Adib Saeful Rizal. Ia berasal dari sebuah kampung cukup terpencil dan jauh dari akses jalan. Apabila ia membandingkan fasilitas sarana umum di hadapannya kini dengan kampungnya sungguh seperti 'bumi dan langit'. Listrik pun belum masuk di sana, jalan-jalan sudah cukup nyaman bagi penduduk setempat yang hanya terbuat dari jejeran batu hasil swadaya masyarakat tanpa lapisan aspal hitam mulus. Teve? Jangan kau tanya soal alat elektronik macam di ibu kota. Di sana barang mewah dan canggih hanyalah radio bertenaga bantu batu baterai. Dan itu hanya Pak Haji Sobur yang memilikinya, juragan kayu.

"Tuhan hamba belum dapat membahagiakan orang tua hamba." Untaian do'a terlantun lirih dan berbisik. Memang gaji seorang kuli bangunan belum dapat mencukupi kebutuhan hidup Adib dan orang tuanya di kampung.

Sunday, November 10, 2013

Ini Malammu


"Fit... Bukankah suasana ini yang kau rindukan?" Sebuah tanya terlontar menghujam nalar namun terlampau lembut tersampaikan olehnya.

Aku hanya bisa terdiam terpaku takberbuat apa-apa. Pertanyaan itu cukup membuat kacau alur pikiranku. Sebenarnya apa maksudnya bertanya seperti itu? Takmenjawab bukan menjadi jawaban, maka aku harus menjawab demi sebuah diskusi kecil yang aku buat sendiri dengannya, "Benar, aku merindukan ini."

"Lantas apa yang ingin kau perbuat saat ini, Fit?" Untuk kedua kalinya ia bertanya dengan nada lembut.

Maafkan aku. Sungguh lidah ini kelu lantaran rasa malu yang mulai menguasai diri ini. Sebenarnya mudah-mudah saja aku menjawab pertanyaan itu. Namun suasana ini yang membuat aku menjadi asing dengan diriku sendiri. "Boleh aku berdiam diri saja disini sejenak?"

"Tentu saja, Fit. Bukankah ini malammu?" Ia tersenyum sambil menahan kain hijabnya yang tertiup angin malam.

Aku pandangi lekat-lekat suasana bertabur cahaya kemilau. Seperti malam-malam di kampungku kalau boleh aku mengibaratkan. Namun sayang aku lihat ini bukan di atas langit sana. Melainkan ribuan cahaya yang berasal dari ratusan rumah penduduk, lampu kendaraan, dan gedung-gedung mewah dari kejauhan sini.

"Kenapa denganmu, Fit?" Ia menoleh sambil tersenyum manis.

Sungguh aku terkagetkan dari lamunan sejenak tadi. "Oh, tak-apa. Aku hanya terheran dengan suasana saat ini. Lihatlah sekeliling kita. Adakah yang kau rasakan ganjil?"

Ia pun mengerutkan dahinya yang licin itu. Heran. Kemudian mencoba membenarkan kacamata minusnya. "Maksudmu, Fit?"

"Lihatlah ini semua. Mereka bercahaya seperti tiruan bintang-gemintang. Aku sempat tertipu dengan keindahan sesaat ini." Jelasku sambil menunjuk satu persatu cahaya tiruan di kejauhan sana.

Ia pun tersenyum sambil membenarkan lagi kacamata minusnya, "Tapi bukankah ini indah, Fit?"

Aku menolehnya sambil tersenyum dan mengangguk. 

Memang indah terlihat dari sudut mana pun bila dari kejauhan sini. Tapi apa itu masih berlaku bila mentari terbangun dari ufuk timur sana. Hiruk-pikuk mereka tak setenang saat ini. Ya, setenang kita memandang mereka saat ini, di kejauhan ini. Bukankah malam selalu lebih pandai menutupi sesuatu dibanding pagi dan siang, bahkan saudara dekatnya, sore hari.

"Menurutku ini tak seindah aslinya." Ucapku sambil menatap bintang-gemintang.

"Lantas bukankah kau mengaguminya?" Ia kembali bertanya dengan lembut sambil menatapku lekat.

"Ya, kau benar aku mengaguminya. Namun bukankah yang di sana itu lebih indah?" Aku tunjuk kembali keberadaan bintang-gemintang di atas sana.

"Memang indah di sana. Apalagi di balik cahaya itu." Jelasnya dengan lembut.

"Maksudmu?" Heranku berhasil terpancing olehnya.

"Ya, di balik sana. Bukankah kampungmu di sana, Fit?"

"Kampung? Kampungku di provinsi ini, dibagian dari kabupaten yang sedang berkembang. Di sana masih terhampar luas sawah dan hutan yang masih cukup lebat." Jawabku sambil mengenang.

