Friday, February 24, 2012

Uzlah ku.

Kota pensiun yang ku pijak ini begitu tak wajar. Lihat saja jam digital kubus dekat -CPU- ku itu terpajang menggerutu. "31,5 c ini tak biasa!" ketusnya.


Debu-debu itu berterbangan dengan lenggangnya. Hujan? Itu hanya cerita lalu.

Matahari begitu sakti dengan bulatan sempurnanya. Ah, tak kuasa mata ini memandangnya!

Bulir-bulir keringat bergelayutan di kening, hidung, bahkan ketiak. Lengket sudah sekujur tubuh.

Tapi....

Anak-anak tangga pendopo itu, suguhkan ketentraman. Coba kau perhatikan itu baik-baik!

Ombak-ombak kecil dari kayuhan pendayung -getek- dengan anggun bergemulai menyentuh dinding-dinding batu pondasi situ.

Jemari ini rasa-rasanya ingin menyentuh riakkannya, agar panas ini tak kembali menampar.

Selepas pulang nanti, kau menjadi telaga dalam benakku.

Monday, February 13, 2012

Dua Lima Lebih Tiga Bulan...?

Semilir udara pagi senin ini masih sama dengan hari sabtu kemarin. 04 Februari 2012, tanggal bersejarah bagi salah satu kakak yang juga sahabat kami. Sabtu pagi itu yang teduh dan penuh kebahagian bagi kami selaku adik-adik kelasnya, menghadiri undangan darinya. Kami tahu kau begitu bahagia, kang. Setiap kami di rangkulnya erat dengan pelukan hangatnya. “Terimakasih, akhi.” Itulah kata-kata yang terlontar darinya dengan senyuman yang tak luntur-luntur setiap kali kami bertutur, “Barakallah, ya Akhi.”

Sahabat yang juga kakak kami ini begitu bahagia di hari itu. Senyum yang sumringah terpajang indah di wajahnya sebagai tanda kebahagiannya yang tak bisa di tutupinya. Dan tak ada salahnya bila sebuah peribahasa -raja sehari- tersandang di pundaknya saat itu.

Kebayoran baru kala itu begitu lapang, tak ada sesak-sesak kendaraan bermotor berjubal sepanjang jalan. Yang kali ini bisa ku bilang seperti jalan terminal simpang di kabupaten asal ku. Sekali lagi kami begitu ikut berbahagia. Lihat saja persiapan kami untuk menghadiri undanganmu, seperti; aku yang telah datang ke Jakarta sehari sebelum acara selepas test lamaran kerja di sebuah bank yang tak jelas kapan akan di panggil lagi, seperti salah satu sahabatku yang datang jauh-jauh dari solo dengan bus antar kotanya yang ngepot, seperti sahabat-sahabat lain dari Bandung dan Majalengka yang berdesak-desakkan memadati satu unit mini bus sewaan yang berkapasitas 10 orang. Terlihat nampak lelah mini bus itu bertengger diparkiran masjid depan gang tempat resepsi. Apalah ini kalau bukan tali ajaib yang telah mengikat kita semua dalam bingkai kekeluargaan.

Saat-saat itu dimana kau menjadi pusat perhatian orang banyak karena begitu menentukan, saat-saat itu jabat tangan mu begitu bergetar terlihat dari sisi mana pun, saat-saat itu kau sempurnakan agama, saat-saat itu begitu menegangkan bagi pria mana pun yang baru melakukannya. -Ijab Qobul- terucap dengan lancar di yang kedua kalinya, Alhamdulilah. Semua yang menyaksikan ada yang menangis terisak-isak karena terharu bahagia, ada yang tersenyum-senyum karena tak sanggup menumpahkan air matanya, dan ada yang meninju-ninju udara di bangku tamu luar tenda dengan berucap tegas tapi pelan, “Allahhu...akbar.”

Sunday, February 12, 2012

SEA Games I comming...!


Animasi by: Fitrah Nurjaman
Berawal dari niat lari-lari kecil di sekeliling bundaran situ buleut, nampak ramai jalur  lingkaran itu. Ahad tepatnya; dimana rasa malas bisa aku bunuh selepas mata ini terobati rasa kantuknya karena secangkir kopi manis kental. 

