Friday, February 21, 2014

Ceritakan Lagi, Kek!


Kisah ini berawal dari sebuah rumah berdindingkan bambu yang teranyam. Di sana Seorang kakek sedang mendongeng sarat hikmah untuk cucu semata wayangnya. Cucu semata wayangnya yang masih gadis kecil. Kakek itu menceritakan sebuah kisah yang berasal dari negeri gurun pasir sana. Sang cucu dengan manja menyandarkan kepala mungilnya di pangkuan sang kakek yang menyayanginya. Dengan sabar sang kakek menceritakan kisah Hanif dan Jalal. Tentu cerita ini pernah didengar oleh kebanyakkan orang atau bahkan kalian belum pernah mengetahuinya? Baiklah begini cerita sederhana itu bermulai.

Alkisah di negeri gurun pasir terdapat sebuah kerajaan yang termansyur. Kerajaan ini begitu makmur pun rakyatnya. Raja di sana begitu adil dan arif serta bijaksana. Singkat cerita di kerajaan itu terdapat  dua orang pelayan atau bisa dikatakan asisten rumah tangga raja. Kurang lebih seperti itulah. Namanya Hanif dan Jalal.

Kedua pelayan ini merupakan pelayan yang amat dipercaya oleh Raja, terkhusus untuk urusan membereskan kamar utama Raja. Kedua pelayan ini sudah lama bersahabat. Teramat lama. Bahkan sebelum mereka lahir ke dunia ini. Ya, sebab kedua orang tua mereka telah bersahabat sejak lama. Bahkan bila mereka terlahirkan lain jenis maka perjodohan sudah terikrarkan oleh kedua keluarga. Namun sayang takdir berbicara lain. Maka pantaslah persahabatan dua pelayan ini kita sebut dengan "persahabatan yang terwariskan." Ini takperlu diuji, lihat saja bagaimana mereka selalu akrab dan bekerja saling melengkapi. Sebagai pengikat persahabatan bayi mereka, orang tua masing-masing mengikatkan gelang persahabatan mereka kepada kedua anaknya. Sungguh indah bukan persahabatan mereka?

Raja selalu puas dan makin percaya dengan mereka berdua. Raja selalu memuji hasil kerja mereka. Kamar selalu bersih dan rapih tentunya sangat amat terawat. Di antara mereka tak-ada persaingan, mereka saling melengkapi. Pekerjaan mereka sama, jabatan mereka sama, dan tentunya seragam mereka pun sama, yang ini karena fasilitas dari kerajaan selalu sama. Sungguh indah bukan persahabatan mereka?

Mereka sudah sangat seperti saudara. Kalau boleh diibaratkan mereka adalah saudara kandung yang terlahir beda orang tua. Perselisihan diantara mereka amat sederhana dan tak-ada hitungan dua menit mereka sudah akur kembali. Indah bukan persahabatan mereka?

Selang tiga tahun kedepan, Hanif dan Jalal kini telah berkeluarga. Mereka hidup bertetangga. Istri mereka pun begitu cepat akrab. Suasana di antara rumah dua keluarga itu amat menyenangkan. Teramat nyaman untuk diceritakan. Mereka saling berbagi ketika berkelebihan makanan atau barang. Sungguh persahabatan yang menular.

"Indah bukan persahabatan mereka?" Tanya sang kakek dengan senyuman terbaiknya kepada sang cucu, gadis kecil yang manja di pangkuannya.

"Iya Kek. Indah sekali." Seketika menegakkan badan mungilnya yang terrebah tadi dengan girang. "Teruskan lagi ceritanya, Kek!" Pintanya dengan manja.

"Baiklah. Kamu rupanya sudah tak sabar ya, Cu." Tembal sang Kakek dengan sabar.

Disuatu hari sang raja begitu memuji-muji berlebihan hasil kerja Hanif yang kala itu membersihkan kamar raja seorang diri. Kebetulan pada saat itu Jalal dalam kondisi kurang enak badan dan berpesan pada sahabatnya untuk izin tidak dapat membersihkan kamar raja seperti biasanya. Tanpa disangka kabar ini sampai kepada Jalal yang sedang terkujur lemas dirumahnya. Alhasil dalam dada Jalal ada perasaan yang takseperti biasanya. Perasaan ini seperti tersaingi. Perasaan yang merasa didepak dari tugasnya. Perasaan yang amat takbersahabat. Sungguh perasaan ini memakan habis rasa persahabatan yang telah mendarah daging dan terwariskan ini. Sang istri dengan cepat menghasut Jalal dengan menyumbang ide untuk menjatuhkan Hanif sahabat karibnya ini. "Sudahlah Bang. Kita kerjai saja Hanif. Sepertinya ini akal bulusnya dia agar bisa menyingkirkan abang darinya." Hasut istri Jalal sambil memijit punggung suaminya.

Dalam hati kecil Jalal masih takhabis pikir dengan ide sang istri. Begitu teganya menghianati sahabatnya sendiri. "Masak Jalal seperti itu Dik?"

"Kalau begitu dia tidak akan menjerumuskan Abang seperti ini, dong."

"Menjerumuskan gimana Dik?" Jalal mulai heran dengan pola pikir istrinya.

"Abang polos amat. Si Hanif cuman manfaatin sakitnya Abang saat ini biar dapet perhatian lebih dari raja. Masak Abang gak ngerasa?"

Rupanya Jalal gelap mata dan termakan hasutan sang istri. Tanpa panjang pikiran mereka berdua membuat strategi untuk menjatuhkan Hanif di depan Raja.

"Udah Bang kita buatin masakkan kesukaan dia saja. Gimana?"

"Terus?"

"Ya, udah kita saranin aja dia untuk menutup mulutnya dengan tangan kalau menghadap Raja. Bilang saja kalau mulut kamu membuat bau Raja. Bagaimana?"

Dengan wajah riang penuh dendam Jalal pun setuju.

Selepas malam, Jalal mengundang makan malam sahabatnya beserta istri dirumah sederhananya. Kali ini hidangan yang tersaji berlauk-pauk serba jengkol. Tentu ini membuat Hanif begitu merasa dijamu berlebihan. Namun Hanif selalu menerima apa saja yang diberikan oleh tuan rumah ketika bertamu. Tentunya yang tersaji di depan matanya adalah hidangan kesukaannya dan istri.

Mereka pun menyantap bersama hidangan yang ada dengan lahap. Sela-sela hampir hidangan habis Jalal berpesan kepada sahabatnya, "Hanif, kau besok sepertinya harus menutup mulutmu ketika bertemu dengan Raja."

"Kenapa memang Jalal?" Tanya Hanif dengan tanpa curiga.

"Ya, karena jengkol ini." Jalal menjelaskan sambil mengacungkan sebiji jengkol santapan mereka saat itu.

"Oh iya. Tentunya Raja takmau kebauan karena mulutku ini."

"Nah itu dia yang kumaksud, sahabatku. Kalau aku kan aman karena takkan masuk besok dikarenakan masih kurang enak badan." Jalal pun mengiyakan dan disusul gelak tawa seisi rumah.