"Maksudku bukan kampung yang itu. Kampung yang aku maksud kampung kita. Kampung sebenar-benarnya umat manusia berasal." Ia tersenyum sambil membenarkan kembali kacamata minusnya.

"Aku tak paham."

"Baiklah. Akan aku jelaskan sedikit tentang kampung yang ku maksud itu. Kampung yang jauh sekali dari kita. Di sana banyak sekali pepohonan yang berbuah ranum setiap saat. Sungai-sungai yang mengalir dengan indah. Terlampau amat nyaman untuk diceritakan, Fit."

Aku bingung dibuatnya. Apa maksudnya dengan kampung yang ia bicarakan ini. Sungguh aku tak paham.

"Kau tahu soal asal kita dari sana? Bukankah kakek buyut kita pertama kali diciptakan dan hidup di sana?"

Aku tertegun dengan kalimat terakhirnya. Dan aku baru saja memahami nalar berpikirnya. "Maksudmu Surga?"

"Ya, Surga, Fit." Senyumnya ramah.

"Lantas apa yang akan kau lakukan setelah sampai di sana?"

"Yang akan aku lakukan tidak lain sepertimu dan yang lainnya. Aku lebih tertarik dengan apa yang aku lakukan saat ini. Saat dimana kau lihat bintang palsumu itu penuh dengan manusia. Di sana. Tempat yang kau bilang malam masih pandai menyembunyikan sesuatu.

"Hirup-pikuk yang kau bilang tak tenang itu. Aku ingin dapat menabung untuk ongkos pulang kampung nanti. Bukankah kita harus memiliki ongkos bila ingin menaiki kendaraan umum demi mencapai tujuan kita? Aku rasa kau paham soal itu."

"Terimakasih, atas diskusi ini. Kiranya kau mau menabung bersama denganku di sana? Di tempat yang aku bilang bintang palsu itu."

"Maksudmu, Fit?" Herannya sambil mengerutkan dahinya yang licin.

"Maksudku saat ini di malammu yang penuh bintang-gemintang ini. Apakah kau mau meraih bintang bersama denganku? Cahaya bintang yang sebenarnya. Ketenangan yang sebenarnya. Penerang hati yang sebenarnya. Dan sudah tentu akan menjadi penerangan kita saat pulang kampung bersama?"

Gadis lembut berhijab di depanku dalam satu meja disebuah kedai kopi dekat puncak bukit itu pun hanya bisa tertunduk dan diam, tak sepandai penjelasannya tadi tentang kampung yang dirindukannya itu.[]

Friday, October 25, 2013

Aku Trianti


Selepas adzan berkumandang dan shalat Isya didirikan, entah angin apa yang membuat telepon genggamku menjerit rewel ingin diperhatikan. Saat itu aku sedang berurusan dengan komputer jinjingku demi menyelesaikan sesuatu hal yang sudah aku janjikan empat tahun lalu, walau kini sudah di ambang lima tahunnya. Mata minusku kini masih sibuk dengan ribuan kata yang terpampang di layar mesin ketik abad dua puluhan ini. Ribuan kata yang telah aku kerjakan tiga bulan kemarin rupa-rupanya masih belum mendapat satu kata yang menghantarkan aku keurusan berikutnya.

Telepon genggam itu tak aku gugu pinta omelannya. Saat ini aku harus fokus dengan komputer jinjingku. Segelas cangkir teh manis hangat selalu setia menemani, walau terkadang ia mulai menjadi pahit dan dingin di ujung penantiannya. Aku tahu gula pasir sedang menjadi barang langka di kamar indekosku. Entah langka atau apa? Yang jelas, aku terasa sudah mulai tak sanggup membelinya. Uang saku bulanan sudah habis untuk biaya tambahan membeli tinta dan kertas. Tapi apa boleh buat air panas seduhan sudah terlanjur teracik, namun organ mulut ini hanya sempat menyasapnya tiga kali saja. Atau jika kurang manis aku campurkan saja tinta sebagai pengganti pemanis? Karena tinta dibeli berasal dari biaya belanja gula pasir yang manis itu.

Nada jeritan rewel telepon genggamku sudah beberapa menit terdengar nyaring. Senyap. Nyaring lagi. Hening kembali. 

Thursday, September 26, 2013

Ikrar Persahabatan di Car Free Night

Sore itu tepatnya saat mentari mulai terpejam, dua orang gadis menyusuri trotoar Jalan Singawinata. Mereka begitu berseri-seri sibuk berjalan sambil membicarakan banyak hal seperti kebanyakan kebiasaan gadis lainnya. Pertemuan ini sudah mereka rencanakan sebulan yang lalu pada hari kesibukan mereka masing-masing. "Lona, akhirnya kita mau sampai." ujar Nuril sambil menunjuk pusat keramaian yang mereka cari. 