****

Hop-hop, hop-hop begitu caraku mengatur langkah lari kecil ku agar hemat tenaga tapi tetap eksis berlari. Namun sebelum berlari, ku parkirkan motor bebek andalanku di salah satu rumah saudara. Lengkap dengan; helm kesayangan, dompetku si brangkas buluk, dan SIM serta lengkap dengan STNK (jaga-jaga kalau pak polisi pengen kenalan).  Ku simpan mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi berlari (yah, paling 200 meter-lah).

Putaran pertama masih dengan konsistensi kefokusan yang tinggi dan akselerasi yang cukup pasca pemanasan peregangan otot yang kaku. Rampung sudah ku selesaikan dengan catatan waktu kurang lebih 1 menit 13 detik. Celoteh ku dalam pikir, "wah klo gini bisa ikutan seleksi SEA Games nih tahun depan".

Thursday, February 9, 2012

SENJA ITU.... HUFH, HANYA MIMPI!


Senja kala itu mendung; tak nampak seperti biasanya, namun tak nampak juga datang hujan memenuhi undangannya. Ah,gak bakal hujan. Acil menerka-nerka dalam pikirnya sambil memandang langit senja kala itu. Matanya agak sayup karena lelah yang mendahaga dikerongkongannya serta disibukkan bunyi-bunyian yang berasal dari dalam perutnya; mungkin cacing dalam perut berdemo menumpahkan aspirasinya. "Kapan yah suara itu terdengar lagi?", "Sabar Cil, bentaran juga bakal Adzan Maghrib." Emak mencoba menenangkan  gemuruh perut Acil yang meletup-letup. Memang berat ibadah yang ia kerjakan itu, walau masih dalam taraf pembelajaran di se-usia Acil yang baru beranjak enam tahun.

****

15.19 WIB; "Allahu Akbar, Alla.................hu Akbar." Muadzin bersahutan dari mushola-mushola kampung. Kampung yang mempunyai nama singkatan BBC itu. Awal sore itu, tak jarang penghuni kampung yang tersentak bangun mendengar suara adzan Ashar yang merdu tapi tegas, termasuk Acil yang tertidur di dipan ruang tengah rumah. Mereka duga adzan itu sudah masuk waktu maghrib. "Alhamdulillah, Akhirnya Adzan juga." sahut Acil dengan keadaan setengah sadar sambil merapihkan wajah yang agak kacau setiap kali dia bangun dari tidur. Ia bergegas ke meja makan, tempat paling favorit dari bagian rumahnya saat-saat waktu berbuka puasa. "Loh kok belum ada apa-apa, Mak?", "Ya, belum Cil. Kan ini masih Ashar." Emak mengingatkan. "Wah, masih lama dong ya?", "Udah sana pergi Shalat aja, Cil!", bergegaslah Acil mengambil Wudhu selepas Emak mengajaknya Shalat Ashar.

Monday, January 30, 2012

JKT di 18.30-22.0 PM


“Terminal Kampung Rambutan”, begitulah nama tempat tujuan saya tersemat dengan apik di salah satu papan penunjuk arah berwarna dasar hijau itu. Saya rasa inilah Jakarta di 18.30 Pm. Papan itu semakin menghilang dari pelupuk mata ditikungan tajam arah terminal yang dimaksud. Bus antar kota yang saya naiki ini semakin menurunkan kecepatannya disekitar 20 km/jam. Saya yakinkan lagi keberadaan saya ini dalam hati, kini saya disini. Benar kawan saya disini, Jakarta yang amat kalut.
 
Perlahan saya coba turun dari bus dan menginjakkan kaki di kota ini. Sungguh amat tinggi intensitas mobilisasi mereka. Lihat saja di sekeliling saya, kawan. Mereka gemar sekali mengenakan masker yang melekat rapat menutupi setengah wajahnya, membuat sulit untuk menebak ekspresi saat diajak berbicara. Mereka terbiasa dengan antrian panjang saat sore hari di halte busway. Mereka rela menghibur dirinya dengan membenamkan kedua daun telinganya di head phone mereka. Mereka terbiasa berbicara dengan suara yang harus di lantangkan dan itu lumrah kata mereka karena setiap hari disuguhkan oleh; deru mesin mobil, kelakson kendaran, teriakan penjajak koran dan belum lagi nyanyian pengamen yang silih berganti seperti sudah di jadwal dengan rapih penampilan mereka. Ini sungguh tak biasa bagi seorang pemuda kampung yang mengadu nasib di kota sebesar ini.