Rimbun pepohonan begitu meneduhkan suasana saat itu. Ditambah banyaknya aneka ragam jajanan kuliner yang cukup menggiurkan mata mereka. Semarak lampu-lampu lampion hiasi jalan begitu teduh menerangi langkah pejalan di bawahnya. Sudah tentu suasana ini membuat semakin bercahaya dibalik kaca mata minus mereka. Riak-riak air Situ Buleud membuat perjalanan jauh tak terasa melelahkan. Sungguh Car Free Night yang menyenangkan.

Lona saat itu mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang berwarna putih berpadu dengan biru langit yang anggun dipadukan celana jins abu-abu pudar dan kerudung biru muda bermotif kotak-kotak begitu sangat cocok dengan warna kulitnya yang sawo matang. "Kamu cantik, Na." puji Nuril sambil tersenyum selepas melihat dengan seksama sahabatnya ini.

Monday, August 26, 2013

Duloh Sang Makelar Penakluk Trio Serigala Berbulu Karung Beras


"Gimane ini bisa kejadian, ane komplain kalau begini!" Duloh berapi-api sambil menegangkan urat kerongkongannya. Matanya terbelalak memerah karena darah dalam tubuhnya telah mendidih sampai ke ubun-ubun. Rambutnya yang keriting nyaris keribo makin tak karuan bentuknya, bisa dibilang mirip sarang tawon belasteran dengan sarang burung. Ia berteriak-teriak dan meracau sepanjang jalan seperti orang yang kesetanan. Langkahnya yang panjang terlihat sempoyongan seperti pemabuk ulung yang telah menenggak puluhan botol cairan alkohol murahan. "Kemana lu? Ke ujung dunia juga ane jabanin!!" racaunya.

***

Sebuah kampung yang tak ubahnya seperti desa-desa lain di Nusantara. Disana tumbuh dengan subur pepohonan yang rindang dan dihiasi buah-buahan yang ranum setiap masa musimnya. Kampung ini di apit oleh dua sungai yang melintang di depan dan belakang pemukiman warga. Maka tak heran bila sawah begitu membentang disekitarnya dan kolam-kolam ikan begitu banyak menggenang disana. Warganya ramah, saling membantu atau bisa dikatakan soliditasnya cukup kuat.

Kesuburan daerah ini berimbas kepada kesuburan penduduknya. Kemelimpahan ini membuat pemborosan pengeluaran uang pun tersendat. Kebutuhan mereka sudah sangat terpenuhi dengan cukup. Mungkin nyaris hanya belanja pakaian dan perabotan rumah saja yang mereka harus beli ke kota, itu pun hanya setahun sekali mereka lakukan menjelang lebaran. Untuk urusan kebutuhan makan sudah sangat cukup di lumbung-lumbung mereka. Kampung yang aman sentosa ini bernama Kampung Desa Buncit.

Pagi ini Duloh pemuda berambut keriting nyaris keribo menyasap segelas kopi di warung kopi Bang Jupri. Pemuda yang berprofesi sebagai makelar jual beli tanah ini begitu gemar dengan kopi dan terlebih itu buatan Bang Jupri. Warung yang tersohor dengan sebutan warung kopi ini entah mengapa disebut warung kopi, padahal barang-barang yang dijajakkan amat banyak. Mulai ciki lima ratus perak, aneka goreng-gorengan, kacang bungkus, sampai jual alas kaki yang tak lekang oleh waktu -sendal jepit-. Memang warung ini sudah tersohor dengan kenikmatan minuman hitam pekat racikkan pemilik warungnya. "Emang gak ada duenye dah kupi buatan ente, Bang!" Duloh memuji segelas minuman di tangannya sambil mengacungkan jempol ke empunya, Bang Jupri.

Warung ini selain pusat jajanan merupakan pusat informasi di kampung yang secara hirarki penamaan amatlah ganjil itu -Kampung Desa Buncit-. Karena tiap saban hari warga disana hilir-mudik menyambanginya. Bila di kota ada cafe yang sering digunakan meeting oleh pengusaha dan orang kantoran, maka di kampung ini pun ada dan itu tepatnya di warung kopi Bang Jupri lokasinya. Mereka sering; jual beli tanah, jual beli ayam, jual beli kambing, jual beli kerbau, bahkan rapat pengurus kampung pun digelar dengan jadwal tetap hari Senin atau Kamis pada jam-jam pagi menjelang siang. Duloh adalah makelar yang sering beroperasi disana. Bila transaksi lancar Bang Jupri sering kebagian uang denger terkhusus dari Duloh sang makelar kondang berijazah tamatan sekolah menengah atas.

Pelanggan pertama Bang Jupri di Kamis pagi ini masih dengan santai menyasap segelas kopi pesanannya. Duloh memang pelanggan setia warung ini kalau untuk urusan ngopi. Bisa dikatakan Duloh-lah pelanggan pagi, siang, malamnya warung tersohor ini. "Loh, kalau ane bikin kartu member kayaknye ente pelanggan pertama yang bakalan ane kasih." canda Bang Jupri sambil sibuk menuang air panas ke termos sebagai persediaan.

"Bisa aje ente, Bang." sahut Duloh sambil tersenyum lebar.

"Udeh jangan kebanyakan senyum! Kupi ane jadi pade sepet nih."

"Beuh, Bang. Emangnye nih kite punya senyum kagak ade manis-manisnya apa?" tembal Duloh yang merubah mimik muka memancungkan bibirnya mirip bebek. Dan mereka pun terbahak bersamaan.

"Oh ya, jam sepuluh entar bakalan ada rapat kagak, Bang?"

"Biasanye sih ade. Cuman kagak tau dah ane."

Duloh pun menyasap kembali kopi hitamnya yang tinggal seperempat gelas itu.

Selang beberapa menit menjelang jam sepuluh, "Assalamualaikum?" salam Munawar dari luar warung sana yang dibuntuti Muldi dan Miun.

"Wa'alaikumussalam." duet Duloh dan Bang Jupri.

"Widih, pagi bener Loh ente ngantor dimari?" tanya Munawar meluncur dengan nada sinis.

"Waduh masih Pagi nih. Mata aje belom mareng-marengnye. Maksud ente apa, War?"

"Santai aje, Loh. Galak bener, becanda kite." Muldi mencoba menenangkan.

Memang Duloh dan Munawar memiliki persaingan sejak di bangku SD sebagai kandidat ketua kelas. Dan Munawar selalu saja memenangkan persaingan ini, karena lebih pandai meyakinkan teman-temannya dengan janji-janji yang cukup manis, semanis permen kojek. Namun persaingan itu sempat memadam di bangku SMP karena mereka berbeda sekolah. Hingga persaingan itu kembali memanas saat pemilihan ketua pengurus kampung setengah tahun lalu.

Duloh menghabiskan kopi terakhir di gelasnya dengan wajah ketus. Dan ia pun berlalu dari warung Bang Jupri meninggalkan catatan kasbon yang bertambah satu gelas kopi dengan kode, "Bang nambah satu ye." Bang Jupri pun selalu memakluminya. Memang catatan kasbon Duloh naik-turun, kadang gak ada-kadang numpuk gak tercatat.

"Bang, kite pesen kupinye tiga yeh sama gorengannye sepuluh." Munawar memesan menu rapat pengurusannya.

-Trio M- julukkan orang sekampung untuk tiga serangkai yang namanya di awali dengan huruf M ini pun memulai diskusi rahasia mereka. Agenda yang sedang hangat mereka bahas adalah soal pembagian beras subsidi pemberian pemerintah pusat secara cuma-cuma untuk warga kurang mampu yang setiap bulannya selalu ada. Dalam rapat ini Munawar sebagai ketua pengurus mengusulkan beras ini untuk tidak dibagikan kepada warga, dengan alasan warga di Kampung Desa Buncit terbilang mapan. Sikap Muldi dan Miun sebagai bawahan pun tidak bisa berbuat banyak, pada akhirnya mereka menyepakati saja dengan alasan ada keuntungan bagi mereka. "Sudah saja kita bagi di antara kita. bagaimana?" usul Munawar dengan nada yang berbisik sejak sepuluh menit awal rapat tadi. Muldi dan Miun pun menganggukan kepalanya saja sebagai kode kesepakatan mereka. Selepas pembicaraan berbisik itu pun mereka meneguk gelas-gelas kopi mereka dengan diselingi obrolan santai lainnya hingga siang menjelang pembubaran rapat mereka.

Sore hari tepatnya di warung yang tersohor di Kampung Desa Buncit lokasinya tak jauh dari permukiman warga, Duloh kembali menyambanginya. Ia baru saja menyelesaikan lobinya dengan sang pembeli tanah milik haji Juki yang dimakelarinya di kampung sebelah.

"Gimane udah rampung, Loh?"

"Masih panjang prosesnye, Bang." jawab lemas Duloh.

"Santai aje Loh. Yang namenye usahe kudu dijalanin terus kalo mau sukses." nasihat Bang Jupri yang gak biasanya ia begitu bijak.

"Iye, Bang." Duloh menyahut disusul anggukannya.

"Loh, ane liat tadi gelagat si Trio M ade yang mencurigakan tuh."

"Mencurigakan gimane, Bang?" tanya Duloh penasaran.