Saturday, January 21, 2012

2K5 Langkah Awal Yang Bermakna


Saat ini saya masih berada di Bandung dengan segala memorial yang sulit dilupakan. Dimana dulu, awal perintisan jalur-jalur akademik mulai terukir di Ibu kota provinsi ini. Tapi saya tersadarkan dengan selang waktu yang menghentakkan diri ini dan disaat ini, kawan. Mengingatkan akan segala hal yang sudah kita lalui di “kota perjuangan”. Begitulah para aktivis mahasiswa menyebutnya pada lagu “halo-halo bandung” yang diplesetkan itu. 

Begitu haru suasana saat ini sahabat, bahkan langit di Bandung pun mendung dan meneduhkan semua yang ada di dalamnya. Termasuk para supir angkot yang terus bekerja memenuhi setoran pada majikannya, para satpam yang sedang bertugas di Universitas tempatku menempa ilmu, para tukang parkir sepanjang garis bahu jalan di Dipati Ukur yang sibuk meniupkan periwitan dan melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan para supir, dan para muadzin yang mengumandangkan adzannya di masjid-masjid dekat tempat saya indekos.

Hati ini serasa sudah terikat dengan kekeluargaan yang kita bangun. Sejak awal mengenal laga lingkaran mentoring yang menggairahkan sel-sel otak di kepala dan kelapangan hati yang terukir dengan apik di dada ini. Kenangan ini sungguh sulit saya lupakan, kawan.

Monday, January 2, 2012

Perayaan Tahun Baru, "Setan"

31 Desember 2011,

"Salam kesenangan, buat semua yang diperbudak-nya.", sapa setan di penghujung akhir tahun.

Kawanku, malam ini persis dengan malam dimana puasaku dan puasamu berakhir beberapa bulan yang lalu. Namun gema takbir, tahmid, tahlil tak terdengar kali ini. Bahkan mushola-mushola tak seramai malam itu. Kini semua telah tumpah ruah di jalanan. Dimana saat itu hari perayaan kebebasan aku untuk menggoda mu wahai manusia. kembang api saat ini lebih meriah dibanding -malam takbiran- yang katamu itu hari kemenanganmu, kawan. Sebenarnya kau merayakan hari kebebasanku yang aku biaskan menjadi berbeda ceritanya, yaitu hari kemenangan kau berpuasa sebulan penuh. Sekali lagi ini banyak yang tertipu mungkin juga kau. kawan, ujarnya.

Lihat saja bagaimana antusiasnya mereka mempersiapkan untuk menjelang alih tahun ini. 2012 telah datang kawan dan 2011 hanyalah kenangan, maka lupakan saja semua kenangan itu dan kita berpesta semalam suntuk ini untuk kesenangan yang berikutnya. Akan kita penuhi di tahun berikutnya dengan happy, tak usah kau hiraukan urusanmu dengan Tuhan kita, rayunya.

Lagi-Lagi Soal Cinte...: Politik Emang Butuh Cinte...!!!

"Cinta kepada hidup.... memberikan... senyuman abadi, walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita....... ho.... wo......................" sambil terpejam Eep meresapi lagu yang ia nyanyikan sembari dituntun penyanyi aslinya dari headphone MP3-nya yang terpasang rapat di kedua telinganya malam itu dan tumben syair yang ia nyanyikan benar apa adanya tanpa di rubah tatanan bahasanya ke betawi.

"Woi.... berisik....!!!" koor penghuni kost termasuk aku. Dan Eep pun berbisik sambil meneruskan hobinya yang ia asah diam-diam itu. Aku dekati dia yang masih asik dengan aktivitasnya.

"Ep..., ep.....?" tak di gubris sapa ku olehnya. Ku coba lagi menyapanya dan kali ini dengan volume level 10, "E..ep......"

"Eh..... Iye ade ape?" terpanjat ia sambil membuka headphone-nya.