"Ya, gitu. Tadi pas pagi rapat gak biasanye mereka ngobrolnye bisik-bisik. Kalo Abang gak salah denger sih ade bahase beras subsidi dari pemerintah pusat buat orang suseh di kampung eni." jelas Bang Jupri sambil menggaruk-garuk pelipis mata kanan dengan jari telunjuknya.

"Wah bagus dong. kenape harus dicurigain sih?"

"Masalahnye itu beras sama mereka kagak bakalan dibagiin, Loh."

"Yang bener Bang?"

"Iye bener." Bang Jupri menyakinkan pernyataannya.

"Gimane bise. Yang hak kudu mah kudu dapet, kagak beres ini urusan namanye." sergah Duloh berapi-api. Bang Jupri pun hampir terperanjat dari posisi duduknya.

Duloh pun kembali duduk dan berpikir untuk mencoba mencari akal. "Gimane caranye itu beras kudu kebagiin ke warga. Kan di kampung kite ada Abah Sarip yang udeh tue renta, mana anak-anaknye gak ade yang mau ngurusin lagi die. Nah yang kaye gitu kudu dikasih." gusar Duloh dengan nada yang tak beraturan.

"Udeh nih ngupi dulu deh. Biar lempeng lagi pikiran ente, Loh." Bang Jupri mencoba menenangkan sambil menyodorkan segelas kopi tersohornya.

Tanpa banyak cakap Duloh kembali duduk dan menyasap kopi gratisnya. Ya, kopi gratis statusnya bila Bang Jupri yang mengasih langsung tanpa harus memesan.

"Ane punya ide Bang." Duloh mengagetkan Bang Jupri untuk kedua kalinya.

"Ape Loh, ape Loh?"Sergah Bang Jupri.

"Gini Bang, kalo ane besok pagi pura-pura mabok aje? Kan si Munawar dan kawan-kawan paling takut tuh sama orang mabok. Setau ane dulu mereka takut gare-gare pernah di palak sama pereman gang ujung jalan sono. Nah takutnye sampe sekarang gak sembuh-sembuh. Gimane Bang?" Usul Duloh dengan mata berbinar.

"Bagus juga tuh." sahut Bang Jupri sepakat sembari mengacungkan jempol kepada pelanggan setianya ini.

***

Ke-esokan paginya.
"Woi, Munawar apa-apaan lu kagak ngebagiin beras hak warga? Apa lu mau gue beri!" Racau Duloh sambil berjalan sempoyongan di kantor pengurus kampung disusul terperanjatnya Trio M di meja kerjanya masing-masing.

"Kagak, Loh. Bukan maksud gue be..be..begitu." jawab Munawar tergagap ketakutan.

“Terus maksud lu gimane?" tanya Duloh dengan suara diserak-serakkan agak menyentak.

"Iye gue ngaku salah, Loh. Cuman tuh beras udeh gue jual. Terus duitnye udeh pada dibelanjain sama kite semua." jawab koor Munawar dan kawan-kawan miris.

"Ya udeh sekarang klo lu pade kagak bisa balikin tuh beras sama yang berhak, mendingan lu cabut aje dari kampung. Sama umumin bahwa lu pade udeh ngundurin diri pake sepeker masjid!" Sentak Duloh semakin nyaring memegang situasi.

"I..i...iye Loh." tergagap koor Trio M disusul senyuman kemenangan Duloh.

Rencana Duloh dan Bang Jupri pun berhasil dengan ditandai ketiga pengurus kampung itu yang lari pontang-panting meninggalkan jabatan di meja kerjanya.[]

Tuesday, August 20, 2013

Di Meja Cafe....


Meja, aku dan kamu. Sempat kau berpangku tangan diatas meja itu. Segelas es teh manis pesananmu tersisa utuh setengah. Kita telah habiskan waktu berbincang tak tentu arah. Jika kau melihat jalanan di depan sana, seperti itu pembicaraan kita. Ramai, berliku, dan macet merayap. Tapi gerak matamu datar. Hanya sesekali aku lihat dia lincah. Apa engaku malu? Ataukah risih dengan mataku?

Hei, lihatlah meja bundar dihadapan kita. Apa pantas pertemuan kita ini seperti perundingan antar negara yang bertikai? Tapi lengkungan senyummu menjawab itu bukan kita. Ya, ini pertemuan ramah-tamah yang kau pinta lewat sms kemarin. Aku kini sebagai tamu-mu. Kita duduk berdua di sudut dekat jendela yang menghadap jalan di cafe ini. Belum sempat aku menikmati segelas minuman kesukaanku yang berembun dingin, manis dan kecut itu. Disudut lain kau begitu nikmat menyelesaikan tegukkan cairan kecoklatan emas milikmu dengan diselingi senyuman usil menyindirku. "lemon teh, ya mba satu!" itu bahan ejekkanmu berkat logat Sunda yang menempel di lidahku selepas memesan tadi.

Sunday, July 28, 2013

Sebait Tanya Untukmu


Siang itu di Pelataran Masjid Al-Ikhlas cukup ramai tak kalah oleh kesibukkan pasar Ujung Berung. Lalu lalang mobil-mobil besar dan angkot terlihat jelas dari sana. Memang masjid ini berada tepat di depan jalan raya antar kota. Maka tak salah bila pelatarannya menjadi tempat paling favorit bagi para pelancong atau warga sekitar di Bulan Ramadhan untuk sekedar berduduk-duduk dan berselonjoran ria atau berbaring sejenak yang di ujungi dengan bunga tidur. Termasuk Jaman, pemuda kurus berwarna kulit sawo matang itu. 

Jaman memarkirkan sepeda motornya dan memilih beristirahat sambil menunggu waktu Ashar sebelum ia melanjutkan kembali perjalanan pulang kampungnya. Ia memandangi di sekeliling tempat ia terduduk sambil meluruskan kedua kakinya. Rata-rata banyak yang sedang mengobrol dengan tema pembicaraan yang nampak menarik bagi mereka masing-masing. Jaman mengistirahatkan badannya sejenak dengan bersandar ke tembokkan masjid sambil memeriksa HandPhone-nya. Tiba-tiba dua sejoli yang entah siapa nama mereka memilih duduk tepat di depannya. Jaman, pemuda pelancong ini pun tak merasa terusik dengan pemandangan di hadapannya itu.

Jaman sempat sesekali memperhatikan sepasang muda-mudi itu ketika sang wanitanya tertawa kecil manja. Apa sampai ya mereka? pertanyaan muncul dibenak sang pelancong sebatang kara saat itu. Pemuda seperempat abad itu mengusap dahinya yang mulai berair keringat karena panas. Jaket serta rompi anti angin ia buka untuk mendapatkan udara segar. Barang kali masih tersisa udara-udara sejuk pagi tadi khas Bandung.

Ketika angin berhembus, berlalu pula sepasang kekasih anak muda itu. Entahlah, mungkin malu terasa di awasi atau memang tertiup oleh angin. Entahlah.

Tak lama muadzin mengumandangkan tugasnya. Jaman pun bergegas merapihkan barang bawaannya dan bersiap-siap untuk shalat.

***

Thursday, June 20, 2013

Jamal dan Jaman


Gedung berwarna putih berpadu dengan hitam itu masih kokoh bertengger di jalan protokol kota. Gedung yang kembar ini masih nampak ramah meladeni kamera-kamera pengunjung. Dari DSLR, kamera mini poket, sampai kamera HP yang pixcelnya gak seberapa. Tapi mereka senang dengan keberadaan dua gedung ini. Konon namanya Gedung Kembar, maka di depan gedung itu berdiri patung Sakula Nadewa -tokoh pewayangan yang sama kembar-.

Terduduk seorang pemuda di tembok pelataran gedung itu. Pemuda ini berperawakkan kurus dengan potongan rambut belah tengah tak simetris, serta kulitnya yang agak gelap. Ia menenggak setengah isi botol minuman mineral yang baru saja ia beli di warung seberang. 

Pemuda ini perhatikan disekitarnya tepatnya disekeliling gedung kembar ini. Apa ini? Mereka seperti artis yang sedang berdiri di karpet merah saja. Mana acara penghargaannya? Mana piala penghargaannya? Ah, sudahlah mungkin ini yang dimaksud Jamal banci kamera, gumam pemuda ini. 

Rupanya pemugaran gedung tua ini yang sebenarnya hanya sebuah dan disulap pemerintah daerah menjadi kembar memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hisapan jempol bila seseorang yang mau keluar kota dengan menggunakan kereta pasti akan terpusat pandangannya kepada kedua bangunan itu. Ya, karena stasiun berada tepat di belakang kedua gedung tersebut. Bagi pendatang yang baru keluar dari stasiun pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan langka ini, bertemu dengan si kembar.

Pemuda kurus itu masih terduduk sambil membenarkan gulungan tangan kemeja kotak-kotaknya yang berwarna merah berpadu dengan putih dan hijau. Ia melepas lelahnya seharian setelah melahap abis seperempat dari buku-buku sejarah yang tersedia di salah satu gedung kembar. Ya, gedung ini kini berfungsi menjadi perpustakaan kota. Ia mengucek-ngucek matanya yang sudah mulai agak kabur. Badan kurusnya pun ia rebahkan di tembokkan itu sambil memandangi langit sore kota. Lembayung pun kini mulai menampakkan wajahnya dengan anggun seburat samar kekuningan tua.

Monday, June 17, 2013

Just Say Hello

Lama sudah kiranya jemari ini tak mengetik lagi.