"Ckckckckck, bener-bener dah ente. Tuh musik ampe bikin telinga ente budek, apa?" Ia pun hanya bisa menjawab dengan senyuman kecil kecutnya.

"Iye, ade ape si? ganggu bener, gak tau kite lagi seneng kali ye?"

"Iiiiidih, die bawaannye jadi sewot...."

tiba-tiba suara keras menyambar di tengah obrolan kami bak petir, "woi berisik...!!!" koor protes penghuni kost yang lain.

Kami berdua hanya bisa saling menatap dengan wajah 'melongo'. "Hihihihi." dan kami susul dengan tawa kecil yang cukup menggelitik ketiak kami.

"Ep, pindah tempat nyok?" ajakku dengan muka geliku.

“Ayo dah. Di mari kurang kondusip." jawabnya dengan logat aslinya.

Teras depan menjadi pilihan paling nyaman buat perbincangan kami yang strata negarawan, klaim kami. Maklumlah Eep adalah seorang pegawai di sebuah perkantoran yang memiliki cita-cita sebagai kepala negara di republik ini. Bahkan saking hebatnya, dia sudah memikirkan strategi politiknya untuk 2 tahun menjelang perhelatan akbar yang akan diselenggarakan dan amat di nanti-nantikan oleh bangsa ini setiap 5 tahun sekali itu. Sedangkan aku adalah si bujang yang berprofesi sebagai mahasiswa semester akhir dengan impian-impian yang masih mengendap dalam benak, namun salah satunya yang telah mencuat adalah menjadi pesaing berat bagi Eep untuk berlaga di pemilu berikutnya. Ya, ini-lah dunia politik kami yang cukup harmonis dan saling menghargai. Aneh memang.

Tuesday, December 20, 2011

"Sepasang Malaikat Menamparku....!!!"


Pagi itu pukul 08.00, ponsel genggamku berdering dengan nyaring dan pada layarnya tertera salah seorang nama teman SMA dulu yang cukup lama kita tak saling menyapa. Tanpa berlama-lama membuatnya menunggu, maka aku jawab silaturahim hangatnya.
"Assalamualaikum, Fit?" sapa ia dengan hangat.

"Wa'alaikummussalam, Sehat Na?" Jawabku sambil menanyakan kabarnya.

"Alhamdulillah sehat. Fit gimana?"

"Alhamdulillah bae juga. Ada ape nih tumben nelpon?"

"Ah, Silaturahim aja."

"Ow, gitu." jawabku

"Gimana nih, Pak panitia. Kapan kita reunian SMA?"

"Iya, masih sibuk nentuin hari nih. Sabar ya, semoga sudah dapat di publish bulan-bulan ini. Na."

Dan kami pun larut dalam obrolan nostalgia SMA. Ia bercerita dan aku mendengarkan sambil menyeduh -tea full cream-, minuman favoritku ketika pagi menyongsong. Ketika ku menikmati minuman yang juaranya setingkat lemon tea. Ya, -lemon tea- minuman dari bahan teh kesukaanku yang lainnya, dimana teh yang di tambahkan sari pati jeruk lemon, emmm... mantap. Ternyata teman lama ku ini membicarakan hal cukup serius yang berawal dari obrolan basa-basi kita di awal telpon tadi. 

Tuesday, December 13, 2011

Pulang Kota

Pagi buta itu, disaat semua tertidur lelap. Sesosok pria seperempat abad sudah melangkahkan kakinya menuju stasiun antar kota untuk tujuan yang hanya ia dan Tuhan tau. Selepas shalat Subuh ia sudah bersolek dan membopong tas ransel andalannya, berisikan; pakaian serta oleh-oleh yang sudah ia siapkan sejak kemarin sore saat pulang kerja. Ia menyundutkan sebatang kretek kesukaannya ke kriket miliknya sambil duduk di bangku calon penumpang yang sudah nampak reyot dengan warna biru pudar kusam. Ia menyasap batang demi batang kreteknya sambil berharap kereta antar kota yang hadir dua kali distasiun tempat ia menunggu datang dengan semua harapannya. Dua kali dalam sehari saja kedatangannya, kawan. -Sang Kereta harapan-; dengan jadwal pemberangkatan pagi dan sore hari; alias pagi buta pukul 05.00 WIB dan sore petang pukul 20.00 WIB. Hanya gerbong-gerbong tua setia itu yang sudi menampung kaum sudra sepertinya. Tragis memang.

Saking jarangnnya, enam bulan yang lalu pria ini memutuskan untuk hal yang sama. Selepas shalat Subuh ia sudah bersiap diri berdiri di stasiun menanti sang kereta harapan, namun karena oleh-oleh tertinggal di indekosnya maka ia pun kembali. Sesampainya di stasiun itu, ia telat 5 menit dan kereta harapan itu telah pergi meninggalkannya, yang terlihat hanyalah pintu belakang gerbong yang terbuka seolah-olah berkata, "selamat tinggal, bye-bye." lenyaplah sudah harapannya di pagi itu dan menunggu kembali sampai sore petang.

Tuesday, November 29, 2011

Lagi-Lagi Soal Cinte... : Dilema


Malam itu semuanya terasa hening dan terlihat nampak cerah-cerah saja, bahkan bintang nampak bergelayutan di langit malam saat ku berbaring di atas kasur ternyaman sedunia, pengklaiman sepihak dari ku. -Humairah- itu dia tempat yang ternyaman di sudut indekos kamarku; untuk saat-saat melepas lelah level sepuluh, mengerjakan tugas-tugas kuliah, berbincang dan menjamu kawan atau tamu yang berkunjung. Karena tak ada sofa seperti di ruangan tamu depan rumahku dikampung. Hanya humairah-lah yang empuknya seperti sofa diruangan 2,5 x 3 meter ini.  Selepas ba'da Isya, sepeti biasa aku berbaring sambil memegang mini pocket diary yang kumal dan sebatang pulpen hitam merk pilot yang tutupnya telah hilang sepekan yang lalu, ku coba gores-goreskan  semua imajinasi dan impianku untuk di catat sambil menengadahkan wajah ke langit malam.

“Nah beres.” lembar demi lembar telah penuh ku tuliskan untuk cerita di Ahad tadi. “Lumayanlah dapet segini.” komentar ku sambil membaca kembali tulisanku dalam hati. Tiba-tiba dikeheningan itu terdengar suara samar-samar dan timbul tenggelam, “Hihihi....... hihihi..... hihihi.....”. waduh... apa lagi nih, gumamku dengan bulu kuduk yang push up naik-turun. Rasa penasaran yang mendera dan rasa ingin tahu sudah meninju-niju didalam benakku. Inginku bangkitkan tubuh ini yang telah merebah dengan nyaman namun terasa sulit sekali untuk dilakukan, seperti tiba-tiba badan ini tertiban dua karung gabah kering atau lebih tepatnya tertiban –Eep- teman ku yang tambun itu, huft beratnya.

“Hop......” ku paksakan saja untuk menegakkan badan ini yang sebenarnya tak terlalu gemuk. Ku pancangkan telingaku untuk mencari sumber suara yang horor dan misterius itu. Setelah ku baik-baik mendengarkannya dan sudah dapat dipastikan sumbernya dari luar ruangan ini. “Cklek” ku intip dari balik gordeng jendela kamarku dengan rasa takut yang merongrong seruangan tempatku berdiri.

“Astagfirullah...” teriakku kaget setelah melihat sesosok hitam besar duduk di depan kursi teras  yang kondisinya remang-remang, maklum lampu lima watt-lah yang bercahaya kuning menggantung di luar sana. 

Saturday, November 26, 2011

SMS Dari Sahabat....

Kemarin aku mendapatkan HP-ku dalam keadaan bergetar dan musiknya terlantunkan dengan kencang. Rupanya aku mendapat sms kiriman sahabat lama dari jakarta, yang berisi seperti ini:

“Aku minta pd Allah swt setangkai bunga besar, dia beri aku kaktus besar berduri.
Aku minta pd Allah swt hewan mungil nan cantik, dia beri aku ulat berbulu.
Aku sempat sedih, kecewa dan protes betapa tdk adilnya ini.
Namun kemudian kaktus berbunga sangat indah sekali dan ulat pun berubah menjadi kupu2 yg cantik.
Itulah jln Allah swt, indah pda waktunya.
Allah tdk memberi  apa yg kita harapkan, tetapi dia memberi apa yg kita perlukan walau kadang SEDIH, KECEWA, dan TERLUKA.”