Sekedar kata halo dari saya yang tak lebih hanya seorang pemuda baru saja sembuh dari penyakitnya selama dua pekan lalu.

Tak banyak yang saya tulis kali ini. Karena rasa kaku mengetik kembali menjangkit saya.

Do'akan saja semoga dapat menulis cerita fiksi kembali seperti biasa.

Jujur saya hanya ingin berucap jagalah kesehatanmu, kawan. Sungguh mahal sehat itu dan saya merasakannya dua pekan lalu.

Berdiam diri tak bisa melakukan kebutuhan sendiri secara mandiri. Apa-apa harus minta tolong itu tidak mengenakkan, kawan.

Berdiam diri terbaring membuat saya buntu berimajinasi.

Saya harap kawan-kawan semua dalam keadaan sehat walafiat, aamiin.


>>>Segitu dulu salam saya untuk anda yang sehat<<<

Wednesday, May 29, 2013

Sekolah Menengah Atas-Ku : Badut-Badut Siap Pentas

Hari MOS pun berlanjut menjadi sebuah kisah yang sudah sepantasnya siswa baru melaluinya disebuah  sekolah baru. Kenyataan ini kami telan dengan berbekal segala peralatan dan persyaratan yang membuat kami terlihat seperti orang-orangan sawah. Coba lihat saja penampilan kami ini, sepatu kets bertali rapia dengan warna yang berbeda alias beda toko, merah dan kuning. Name Tag bertengger di leher kami yang terbuat dari karton warna merah putih dan tali kur, serta tersemat dengan apik foto masing-masing. Terselempang tas terbuat dari kantung keresek dan tali rapia merah menyilang di tubuh kami. Ini belum seberapa. Lihatlah tali-tali pita kuncir yang menggantung berbeda warna di rambut teman-teman perempuan kami. Kalau boleh saya umpamakan ini seperti tanaman hias yang sering ibu-ibu PKK buat di Balai Desa. 

Pagi itu saya merasa seperti badut yang siap pentas. Bayangkan setiap pasang bola mata dari dalam sampai depan gang tertuju pada -kami- saya dan Ivan teman sekampung yang bersekolah sama, karena penampilan kami tak lazim. Wajah kami nampak merah padam dan itu bukan mek'up. Itu merupakan rasa malu kami yang telah mendidih sampai ubun-ubun dan sudah tidak dapat dibendung. Sungguh konyol penampilan saya saat ini.

Wednesday, May 8, 2013

Cinta Udin Yang Karam

"Kandas sudah cintaku karam dipelabuhannya." keluh Udin pemuda yang baru saja ditolak cintanya. Wanita yang ia sukai kini telah memiliki pangeran impiannya. Lain kata wanita itu menyukai seseorang yang  itu bukanlah Udin. Pemuda yang baru duduk dibangku SMA kelas dua ini begitu menyukai sosok Amel. Ya, Amel seorang gadis yang berkulit putih langsat bagai nona-nona keturunan bule. Gadis ini begitu memiliki tempat dihati Udin. Kisah cintanya selalu kandas apabila Udin mengutarakan maksudnya, lebih dari teman.

Udin begitu menjaga perasaannya dihadapan gadis idamannya. Karena saking seringnya ia menjaga hati dan maksudnya, membuat penantian ini begitu berat. Maklumlah antara Udin, Amel dan seseorang itu saling tak mengetahui perasaan masing-masing. Apa boleh buat cinta segitiga yang saling tak berbalas dan saling tak tahu isi hati  ini begitu terpelihara sejak duduk dikelas satu. 

ATM Dan Tanggal Lahir Yang Terlupa

Malam itu disalah satu bilangan daerah Purwakarta, satu keluarga sedang menikmati liburan. Malam dimana ke-esokkan harinya adalah hari Ahad. Kawasan taman kota menjadi pilihan mereka untuk berjalan-jalan menapaki lingkaran kolam besar bernama Situ Buleut itu. Dengan wajah penuh berbinar memandangi riak air yang memenuhi kolam itu. Sang ayah mengajak keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan seorang putri sedang dalam masa berpertumbuhan. Mereka pun terduduk dengan nyaman dibangku taman yang tersedia sambil menikmati pemandangan yang ada dihadapannya; lampu taman, kilau air, bias-bias pepohonan yang samar terpantul cahaya, serta keramaian car free night.

Keluarga kecil ini begitu menikmati suasana. Mereka menikmati pemandangan ini sambil memakan makanan ringan hasil buah rengekkan putrinya. Sekantung popcorn begitu cukup menemani suasana yang tak didapat dirumah mereka, dipeloksok sana. Sang putri begitu sumringah dengan ajakkan orang tuanya kali ini. Walau hanya sebulan sekali, namun cukup membuatnya senang dan dapat menjadi bahan cerita untuk diceritakan kepada teman sebayanya.