Jempol Yang Berkata....

Jempol melayang ke-udara dan terpantulkan satelit kembali masuk kelayar monitor CPU ku dan tersangkut distatus ku, sepertinya kali ini si jempol bertebaran dimana-mana dan eksis, gak cuman di dunia maya tapi juga di dunia nyata. Kalau kita makan pasti si jempol di gunakan, kalau lagi nulis si jempol menuntun jari yang lain didekapannya, kalau mau 'nyiuk' Nasi dari dandang si jempol mengomandoi para pengikutnya, dan bila si jempol teracungkan ke atas maka dia mewakili isi hati yang suka dan ramah.

"Jempol.... jempol emang jempolan", menandakan dia si juaranya. Kawan, menimba si jempol pun memainkan peranannya mengacungkan sang ember yang telah lelah menyingkuk air sebanyak-banyaknya dari dalam sumur. Orang bernyanyi ber-akapela SI JEMPOL yang tak di undang pun datang memeriahkan suara lantunan sang penyanyi dengan menjentikan pasukannya.

15 menit Yang Tersisa

Di 15 menit yang tersisa memaksa aku untuk mengatakan sesuatu yang terganjal dalam kerongkongan ku dan tak dapat ku eja dengan baik lewat lidah ku yang sebenarnya tak kelu. Apa benar ini yang namanya bimbang di sudut cemas penantian waktu yang tepat, gumam Komar dalam benaknya.

Saat itu di pematang sawah sunyi senyap ketika mentari sudah mulai tergelincir ke barat dan laju deras selokan irigasi menemani desir angin yang menebak kaki-kaki kurus Komar. wajah lusuh bertabur lumpur sawah sisa membajak dengan kerbau kesayangan -E'neng-. goresan kasar terpahat dengan sembarang di tangan komar yang letih.

. . . Hujan

"Krek..... Krek..... Bruk....." angin menebak pintu kamar kost-an ku yang terbuka kemudian tertutup dan kembali terbuka, kembang kempis daun pintu kamar kost-an ku. Maklum karena hujan baru akhir-akhir ini sering turun di Bandung setiap jam 03.00 Pm ke atas, tepatnya siang menjelang sore.--Bi Roro-- pembantu di kost-an sibuk mengangkat jemuran hasil karyanya tadi pagi buta. "Hujan............ hujan......." teriakan Bi Roro memberi tau penghuni kost yang memiliki  jemuran yang masih basah, sambil gesit mengambil satu persatu pakaian bersih yang keringnya setengah matang dan sebenarnya tak layak untuk di angkat sekarang. Namun apa daya Bi Roro bergegas dengan cekatan menyelamatkan hasil karyanya yang setengah kering itu dari serangan hujan besar, yang tak memberi aba-aba. Gerimis aja dulu kek, gumam Bi Roro.

"Oh, Iya Bi makasih..." terperanjat aku dari kekhusyukan ku membaca novel yang sebentar lagi mau khatam. Ternyata ketika ku tengok ke luar kamar, luar biasa keadaannya. Hujan besar meratakan semua teras didepan kamar, kuyup. Ku palingkan pandangan ke tiang-tiang jemuran, ku dapati kondisinya sudah kuyup semua pakain ku; celana katun, celana jeans, celana training, baju koko, baju kaos tim futsal kelas, kaos kaki andalan, sarung tangan kiper, jas hujan (plonco) yang di jemur bekas hujan kemarin pun kembali kehujanan, bahkan sepatu yang ku simpan di depan kamar dengan niatan bukan untuk di jemur pun basah. Padahal sudah biasa menyimpannya di depan kamar dan biasanya aman-aman saja, bila hujan tak terkena cipratan.

Wednesday, November 23, 2011

Lagi-Lagi Soal Cinte...

Malam Itu aku dapati sahabat ku –Eep- seorang diri di sudut teras indekosku. Ia menatap bintang seolah-olah layaknya si pungguk merindukan rembulan. Dia senderkan kepalanya pada tiang penyanggah yang sudah usang itu dan sebenarnya sang tiang sudah nampak menjerit ketika ia menambahkan beban tujuh puluh kilogram kepadanya. Yah, tujuh puluh kilogram berat badan Eep yang sedikit tambun karena nampak jelas bundaran buncit pada perutnya terlihat dari samping. Ku pandangi lagi sebatang kara ini, rupanya dia putar-putar poni rambut gelombangnya yang tak panjang sebenarnya. Setiap kali ia putar poninya maka gagal-lah ia membuat kuncir-kuncir yang menggambarkan dirinya sedang galau.


Ku beranikan diri untuk memecahkan kesunyian yang mendekapi dia dengan harapan mengetahui seberapa besar bongkahan masalah dalam benaknya yang sedang ia sibuk lamunkan.


“Sob, malem-malem enaknya sih emang liat bintang, tapi lebih enak lagi kalo sambil ngopi full cream dan ngombrol, gimana?” Ajakku mengalihkan perhatiannya.


“Eh Fit, iya ya bener juga.” Ucapnya menyetujui negosiasi ku.


“Ok deh, ane buatin. Tunggu bentaran yeh?”


“Ok, deh Fit.”


Selang lima menit selepas khatam aku membuat kopi full cream yang akan menemani obrolan kita berdua. “Nih Ep, kopi full cream bikin nyengirnya udah jadi.”


“Ah, bisa aja ente Fit.” Tembal Eep yang mulai menyunggingkan senyumnya. Kami pun tertawa bersama larut dalam suasana yang bersahabat ini.


***

Sang Legend si Gapura Kampung

Aku pindah kekampung itu dan kau sambut aku dengan ramah "Selamat Datang", aku pergi merantau pertama kali ke Bandung karena urusan pendidikan ke universitas, kau yang terakhir kali mengucapkan "Selamat Jalan", kau sambut truk punya -A Tolib- dengan keramahan dan kesabaran karena ruang kolongmu pas dengan badan truknya, kau sabar menemani yang sedang meronda karena pos ronda disamping kanan mu, kau menjadi saksi bisu atas kejadian; kecelakaan, iring-iringan pejabat yang melintas, iring-iringan orang yang berlari ria setiap Ahad pagi, obrolan anak muda yang nongkrong dipinggir jalan, dan Iring-iringan barisan gerak jalan 'napak tilas' setiap perayaan Milad Kabupaten tempo dulu di jalan raya depan.

Yah, itu dia GAPURA khas kampungku yang selalu menyambut para pendatang dengan ramah dan santun. Walau tak mewah seperti gapura Kabupaten di pintu masuk kota tapi kau tetap memberikan kesan penyambutan yang ramah. "Wilujeung Sumping" atau "Selamat Datang" kira-kira itulah tulisan yang terpangpang di atas gapura Kabupaten yang megah, tapi gapura kampungku tak sedetail itu dia mengungkapkan rasa ramah penyambutannya. Dia hanya terdiam tegak dan gagah lengkap dengan lambang kabupaten dan lambang provinsi JABAR namun tetap terkesan sederhana dengan atap kenteng-nya, begitu orang sunda menyebut genting.

Lamunan di Gelas-gelas

08.12 PM, Segelas plastik produk minuman teh melamun 3 jam yang lalu setelah ku habiskan perbendaharaannya.

Kemudian ada ahli sejarah di TV bercerita dengan fasih tentang masa lampau yang mungkin telah khatam ia baca buku sejarah Nasional di Perpustakaan Nasional, biar kita kenal dengan bangsa yang Nasional karena pengakuan bangsa-bangsa internasional.

Selama 2 jam sang ahli yang fasih akan sejarah berceramah dan aku terpanah bersama segelas plastik kosong 5 jam yang lalu di wajah TV..... []

 ***

Si gelas plastik minuman produk teh sudah tak setia lagi. Ia pergi bersama sang tokoh yang dikaguminya di Televisi.

 Namun apa yang terjadi tak di duga ada gelas kaca bermotif bola di depanku. Ia  mengulurkan tangannya, tanda ia ingin berkenalan. Layaknya seorang wartawan yang ku lihat di televisi sedang berkenalan lebih dalam dengan seorang tokoh yang akhir-akhir ini sering muncul wajahnya di media masa dan media cetak. katanya sih, tersandung kasus tapi entahlah.