Friday, May 3, 2013

MayDay Sepuluh Menit Lalu



MayDay, hari itu telah berlalu sepuluh menitan yang lalu. Dimana kaki saya menjejakkan lagi di Ibu kota ini. Langit pun telah kembali kelam, malam. Teriakkan mereka tak lagi terdengar bingar. 

Mereka, anda, saya dan kita semua telah terbaring lelap melupakan harapan yang masih menggantung. Bila ada super hero diantara kita saya yakin dia sedang tertidur lelap, kawan. Sudahlah biarkan gulita mendekap kita hingga subuh tiba.

Monday, April 29, 2013

Selokan dan Perahu Kertas

Selokan, Ya sebuah jalur pembuangan yang ada diperumahan atau permukiman. Maksudnya pembuangan limbah air rumah tangga. Pengalaman saya dengan jalur pembuangan yang bernama selokan cukup mempunyai tempat. Masih ingat dengan perahu-perahuan terbuat dari kertas atau bahan material yang lainnya?

Saya selalu terkesan dengan permainan ini. Ya, antara perahu kertas dan selokan depan rumah. Saya dan teman sebaya sewaktu kecil dulu begitu gemar memainkannya selepas pulang sekolah. Riak ombak kecil khas selokan membawa hanyut perahu-perahuan kami menuju hilirnya di ujung gang sana. Tak ayal bila sorak sorai kami merayakan kegembiraan soal perahu-perahu yang melesat lancar terbawa arus menjadi tontonan mengasikkan.

Wednesday, April 24, 2013

Kicauan Tanpa Batas



Twitter, media sosial yang lagi digandrungi. Bukan hanya anak muda-mudi, kakek-nenek juga sekarang sudah memiliki akun pribadi disini. Bisa-bisa para kakek dan nenek sudah siap memberikan warisan dengan berupa akun twitter ber-follower puluhan juta orang. Media sosial yang satu ini bukan hanya dari rentan usia saja bisa dijadikan taraf ukur penggunanya. Ya, profesi pun bisa menjadi bahan pendekatannya. Yang mudah kita mulai dari Mamang-Mamang tukang somay sampai seorang Presiden pun sekarang sudah punya akun dimedia sosial ini.

Coba mari kita lihat apa fungsinya dari setiap pendekatan sesuai usia dan profesinya ini. Oh ya, analisis ini seadanya saja atau bisa dibilang penilaian pribadi saya. Dimulai dari yang termuda, Muda-mudi biasanya memanfaatkan twitter sebagai media curhat, numpang eksis, dan sarana pergaulan. Gak perlu contoh ya? Sebab bila dikasih contoh bisa jadi semua tulisannya berbau dengan bahasa baru di Indonesia, 4l4y. Tidak bisa dipungkiri bahasa-bahasa 4l4y sudah memasyarakat dan itu menjadi salah satu muatan lokal dikalangan generasi muda bangsa ini, mungkin?

Monday, April 15, 2013

Biasakan Akrobat Pada Tempatnya.....

Entah mengapa saya selalu menemui hal yang cukup menarik ketika Pagi. Saat dimana awal pemberangkatan saya menuju tempat yang bernama kantor. Kali ini saya tidak akan menceritakan opini saya tentang tembakau atau pun tentang yang namanya lemon tea. Dua hal yang saling berseteru dalam hal selera saya. Sahabat Budiman pun sudah tahu mana yang saya tidak suka dan mana yang saya suka.

Ok, kembali lagi soal perjalanan saya dengan sepeda motor bebek cap sayap angsa sepotong. Kami melewati lampu merah dan itu biasa. Kami melewati rel kereta api setra portalnya itu pun biasa. Kami lewati pusat pertokoan yang gedong itu pun biasa saja. Kami melewati gedung-gedung sejarah itupun sudah  biasa. Kami melewati tukang surabi, kupat tahu, baso urat, kue onde, cakwe, dan tukang-tukang alias Mamang-Mamang lainnya itu pun biasa saja.

Tapi kali ini saya sempat tergiur oleh kepulan bala-bala, gehu, dan tempe tepung goreng. Nyam nyam. Maklum pagi ini saya tak sempat untuk sarapan. Kalau urusan tukang gorengan memang sulit dihindari. Mungkin ini kebiasaan yang terbawa dari rumah. Setiap pagi kalau dirumah pasti saja ada ibi-ibi yang datang menjajakkan jualannya, gorengan. Memang spesial gorengan dimata saya. Ibarat gehu, gorenganlah lauk cemilan yang juara saat-saat pagi menjelang. Maaf kalau gak nyambung perumpaman saya yang satu ini. :)