Maka ku ladeni saja sang gelas bermotif bola itu yang semenjak tadi menunggu jabatan tangan ku. Dan ku sambut kekerabatannya dengan ucapan, "Salam kenal, kawan baru". []



(05.00 PM)

***

Andai Ku kutu Lom............. Pat..........

SEJAUH APAKAH LOMPATAN KITA KETIKA DI TEST OLEH GURU OLAH RAGA SD KITA? SO, BAGAIMANA KALAU LOMPATNYA DI KEJAR ANJING YANG SUPER GALAK DENGAN AIR LIURNYA YANG DERAS SEPERTI AIR MINERAL 20 ml TUMPAH DARI  BOTOL....?

Klo boleh usul, kayaknya kejadian diatas memang sangat terjepit banget situasi dan kondisi. Bisa jadi, kita semua pernah yang ngalamin kondisi seperti ini. Cuman yang jadi pertanyaannya kita mampu lompat dengan sukses gak? So, mari kita cari tahu.....

Untuk kejadian pertama : Sejauh apa lompatan kita ketika di test oleh guru olah raga SD kita?
  • Analisanya : Bisa di katakan biasa saja sih klo di targetkan hanya 5 m dengan ancan-ancang 10 m ....... waduh-waduh, ternyata hasil dan usaha gak balance kalau dikaitkan dengan Ilmu Ekonomi. sehingga bisa dikategorikan memang sampai target tapi sebenarnya gak maksimal hasilnya. yah, klo dikaitkan kembali ke Ilmu Ekonomi. yah, minimal Usaha dengan Hasil adalah  (50:50) ini tidak rugi dan tidak untung, atau (60:40) nah, ini baru untung atau bisa di bilang sukses sebagai pelompat ulung. Sehingga dasar yang memotivasi atau penyemangat lebih tepatnya dalam hal untuk menggerakan bobot Body kita untuk melompat saat di  test PenJasKEs adalah nilai yang baik di Rapot untuk mata pelajaran PenJasKes (Hore senangnya, yipi) dan ekspresi wajah guru yang agak kurang menyenangkan dilihat bila kita gagal (mungkin sangkaan kita aja kali yah).

# FB

FB alias Facebook

Dulu mengenal sarana perkawanan ini tahun 2008-an itu juga karena sering ngobrol bareng sama temen-temen kampus. kekakuan mengetik menggelitik rasa ingin tau trik khusus jago berkomunikasi via FB layaknya Dasus 88 mencari para pengantin boom Bali *begitu kebanyakan diluaran sana menyebut para pelaku yang sebenarnya korban paham pemikiran.
Walaupun saat itu baru paham setelah belajar secara mandiri (Mandi Sendiri), itupun baru bisa:
  1. me-link-kan Note serta teman sejawatnya,
  2.  ngobrol via menu obrolan kalau di bahasa Indonesiakan, yang Chat menurut bahasa inggris, klo di Francis disebut discussion instantanee,
  3. update status *berharap dapat jempol dan komen paling banyak biar keliatan orang paling gaul sedunia, 
  4.  dan meng-upload photo, "terus di-tag-in" begitu salah satu temanku menyambar meminta kalau untuk hal yang satu ini, Photo harus di-tag ke dia kalau-kalau ada photo-photonya yang narsis.

Begitulah FB kadang nasibnya menampung cacian seseorang, sanjungan seseorang, nasihat seseorang, dan Curhatnya orang-orang sedunia bukan lagi sekampung, Sob. Mungkin itu sudah bisa mewakili apa-apa yang diterima FB. Banyak hal yang menarik dari FB salah satunya bisa menyambung Silaturahim yang lama tak terjalin karena jarak alias pisah sudah lama. Salah satu korban silaturahim di FB, yah saya ini. semenjak ada sarana ini saya bisa ketemu sama temen-temen masa kecil dulu yang saat itu tak paham apa itu reformasi, retribusi, subsidi, bahkan sampai apa maksudnya peribahasa "tikus berdasi", dan apa itu bedanya Politisi dengan Polisi?